Monday, July 22, 2019

Persaudaraan Musik Cepat Antara BLACK//HAWK & DISFARE Dalam Split Album


"Hardcore Punk adalah lebih dari sekedar musik", adalah sebuah pernyataan yang sering kita dengar dan saya yakin juga diyakini oleh banyak orang yang punya ketertarikan pada hardcore punk. Mendefinisikan hardcore punk sudah tidak bisa sesederhana sebagai sebuah karakter musik yang baku, bahkan hardcore punk bisa lebih luas lagi kita maknai sebagai sebuah budaya. Karena didalamnya tidak hanya mengenai accord gitar, ketukan drum, ataupun suara berteriak, tapi juga ada hubungan persahabatan yang menembus batas - batas geografis didalamnya. Hubungan persahabatan dalam hardcore punk biasanya bisa dipraktekkan dengan membuat sebuah split album.


Black//Hawk yang dibentuk pada tahun 2012 di Palembang sebelumnya telah merilis satu mini album pada tahun 2015. Sementara Disfare yang telah merilis beberapa rilisan sebelumnya dibentuk tahun 2013 di Jakarta. Mereka adalah dua band yang berdomisili berbeda, tapi keduanya sama - sama bermain di ranah spektrum musik yang sama yaitu hardcore punk yang kental dengan elemen grindcore dan powerviolence. Selain itu untuk rilisan Black//Hawk – Disfare Split Album ini bukan hanya bandnya yang bekerjasama, tapi label rekaman yang merilisnya pun melakukan kerja kolaboratif. Mereka adalah dua label independen, Rimauman Music (Palembang) dan Resting Hell (Kediri).
Split album ini dirilis di bulan Juli 2019 ini dalam format cakram padat atau compact disc. Masing-masing band memasukkan lima lagu dalam album berisi sepuluh lagu dengan keganasan yang direkomendasikan bagi penggemar band seperti Spazz, Cursed dan Magrudergrind.

Jika kalian tertarik untuk memiliki rilisan ini, sebelumnya bisa mendengarkan dua buah lagu masing - masing dari BLACK//HAWK & DISFARE yang diambil dari split album mereka.


BLACK//HAWK
Band Contact:

DISFARE 
Band Contact:
instagram.com/disfare_

Rilis single kedua, Miftah Bravenda: Meramal Sebuah Pertimbangan Lewat ADELLINE'S THOUGHTS

Setelah sukses meluncurkan single pertama yang berjudul Fearless, kali ini Miftah Bravenda kembali mengudara dengan karya terbarunya. Masih dari album pertamanya yang akan segera rilis : Comforting Presence. Miftah memilih Adelline’s Thoughts untuk dirilis sebagai single kedua dalam jenjang perkenalan antara dirinya beserta albumnya kepada khalayak luas. Rencananya, album Comforting Presence sendiri akan rilis pada 25 Oktober tahun ini.
​Adelline’s Thoughts sendiri masih berkaitan erat dengan single sebelumnya, yaitu Fearless. Singkat cerita, setelah melawan ketakutan yang cukup runyam dan pilihan yang cukup bimbang melalui Fearless, Miftah mencoba mengajak pendengarnya untuk lebih yakin terhadap apa yang dipilihnya. Lebih khusus, Miftah dalam single ini mencoba meramal, membaca dan memberi presepsi tentang bagaimana kaum hawa berproses dalam melakukan pertimbangan saat melakukan proses pemilihan, terutama dalam kaitan ini adalah persoalan tambatan hati yang nampaknya cukup rumit untuk dimaknai.
Dalam single ini, Miftah menyelipkan lantunan suara yang di sampling dari amplify music dan menjadi tanda penegasan suasana tentang bagaimana sosok Adelline saat bercerita akan pilihan dirinya. Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang baru dalam karya Miftah dan juga semakin menunjukkan bahwasannya musik ambience sendiri bisa menjadi pilihan alternatif baru dalam menjelajahi khazanah musik.
​Lagu Adelline’s Thoughts ini bisa diakses melalui berbagai macam platform musik digital sejak tanggal 5 Juli 2019. Miftah menggandeng seniman ilutrasi Jasmine Andini untuk merepresentasikan sosok Adelline dalam cover single ini. Semua produksi dilakukan oleh Miftah Bravenda di Are You High? Soundlab - Indonesia. Dalam proses mastering, Miftah bekerja sama dengan sound engineer Mark Bihler yang mengerjakannya di Calyx Mastering, Berlin – Jerman.




Sunday, July 14, 2019

Kenangan Manis AFTER SEPTEMBER Dalam Single A.S.A

AFTER SEPTEMBER adalah band yang memberi gambaran pas ketika kita berbicara mengenai Singkawang, kota asal band tersebut. Bukit hijau yang bertemu dengan pantai berpasir putih, kota yang dipenuhi kelenteng dan jalan - jalan kecil nan lengang, dan warung kopi sederhana yang bisa ditemui disemua sudut. Setelah setahun yang lalu mengeluarkan sebuah single yang berjudul Cakrawala. AFTER SEPTEMBER kembali dengan sebuah single baru berjudul A.S.A. Melalui lagu ini mereka mencoba membangkitkan kembali berbagai kenangan-kenangan manis dari masa lalu yang kemudian dibawa dengan gaya ceria dan sederhana yang dimaksudkan untuk membangkitkan emosi dan perasaan untuk bernostalgia. Membawa kita mengingat kembali akan hal - hal baik, manis, indah, yang pernah kita inginkan dan diperjuangkan dengan sepenuh hati namun tetap tak bisa didapatkan. 

“Habiskan segala keraguan, untuk tetap bersama. 
Cerita yang tak terungkap oleh kata, rasakan hentinya waktu.”
After September - A.S.A

Single A.S.A bisa diakses melalui channel YouTube After September divisualisasikan menjadi sebuah video klip menarik dimana kita juga bisa melihat pemandangan tempat - tempat indah di Kota Singkawang dan sekitarnya. Sebuah lagu yang manis, dibawakan dengan sederhana dan gampang dinikmati. After September punya potensi sebagai pemantik gerakan dari band - band lain di Kota Singkawang. Tentu saja kita semua menunggu album pertama mereka yang sudah direkam dan akan dirilis secara berdikari.

Thursday, July 11, 2019

MANJAKANI Akan Segera Menjelajahi Pulau Sumatera

 
Manjakani sedang menjalani latihan terbuka dalam rangka persiapan tur Sumatera 
Sumber foto : Instagram

Mungkin banyak yang setuju bahwa tur sebagai sebuah ritual ibadah dalam kehidupan bermusik adalah sesuatu yang penting. Kegiatan tur tidak hanya semata - mata dilihat sebagai aktivitas berpromosi ataupun mencari pendapatan melalui manggung, tapi melalui tur juga ada sebuah aktivitas berkelana bersama karya mencari telinga - telinga yang siap untuk menerima. Melalui tur kita mendatangi peluang untuk mengenal betapa luasnya dunia musik dengan macam ragam pelaku musik yang ada di berbagai daerah.

Setelah sukses menemani para perindu melalui single mereka Sabda Rindu dan kemudian mengejutkan kita semua dengan kemunculan mereka sebagai bintang utama dalam materi promosi salah satu perusahaan telekomunikasi, kini Manjakani akan melakukan sebuah perjalanan baru dalam kehidupan bermusik mereka. Melakukan tur menjelajahi pulau Sumatera melalui jalan darat akan segera mereka lakukan pada pertengahan bulan Juli 2019 ini. Selama ini mereka telah melakukan berbagai pertunjukan mulai dari festival besar hingga panggung - panggung akrab dalam ruangan sempit melintasi pulau Jawa dan Bali. Begitu juga di kota Pontianak, Manjakani telah akrab menyapa pendengar melalui penampilan di kampus - kampus, warkop, hingga tepian Kampung Beting. Manjakani akan turut berpartisipasi dalam rangkaian THE ALL TIME TOUR bersama band - band seperti Fstvlst dan Feelkoplo dengan didukung oleh Siasat Partikelir. Akan ada enam kota sepanjang lintas Sumatera yang akan dikunjungi oleh Manjakani. Di masing - masing kota tersebut Manjakani akan tampil di panggung - panggung THE ALL TIME TOUR bersama band - band nasional dan internasional lainnya. 


Sebuah kabar menyenangkan yang patut diapresiasi dan diberikan dukungan. Perjalanan darat melintasi pulau Sumatera bukanlah perjalanan yang mudah. Manjakani akan berada dalam sebuah bis selama hampir setengah bulan bersama dengan Fstvlst dan Feelkoplo. Sebuah pengalaman besar menanti. Sebuah kesempatan bersenang - senang akan dihadapi, ada pertemuan dengan teman - teman dan tentu juga lidah yang tidak sabar untuk mencicipi keragaman kuliner lokal di masing - masing kota. Tentu saja semua itu kemudian hari akan menjadi sebuah pengalaman yang diramu menjadi kekayaan tema dan cerita dalam karya - karya Manjakani.

Untuk teman - teman yang berada di Medan, Padang, Jambi, Pekanbaru, Jambi, Palembang, dan Lampung kiranya dapat menyempatkan waktu untuk hadir dan bertemu sapa dengan Manjakani. Salam rindu.


Sambutlah KANDALA, kekuatan baru dari skena musik Palembang

Datang dari daratan Palembang; dibentuk pada penghujung tahun 2016 lalu, KANDALA adalah darah baru dalam hingar bingar skena musik keras nasional. Melebur riff riff klasik Anti Cimex, Dismember, Nihilist, Dissection, Slayer, Sodom dan Bolt Thrower yang dituang  kedalam tungku hitam perapian, membentuk senyawa kotor lalu ditempa dengan kasar sebagai bahan bakar musikalitas. Perlu diketahui, KANDALA sendiri merupakan interpretasi dari bahasa indonesia yaitu Candala. Yang berarti: rendah, hina, nista. lalu kami representasikan menjadi Kandala, agar aksennya terdengar  lebih tegas ketika diucapkan.


Untuk saat ini KANDALA telah merilis sebuah album berjudul Majal. Rekaman album tersebut dimulai dari bulan September sampai Desember 2018 di Blacksheep Studio kemudian langsung dilanjutkan ke tahap proses mixing & mastering di AD Studio, semuanya berada di Palembang. Dan berita yang menyedihkan adalah, waktu tahap produksi album hampir selesai, drummer Rizki ‘Blastbeats’ Apriananda (1995 – 2019) meninggal dunia. Sebuah kenyataan yang sangat sulit untuk diterima begitu saja, terutama untuk semua yang ditinggalkan, dalam benak tersirat masih menyimpan tanda tanya besar hingga hari ini.

Akhirnya 20 April 2019 bertepatan dengan perayaan Record Store Day 2019, resmi dirilis album Majal dalam format CD (digipack) dibawah naungan Disaster Records. Berisikan lagu - lagu yang menggunakan bahasa Indonesia , mengangkat tema lirik tidak terlalu muluk: seputar realitas keseharian, kritik-sosial-politik yang dirasa bersinggungan langsung dengan kehidupan. Majal sendiri sepakat dipilih sebagai judul album karena sangat mewakili citra Kandala secara esensi sebagai sebuah band. Di dalam sub-bahasa masyarakat Palembang, “Majal” adalah kata yang memiliki konotasi negatif.”


Momentum inilah yang menjadi materi pembelajaran hidup sekaligus sebuah catatan kelam mentalitas perjalanan Kandala sebagai sebuah band. Hingga saat kabar ini ditulis, KANDALA telah merampungkan tur dalam rangka promo album Majal ke berbagai kota di pulau Jawa dan Sumatera. Sebuah gerakan yang patut diperhitungkan dan memantik semangat band - band lain (khususnya) dari luar pulau Jawa untuk juga aktif berkarya dan menyuarakan karya tersebut seluas - luasnya.

Selamat Menikmati. Mari Rayakan, Majal!





KANDALA adalah:
Blastbeats (1995 - 2019)
Sarkasdamus
Darkvert
Discard
Panganoia
“Posisi drums kini dibantu oleh Bimo dari Euphony.”

KANDALA dihubungi melalui :
instagram.com/kandala.ibliss | kandala.ibliss@gmail.com


Ditulis oleh : Ari dan Aldiman Sinaga
Sumber foto dari Kandala dan Disaster Records

Wednesday, July 3, 2019

Menikmati The Yee Dari Sudut Pandang Yang Baru

  
Tahun lalu The Yee mengeluarkan album pertama mereka berjudul Season Of You. Sejak awal kemunculannya ditengah - tengah dunia musik kota Pontianak, band ini memang membawa kejutan. Menghadirkan nuansa electronic dance music dengan format band, alih - alih menghadirkan kerumunan dansa yang liar mereka justru memainkan lagu - lagu yang singalongable. Setahun perjalanan semenjak rilis album pertama tersebut dijalani band ini dengan berbagai dinamika dan benturann dengan realitas kehidupan diluar band.

Tahun ini The Yee kembali dengan kejutan yang baru. Seorang vokalis baru dan juga sebuah lagu baru dengan nuansa musik yang baru. Melalui lagu Point Of View, The Yee tidak hanya mengajak kita untuk mendengarkan mereka yang baru tapi juga membuka mata melihat mereka melalui sudut pandang yang baru.

Lagu Point Of View menghadirkan lebih banyak suara synthesizer yang beragam. Dari segi kualitas suara juga ada kemajuan yang sangat besar. Satu buah lagu yang digarap dengan sangat serius dan didedikasikan dari hati yang peka untuk dia pengguna senyum guna menutup luka. Lagu ini sudah bisa didengar di semua kanal musik digital. Untuk mengenal Lebih jauh The Yee, bisa mengikuti melalui instagram @theyeeband.


Bersyukur atas karya dalam SYUKURAN KARYA

Syukuran karya adalah gigs kolektif dari teman-teman yang berinisiatif membuat sebuah gigs kecil-kecilan di untuk merayakan rilis CD dari beberapa band dan satu solois yaitu, Jhon.S , ROTA (Rise Of The Antelope) , 100 % Idiots (Singkawang) , Sletink Doll (Singkawang) dan ada beberapa band lain lagi yang tampil seperti Bandit, Last Chance dan band aku sendiri Side Effects. Ketika aku datang pukul setengah 1 siang, ternyata sudah ada beberapa teman yang sudah mulai mengangkat alat ke panggung. Venue berlokasi di Djagad Karja, sebuah creative space yang menyediakan tempat untuk kegiatan seperti Rehearsal, Coffeshop, Merch Store dll.  Di tempat ini sudah tersedia sebuah panggung permanen di halaman belakang, sungguh keren sih, memang tempat seperti ini harus ada dan semoga perizinan dengan tetangga dipermudah. 

Kami pun mulai menyusun alat-alat dibantu tambahan teman-teman yang perlahan datang ke venue, tentunya teman-teman yang menyusun alat adalah personil masing-masing band yang akan bermain di acara ini. Menurut Rundown Gigs ini mulai pukul 2 siang jadi menyusun alat harus ekstra cepat dan rapi, dikarenakan kesepakatan perizinan dengan RT hanya sampai Maghrib huhuhu... Meja lapakan pun mulai dibuka, terdapat Zine, Kaset, Emblem, Kaos Dll. Disini pun aku menjual kaset EP band aku yang pernah rilis tahun 2015, lalu re-issue pada tahun 2019 cuma dibuat 15 keping. Uniknya di acara ini teman-teman menyediakan gorengan dan kue
 gratis yang dibeli dari hasil uang kolektif band yang terlibat. Mungkin bagi kalian ini hal yang biasa saja, tapi ini pertama kalinya aku datang ke Gigs dan makan gorengan gratis hmm..

Acara mulai sekitar pukul 2 lewat, dengan Jhon.S menjadi penampil pertama. JhonS membawakan sekitar 4 lagu siang itu, merayakan syukuran EP yang berjudul BERRREFLEKSI. Pokoknya Jhon.S keren!!! Dan selanjutnya ada kami Side Effects, dengan penampilan yang kurang maksimal karena drummer dan gitaris kami berhalangan hadir. Dan yang sangat chaosnya lagi, kami baru mengenal additional drummer dan hanya nge-jamm dua jam. 
Di hari sebelumnya juga kami bermain di Gigs kolektif nya teman-teman TERCEMAR di Cafe Sentul, jadi kondisi kami masih sangat tepar bin capek di acara ini. Kami membawakan 4 lagu sekaligus intro, broken home, tetap pada pendirian, dan cover lagu nya Champion yang berjudul Promises Kept. Sekitar pukul 3 sore tiba-tiba hujan turun, padahal sebelumnya cuaca sangat panas. Teman-teman semua pun langsung bergegas untuk mengamankan alat musik dan memindahkan nya ke lantai atas Djagad Karja. Rupanya lantai atasnya juga keren untuk jadi tempat penyelenggaraan Gigs. Tapi jika kalian jingkrak-jingkrak diatas lantai papannya, akan terasa agak bergetar tuh. Alat musik mulai disusun kembali sambil beberapa dari kami pun mengelap alat-alat yang agak basah.

Band ketiga pun tampil, mereka adalah Sletink Doll dari Singkawang yang merayakan syukuran CD Splitnya dengan 100% Idiots yang berjudul U.R.A.S (United Rebellion Anarchy Singkawang). Mereka berhasil memulai suasana chaos diruangan itu dengan membawakan tiga lagu.  Band keempat adalah band Bandit yang keren, membawakan tiga lagu yang mana salah satunya cover dari Stick To Your Guns"Bringing You Down". Penampilan Bandit cukup membuat lantai sedikit bergoyang karna semuanya lompat-lompat hahaha. Dan kemudian band yang aku tunggu-tunggu akhirnya tampil, ROTA! Chaos!!! Band ini cocok bagi mereka yang suka band-band seperti Discharge, Crutches, Zyanose. Kalian wajib cari tahu mengenai band ROTA ini. Mereka membawakan empat buah lagu cukup membuatku tercengang!!! Band ini keren!!! Oh iya mereka baru saja merilis EP melalui label PTK distribution yang dikelola oleh Drummer mereka sendiri.

 

Seharusnya gigs sudah selesai ketika Maghrib, tapi karena suatu dan lain hal jadi masih ada dua band yang belum perform. Acara pun dilanjutkan sehabis Maghrib dengan Band keenam yaitu 100%Idiots. Gerombolan punk marah-marah dari Singkawang! Membawakan tiga lagu dari CD Splitnya bersama Sletink Doll dan meng-cover satu lagu dari Jeruji"Lawan". Penampilan mereka membuatku bersing-along senang sekali. Dan band terakhir di Gigs ini adalah Last Chance yang udah lama vakum dan rencananya akan mengganti nama band nya setelah Gigs ini. Akhirnya Gigs pun berakhir sebelum pukul tujuh malam. Diakhiri dengan berfoto bareng dan saling jabat tangan,  dan tidak lupa mengemaskan  dan mengangkat alat musik dari lantai atas ke studio di lantai bawah. Sungguh melelahkan dan menyenangkan!
Semoga semakin banyak teman-teman yang berpartisipasi, berminat, dan berkolektif ria agar Ruang-ruang kecil seperti ini akan terus ada!!! Terimakasih juga untuk teman-teman yang udah datang, pogo, beli merch/kaset, dan makan gorengan. Sehat, semangat selalu semuanya yang rela capek-capek di Gigs ini, panjang umur kolektif, DIY 100%!!!!!!!



Ditulis oleh : Ari
Kontributor foto : Ariandi Kesek, Mumu, Aldiman
Video oleh : Aldiman, Mumu, Eru