Thursday, March 7, 2019

CERITE BUDA' BALEK KAMPONG LALU SHARING MANAJERIAL BAND

Anom Sugiswoto(Anom) buda asli tembunik Pontianak. Untuk penikmat musik skala nasional mungkin mengetahuinya sebagai seorang manajer band Shaggy Dog/Dubyouth ataupun penggerak We Need More Stage/We Are The Fans. Untuk jemaat hardcore punk mungkin juga mengenalinya sebagai yang aktif di scene YKHC dan sebagai tukang teriak di band hardcore First Time. Sebagai apapun kalian mengenal Anom, dia adalah sosok yang aktif, supel, berdedikasi, dan tentu saja mau terus belajar. Dan untuk tujuan berbagi dan sama - sama belajar itulah maka pada Senin, 4 Maret 2019 diadakan sharing session bersama Anom yang juga kebetulan sedang balek kampong. Kegiatan ini dilaksanakan di Kedai Bawah dan diinisiasi oleh Atas Bawah Ltd.


Sesi sharing berlangsung dengan sangat santai dimana Anom sendiri pun menekankan bahwa apa yang dibagikannya adalah segala sesuatu yang didapatkan dari pengalaman yang masih sedikit. Tampak hadir teman - teman manajer band Pontianak, personil band, dan juga teman - teman lain yang selalu memiliki ketertarikan pada musik di Pontianak. Anom membuka pembicaraan dengan bercerita bagaimana sejarah masa lalu bersama teman - teman di Pontianak saat itu, hijrah ke Yogyakarta untuk tujuan main skateboard, masuk kuliah, lalu hingga terlibat dalam Kongsi Jahat Syndicate. Anom juga memiliki ketertarikan pada fotografi, sesuatu yang didapatnya dari mata kuliah fotografi dasar di kampus. Berkat perkenalannya dengan Gufi, minatnya pada fotografi itu tersalurkan sebagai fotografer gigs khususnya saat itu gigs - gigs yang diorganisir oleh Kongsi Jahat Syndicate. Ketertarikannya pada fotografi ini membawanya pada sebuah movement pengarsipan fotografi. Aksi nyata dari movement tersebut adalah platform pengarsipan foto bernama WE NEED MORE STAGE dan WE ARE THE FANS.

Aktivitasnya di komunitas musik Yogyakarta itulah yang rupanya turut membawanya masuk kedalam tubuh manajemen Shaggy Dog. Awalnya pun memang masih sebatas aktivitas yang terkait dengan fotografi, namun mungkin karena kesungguhan dan tanggung jawab yang baik Anom akhirnya merambah pada pekerjaan - pekerjaan lainnya. Rasa was - was diakui Anom sering muncul ketika menghadapi kenyataan banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Yang jelas semua itu membawa pengalaman yang berharga buat Anom sendiri. Selanjutnya Anom menjabarkan secara rinci dari hulu ke hilir mengenai manajerial band sesuai kapasitas dan pengalaman yang dia punya di Shaggy Dog. Personal manager, bussiness manager, road manager, head crew, chief crew, crew, sound operator, dokumentasi semua itu adalah jabatan - jabatan standar yang diperlukan oleh band baik dalam lingkup kegiatan tata kelola dan pengembangan maupun untuk urusan manggung dan tur. Anom juga berbagi bahwa seorang manager juga perlu memiliki kebijaksanaan jika band yang diurusi adalah band yang berbasis komunitas. Tentu saja bahaya ketersinggungan karena ada gap itu ada. Manager perlu memiliki komunikasi yang baik dengan para personil band, karena biasanya dan seharusnya personil band adalah yang paling memahami medan yang dihadapi. Teman - teman Pontianak yang hadir juga turut berbagi dan bertanya satu sama lain dalam diskusi kemarin. Contohnya Arbian yang menceritakan pengalaman manajerial bersama Manjakani. Manjakani walaupun sistem kerja dengan jumlah orang yang lebih sedikit cenderung lebih ringkas, tapi perlu memiliki effort yang lebih untuk mempertahankan nilai tawar band demi tercapainya misi - misi band yang sudah ditentukan.



Diskusi terus berlanjut bahkan hingga mendekati tengah malam. Teman - teman yang lain juga terus berdatangan sekedar untuk bertemu dengan Anom. Ada banyak reuni di malam itu. Diskusi pun terus menghangat ketika teman - teman saling bertanya jawab mengenai pengalaman - pengalaman mengenai kendala teknis di lapangan. Seperti Ridho dari Balaan Tumaan yang bercerita mengenai kendala dihadapi ketika harus mengedepankan kualitas yang ingin dicapai walaupun seringkali pihak penyelenggara acara tidak menyanggupi. Yudi sebagai operator sound Manjakani dan beberapa band lainnya di Pontianak juga menyayangkan koordinasi yang sulit dibangun lancar antara talent dan event organizer. Menurut Anom, walaupun satu kasus tidak bisa disamakan dengan band lainnya, tapi memang perlu bagi band untuk memiliki ketetapan dan kekuatan mengenai apa nilai dan kualitas yang akan mereka tampilkan sebagai nilai tawar kepada pihak penyelenggara acara. Jika memang masih ditemukan kebuntuan, perlu proses penyesuaian kembali ataupun taktik lainnya agar tidak ada yang dirugikan.

Pertemuan malam itu akhirnya ditutup setelah kepulan asap rokok didalam ruangan pun tak mampu memberikan solusi yang paling tepat. Yang pasti kegiatan diskusi seperti ini adalah jalan yang baik sebagai salah satu cara untuk membentuk hubungan yang cair antar pihak maupun tongkrongan didalam komunitas musik. "Intinya adalah Semua Bisa Diobrolkan", celetuk Anom dengan logat melayu Pontianak yang kental.

   
Foto oleh : Atas Bawah Ltd



No comments:

Post a Comment