Thursday, March 7, 2019

Catatan sederhana dari Ngobrol Santai RUU Permusikan di Pontianak

Selamat pagi menuju siang teman2....hasil obrolan santai mengenai RUU Permusikan di Parklife, 6 Maret 2019 kemarin, dihadiri oleh delapan orang.
Teman2 yang hadir bersuara sama dalam posisi tidak sejalan/menolak dengan RUU permusikan ini.
Berbagai pendapat dikemukakan teman – teman yang hadir, antara lain :
1.    Banyak pergerakan teman – teman komunitas musik/kesenian sesungguhnya sudah sangat berjalan baik dengan pola kerja berbasis kemandirian. Menurut pengalaman beberapa teman – teman memang ada saja beberapa kali kolaborasi ataupun turut campur tangan pemerintah dalam pergerakan teman – teman komunitas musik/kesenian, tapi pola nya selalu sama, intervensi/campur tangan/”bantuan” pemerintah datang setelah semua yang dilakukan komunitas musik/kesenian sudah berjalan baik secara mandiri.
2.    Memang betul, tanpa RUU Permusikan pun banyak yang dilakukan teman – teman komunitas musik/kesenian sudah mendapatkan tekanan yang negatif dalam bentuk pelarangan misalnya oleh pemerintah melalui instrumen mereka Polisi maupun Satpol PP(aparat). Sebagai contoh acara musik mandiri yang dibuat oleh teman – teman komunitas musik metal/hardcore/punk yang dikelola secara kolektifan. Intervensi aparat hadir dalam bentuk pelarangan misalnya. Atau intervensi lainnya hadir dalam bentuk keharusan mengurus izin keramaian ataupun proses pengurusan izin keramaian yang diperumit. Padahal seringkali jumlah orang yang hadir di acara musik tersebut dibawah 100 orang. Memang betul, teman – teman yang sudah menjalankan kegiatan bermusik secara underground/DIY selama ini tidak pernah terpengaruh dan ambil pusing dengan birokrasi/aparat/pemerintah. Mau seperti apapun pengekangan ataupun larangan dari mereka, teman – teman di komunitas akan tetap aktif bergerak. Tapi satu hal yang perlu diingat jika selama ini pengekangan dan pelarangan oleh mereka itu dilakukan dengan serampangan, maka jika RUU Permusikan sampai disahkan aparat/pemerintah punya legitimasi yang sah dan lebih kuat untuk melakukan pengekangan tersebut.
3.    Sesungguhnya ekosistem musik itu berjalan dengan alamiah. Kita bisa lihat segala perubahan terjadi sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan dari analog ke digital adalah salah satu contohnya. Perubahan ini jika kita mau lihat sesungguhnya justru sudah menghancurkan industri pembajakan itu sendiri. Maka alasan – alasan melawan pembajakan misalnya tidak tepat untuk membuat sebuah peraturan yang isinya justru mengekang kebebasan berekspresi para musisi/seniman.
4.    Standarisasi yang tidak jelas dalam banyak pembatasan – pembatasan yang dibuat dalam RUU Permusikan akan menjadi masalah kedepannya.
5.    Pembatasan – pembatasan yang dibuat oleh RUU Permusikan adalah usaha untuk mematikan teman – teman komunitas musik yang selama ini sudah berkegiatan dengan pola kerja kolektif. Teman – teman komunitas dengan pola kerja kolektif melakukan kegiatannya dari bawah dan dengan spontanitas. Hal ini tidak menjadi masalah dan pola seperti ini juga dilakukan oleh masyarakat bangsa kita, misalnya acara musik ditengah pemukiman warga dalam bentuk pentas dangdut, lomba karoke, maupun disko darurat di depan gang.
6.    Isu RUU Permusikan ini belum terlalu luas gaungnya terlebih lagi belum terlalu dianggap serius oleh beberapa teman dalam lingkar musik/kesenian terlebih lagi oleh masyarakat umum.
7.    Kita perlu mengapresiasi dan terus mendukung kerja kawan – kawan di Komisi Nasional Tolak RUU Permusikan(KNTL RUUP) dengan berbagai macam cara dan sesuai bagian kita.

Setelah melalui mengemukakan pendapat masing – masing dan sesi diskusi santai berjalan dengan baik, teman – teman menyepakati untuk melakukan beberapa usaha sederhana :
1.    Perlu usaha spontanitas dari teman – teman untuk membawa isu ini menjadi konsumsi publik yang lebih luas. Sederhananya jika memang isu ini berbicara mengenai musik, maka perlu disuarakan juga melalui media musik. Aksi – aksi sederhana bisa dilakukan misalnya dengan panggung musik sederhana di ruang publik, Taman Untan dan Car free day misalnya. Atau melakukan acara musik kecil-kecilan di lingkar masing – masing sebagai media berkumpul dan saling ngobrol mengenai isu ini, bisa panggung musik di cafe ataupun Studio Gigs misalnya.
2.    Yang pasti apapun aksi melalui media musik tersebut, teman – teman perlu melakukan pendokumentasian agar aksi tersebut bisa dikabarkan kepada teman – teman lain diluar sana yang mungkin sedang/akan melakukan aksi serupa. Fitur – fitur sosial media kekinian seperti live broadcast bisa menjadi pilihan yang baik.
3.    Teman – teman lintas disiplin kesenian lainnya juga perlu aware dan beraksi dalam menyikapi isu RUU Permusikan ini. Karena misi pengekangan kebebasan berekspresi yang dibawanya sesungguhnya juga akan berdampak kepada teman – teman lintas disiplin seni lainnya.
4.    Melalui diskusi kemarin terlintas ide untuk melibatkan teman – teman seniman visual misalnya dengan membuat artwork/mural/grafitty/tag yang membawa isu penolakan RUU Permusikan. Atau opsi lain sekaligus sebagai upaya membawa isu ini ke publik adalah dengan membuat sebuah template Tolak RUU Permusikan yang bisa diunduh gratis, diedit, dan dipakai oleh siapapun untuk menyuarakan aspirasinya mengapa harus Tolak RUU Permusikan.

Sekian notulen sederhana ini dibuat dengan harapan bisa dibaca oleh teman – teman seluas – luasnya. Lebih dari itu, semoga melalui notulen ini bisa memantik usaha – usaha sederhana dengan semangat kemandirian sebesar – besarnya oleh teman – teman komunitas musik/kesenian/masyarakat umum dimanapun berada.

Salam hangat,
PTK Distribution

No comments:

Post a Comment