Thursday, March 14, 2019

BERMUSIK ASIK TANPA DIUSIK RUU PERMUSIKAN


Design oleh : Dana

Bermusik sejatinya harus asik jangan diusik. Begitulah yang terjadi pada hari Jumat(8 Maret) kemarin dalam acara Bermusik Asik Tanpa Diusik RUU Permusikan yang diselenggarakan oleh Kongsi Musik Pontianak. Acara ini diadakan di halaman samping Djagad Karja, sebuah space yang berisi sanggar seni, studio rehearsal dan recording, toko clothing, dan juga warung makanan dan minuman. Acara ini diadakan sebagai tindak lanjut dari sesi ngobrol santai dua hari sebelumnya oleh teman – teman Pontianak yang membahas mengenai isu RUU Permusikan dari sudut pandang masing – masing. Diujung obrolan mereka sepakat untuk berusaha menyuarakan isu ini dengan berbagai cara yang sederhana mulai dari kepada komunitas musik di Pontianak bahkan jika memungkinkan sampai kepada masyarakat yang lebih luas. Sebagai usaha paling pertama maka acara ini diadakan. Dengan rencana yang mendadak dan waktu persiapan yang sedikit, teman – teman dengan segera membagi kerja untuk memastikan acara ini dapat diselenggarakan. Akhirnya publikasi pun terbit H-1 dengan memanfaatkan segala platform digital yang bisa membantu penyebaran informasi dengan cepat, seperti What’sApp, Instagram, Twitter, dan Facebook.

 



Foto oleh : Harian

Tantangan utama dalam penyelenggaraan acara ini adalah cuaca yang tidak menentu di Pontianak, karena acara ini diadakan di tempat terbuka. Segala sesuatunya terlihat begitu cerah dan berbahagia pada sore hari ketika teman – teman sedang melakukan persiapan teknis untuk penyelenggaraan acara. Namun hujan dengan skala kecil menuju sedang akhirnya turun beberapa saat setelah seluruh alat musik tersusun dan siap dibunyikan. Terpaksa semua harus diamankan ke tempat teduh, sementara diatas panggung diberi pengaman terpal untuk melindungi dari hujan. Akhirnya acara dimulai dengan penampilan dari band folk kearifan lokal dengan semangat perjuangan, Merah Jingga. Band ini melalui akun Instagram dan juga blog mereka sudah bersuara mengenai berbagai isu sosial dan lingkungan, termasuk penolakannya terhadap RUU Permusikan. “Layaknya sampah, maka harus dibuang ketempat sampah, bukan untuk dikonsumsi. Jika memaksakan diri memakan sampah, maka hanya akan menggerogoti tubuhmu kedalam sebuah atau banyak penyakit yang dihasilkan”, begitu pendapat mereka dalam postingan blog yang secara khusus menjadi sikap mereka atas RUU Permusikan.

 

 

 
Foto oleh : Harian

Mandau sebagai penampil berikutnya tetap memberikan performa yang tajam layaknya ujung mata mandau yang siap terhadap konsekuensi darah atas setiap perjuangan melawan ketidakadilan. Deden sang vokalis adalah seorang seniman yang juga berkecimpung dalam seni visual selain bermain musik. Dengan adanya ancaman pengekangan yang sudah nampak melalui RUU Permusikan, bukan hal yang mustahil ancaman yang sama akan terjadi pada lini kesenian yang lainnnya.

Tak lama kemudian intensitas tetesan air hujan meningkat, pengunjung yang tadinya duduk – duduk santai mesra di beberapa kursiyang tersedia di halaman terpaksa harus menepi mencari atap tempat berteduh. Beruntung sekali persiapan pengamanan panggung dan alat musik sudah dilakukan oleh teman – teman penyelenggara. Ditengah – tengah berjalannya acara Ilham selaku MC sempat memantik agar terjadi diskusi dua arah dengan pengunjung yang hadir, namun situasi hujan membatasi. Tama selaku manajer Merah Jingga yang juga kerap kali aktif dalam beberapa aktivitas pergerakan bersama organisasi diluar musik sempat naik ke panggung memberikan beberapa pernyataan mengapa penting untuk menolak RUU Permusikan.

 

 

 
Foto oleh : Harian

Rifqi Lutfian tampil melengkapi suasana malam yang semakin romantis dibawah rintik hujan gerimis. Penyanyi solo akustik ini sudah lama tak terlihat di panggung – panggung musik di Pontianak. Diujung penampilannya, Rifqi sempat menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada urusan pada genre musik dalam menolak RUU Permusikan bahkan dirinya sendiri pun yang membawakan musik pop dan lirik yang cenderung aman tak lepas dari ancaman diskriminasi melalui keharusan sertifikasi yang tertuang dalam draft RUU Permusikan. Penampilan berikutnya adalah dari gerombolan MC yang tergabung dalam kolektif WCB RAP. Joe Da Flash, Otweezta, dan MC Taik Palat kembali memanaskan malam itu dengan rapalan kata – kata. Kolektif WCB RAP sendiri sangat aktif dalam berkarya, sejauh ini memanfaatkan media digital seperti YouTube untuk mendistribusikan karya mereka baik secara kolektif maupun dari masing – masing MC. Penampilan penutup adalah kolaborasi yang kontemporer dari MU7AN. Tampil dengan alat musik yang dibuat sendiri, memadukan alat musik tradisional dayak Sape’ sebagai alat petik dan gesek dengan alat musik tiup dayak Keledi. Dengan bantuan efek looper dan dilengkapi dengan pembacaan mantra menghasilkan suasana yang cukup mencekam. Davy sang pembaca mantra menyatakan ketidaksetujuannya terhadap RUU Permusikan karna musik tidak bisa dipaksakan untuk satu tafsir/interpretasi. Maka sejatinya tidak boleh seorang musisi merasa tidak senang jika ada yang mengkritik ataupun menyatakan tidak suka terhadap karya yang sudah dibuatnya.

Foto oleh : Harian

Seperti yang sudah disebutkan diawal bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk terus berupaya menyuarakan isu pembatalan RUU Permusikan. Maka acara ini bisa dibilang tercapai misi nya namun belum cukup. Pernyataan – pernyataan ketidaksetujuan yang telah disampaikan dari atas panggung tentu sudah tercapai sebagai upaya untuk terus menghangatkan obrolan mengenai kebebasan berekspresi dan ancaman terhadapnya diantara teman – teman pelaku dan penikmat musik. Namun perlu ada upaya – upaya lanjutan, kalau perlu bersama pelaku dari lintas bidang kesenian lainnya, untuk membuat usaha – usaha lain yang lebih variatif dalam menyuarakan isu ini. Mungkin bersama teman – teman seniman visual, videografer, ataupun penulis. Semua harus bersama – sama berbuat dan bersuara, karena ini bukan hanya ancaman untuk para musisi saja, tapi juga kebebasan berekspresi dan berpendapat bagi kita semua.



No comments:

Post a Comment