Saturday, January 26, 2019

KELAS FEMINISME DASAR PONTIANAK



 "Jarang - jarang di Pontianak ade yang kek gini", begitu potongan caption dari feed instagram sebuah akun yang memiliki perhatian khusus kepada isu - isu feminisme. Antara setuju dan tidak juga sih, setuju karena khususnya topik feminisme dibawa ke ruang diskusi yang lebih luwes dan diadakan di tempat nongkrong anak muda ya bisa jadi baru di acara ini saja. Tidak yakin juga, karena kami sendiri mungkin memang masih kurang luas bergaul dengan berbagai lingkar komunitas ataupun organisasi yang memiliki perhatian dengan isu feminisme di Pontianak. 

Penyelenggara acara ini adalah teman - teman yang juga akan mengorganisir kegiatan Women's March Pontianak 2019. Women's March sendiri tahun ini diadakan untuk kedua kalinya di Pontianak. Sebuah kegiatan yang digagas oleh para perempuan dan laki - laki untuk menyuarakan isu - isu tertentu yang berkaitan dengan perempuan. Jadi acara ini sepertinya semacam salah satu dari rangkaian pemanasan sebelum akhirnya kegiatan utamanya akan dilaksanakan pada bulan April.




Andy Yentriyani sebagai pembicara pada acara ini membawa materi dengan sangat santai, jauh dari ekspektasi kami yang sesungguhnya menginginkan suasana "ruang kelas". Walaupun kegiatan seperti ini jarang diadakan di Pontianak, namun pembicara mengakui bahwa dari seluruh partisipan yang hadir malam itu secara umum tidak memiliki konsepsi yang bermasalah mengenai feminisme. Akhirnya pembicara pun mencoba memantik diskusi lebih lanjut dengan bercerita mengenai sejarah feminisme dari mulai gelombang pertama hingga ketiga. 

Melalui paparan sejarah feminisme tersebut memang dapat terlihat bahwa walaupun didasari pada satu tema besar yaitu "penindasan terhadap perempuan", ada pemahaman dan juga pergerakan yang sangat luas dalam feminisme. Hal tersebut juga terlihat dari diskusi yang terjadi di ruang Balai Kopi malam hari itu. Beberapa orang yang entah mengajukan pernyataan ataupun pertanyaan, hadir dengan pandangan dan juga dasar pemikirannya masing - masing. "Masing - masing" disini bukan berarti seluruhnya tidak mempunyai titik temu, semuanya menurut kami masih dapat ditarik satu garis kesimpulan bahwa tidak semestinya baik itu perempuan maupun laki - laki harus direndahkan hanya karena gender. Oh iya, mengenai istilah gender dan seks juga sudah lebih dahulu dibahas pada awal diskusi.

Kami melihat bahwa diskusi malam itu akhirnya berakhir pada pertanyaan "Apa lagi yang mau kita perjuangkan?" dan "Bagaimana kita memperjuangkannya ditengah keberagaman latar belakang dan tujuan kita?". Kami sangat mengharapkan kegiatan lanjutan lagi dari Women's March Pontianak. Kami tidak berharap semua yang hadir akan tunduk sepakat pada satu jalan yang sama, justru sungguh menyenangkan jika sehabis diskusi ini akan semakin banyak lingkar pergerakan yang memperhatikan topik feminisme di Pontianak.


No comments:

Post a Comment