Saturday, January 26, 2019

WCB RAP Melakukan Kolaborasi Yang FUN Bersama TIUP BESI


WCBRAP (West Coast Borneo Rap) komunitas rapper dari Kalimantan Barat(khususnya Pontianak) kembali mengejutkan dengan sebuah karya besar yang segar di awal 2019 ini. Sebuah lagu yang sangat mencerminkan judulnya sendiri "FUN". Menampilkan beberapa 13 rapper yang hampir seluruhnya juga sudah terlihat di single pertama mereka berjudul KHATULISTIWA. Untuk urusan musik, kali ini mereka berkolaborasi dengan sebuah orkes alat musik tiup jebolan kampus pendidikan seni Pontianak bernama TIUP BESI. Kehadiran unsur alat musik tiup disini semakin menambah nuansa klasik hip hop dalam lagu FUN. 


KELAS FEMINISME DASAR PONTIANAK



 "Jarang - jarang di Pontianak ade yang kek gini", begitu potongan caption dari feed instagram sebuah akun yang memiliki perhatian khusus kepada isu - isu feminisme. Antara setuju dan tidak juga sih, setuju karena khususnya topik feminisme dibawa ke ruang diskusi yang lebih luwes dan diadakan di tempat nongkrong anak muda ya bisa jadi baru di acara ini saja. Tidak yakin juga, karena kami sendiri mungkin memang masih kurang luas bergaul dengan berbagai lingkar komunitas ataupun organisasi yang memiliki perhatian dengan isu feminisme di Pontianak. 

Penyelenggara acara ini adalah teman - teman yang juga akan mengorganisir kegiatan Women's March Pontianak 2019. Women's March sendiri tahun ini diadakan untuk kedua kalinya di Pontianak. Sebuah kegiatan yang digagas oleh para perempuan dan laki - laki untuk menyuarakan isu - isu tertentu yang berkaitan dengan perempuan. Jadi acara ini sepertinya semacam salah satu dari rangkaian pemanasan sebelum akhirnya kegiatan utamanya akan dilaksanakan pada bulan April.




Andy Yentriyani sebagai pembicara pada acara ini membawa materi dengan sangat santai, jauh dari ekspektasi kami yang sesungguhnya menginginkan suasana "ruang kelas". Walaupun kegiatan seperti ini jarang diadakan di Pontianak, namun pembicara mengakui bahwa dari seluruh partisipan yang hadir malam itu secara umum tidak memiliki konsepsi yang bermasalah mengenai feminisme. Akhirnya pembicara pun mencoba memantik diskusi lebih lanjut dengan bercerita mengenai sejarah feminisme dari mulai gelombang pertama hingga ketiga. 

Melalui paparan sejarah feminisme tersebut memang dapat terlihat bahwa walaupun didasari pada satu tema besar yaitu "penindasan terhadap perempuan", ada pemahaman dan juga pergerakan yang sangat luas dalam feminisme. Hal tersebut juga terlihat dari diskusi yang terjadi di ruang Balai Kopi malam hari itu. Beberapa orang yang entah mengajukan pernyataan ataupun pertanyaan, hadir dengan pandangan dan juga dasar pemikirannya masing - masing. "Masing - masing" disini bukan berarti seluruhnya tidak mempunyai titik temu, semuanya menurut kami masih dapat ditarik satu garis kesimpulan bahwa tidak semestinya baik itu perempuan maupun laki - laki harus direndahkan hanya karena gender. Oh iya, mengenai istilah gender dan seks juga sudah lebih dahulu dibahas pada awal diskusi.

Kami melihat bahwa diskusi malam itu akhirnya berakhir pada pertanyaan "Apa lagi yang mau kita perjuangkan?" dan "Bagaimana kita memperjuangkannya ditengah keberagaman latar belakang dan tujuan kita?". Kami sangat mengharapkan kegiatan lanjutan lagi dari Women's March Pontianak. Kami tidak berharap semua yang hadir akan tunduk sepakat pada satu jalan yang sama, justru sungguh menyenangkan jika sehabis diskusi ini akan semakin banyak lingkar pergerakan yang memperhatikan topik feminisme di Pontianak.


Friday, January 25, 2019

MANJAKANI Menyapa Kalian Yang Rindu dengan SABDA RINDU


Ada yang belum kenalan dengan MANJAKANI ? Ya silahkan cek profil mereka di Facebook, Twitter, Instagram, ataupun melalui single pertama mereka ASMARAWEDA

Ya, single Asmaraweda bisa jadi adalah salam perkenalan banyak orang dengan Manjakani. Asmaraweda juga yang dalam sempitnya pengamatan saya menjadi pintu perkenalan Manjakani dengan perjalanan bermusik yang lebih jauh lagi. Beberapa kali tampil di berbagai festival musik di luar Kalimantan, setia menyinggahi berbagai panggung dan ruang - ruang kecil nan akrab di lintas Jawa, Bali, hingga Sarawak-Malaysia, semua bisa dibilang bagaikan kelindan yang indah antara usaha dan hasil.

Seiring perjalanan, semakin banyak yang bertanya "Kapan album?" jika kita melihat kepada ruang - ruang interaksi Manjakani dengan para pendengarnya. Sebuah pertanyaan yang wajar. Dan Manjakani pun memang sudah selalu membocorkan melalui akun media sosial mereka mengenai aktivitas mereka dalam proses rekaman album pertama. Kita semua tentu merindukan sebuah rekam karya yang utuh dari band yang selalu kita nikmati penampilannya. Pendengar Manjakani merindukan memiliki artefak karya seni yang bisa terus disimpan selamanya.

Sabda Rindu hadir bagi kalian semua para perindu. Kalian yang merindu pada karya - karya Manjakani, kalian yang menghidupi rindu pada apapun yang kalian anggap layak. Sabda Rindu adalah jawaban bagi kerinduan pendengar Manjakani akan karya - karya mereka. Sabda Rindu adalah sebuah single yang akan menemani kita semua dalam kerinduan untuk segera menikmati album pertama Manjakani, yang kabarnya akan dirilis pada tahun 2019 ini.

Sabda Rindu ini adalah lagu yang sangat bisa dinikmati dengan santai. Judulnya yang tak perlu membuat kita bertanya - tanya, liriknya yang mudah dicerna dan dinyanyikan, dan tentunya siapa diantara kita yang tak pernah merindu? Bagi saya pribadi, ada sebuah misteri sekaligus kejutan ketika mendengarkan Sabda Rindu ini. Manjakani sukses membangun musik di lagu ini dengan membaginya dari awal ke tengah dan dari tengah ke akhir. Dinamika yang berhasil membuat kita tidak larut dalam rindu yang sendu, tapi justru merasakan rindu yang indah sambil menyanyikan "Lalala lalala lalalalala". Lagu ini dirilis melalui saluran YouTube Manjakani Music melalui sebuah video animasi yang bagus sekali karya dari Rami Syahbandi. Menghadirkan visual yang apik dengan warna - warna yang "temaram namun cerah". Meminjam dari seorang teman, istilah yang tepat untuk disematkan pada keseluruhan karya SABDA RINDU ini adalah Dark Yet Cheerful.


Monday, January 21, 2019

ACARA MUSIK PONTIANAK DI AKHIR BULAN JANUARI SAMPAI FEBRUARI 2019

Kolektif Taman adalah sekumpulan muda - mudi yang biasa nongkrong di Tamanese Cafe. Dengan sangat cerdas mereka memanfaatkan segala sarana dan prasarana yang mereka punya untuk kemudian mengubah aktivitas ngumpul belaka menjadi berbagai acara yang melingkupi berbagai ruang lingkup kesenian.

Pada tanggal 26 Januari 2019 akan ada pemutaran video dokumenter mengenai seni tattoo dalam kehidupan suku dayak iban. Dan tentu saja, apalah artinya sekumpulan anak muda tanpa hingar bingar musik. Acara akan dimeriahkan oleh berbagai penampil seperti Ampat talino , Bakau , Merah Jingga , Genovantry , Art of Borneo. Jangan lupa datang, pada tanggal 26 Januari 2019, mulai dari jam dua siang sampai jam 10 malam di Tamanese Cafe.





















Mendapatkan info bahwa dua band punkrock asal Pontianak akan mengadakan acara spesial untuk memperkenalkan dan menyambut kelahiran karyanya masing - masing. 

SKEPTIKAL akan berpesta dalam rangka rilis EP pertama mereka yang berjudul Tegangan Tinggi.

PISTOL FOR MOMS akan berpesta dalam rangka rilis single terbaru mereka yang keren banget (kita sudah dapat kesempatan untuk mendengarkannya duluan).






















Salah satu Cafe yang cukup gaul di kota Pontianak menghadirkan pertunjukan malam minggu yang spesial pada tanggal 9 Februari 2019 nanti. Untuk pertama kalinya SORE akan datang jauh - jauh dari ibukota dan menyapa teman - teman di Pontianak.

Tidak kalah seru dari itu akan ada dua band dari Pontianak dan Singkawang yang juga tampil. Tiberias band synth pop(??) yang cukup aktif dalam berbagai panggung di kota Pontianak selama 2/3 tahun terakhir. Dan juga After September, teman - teman dari kota Singkawang yang akan menghangatkan telinga serta hati penonton dengan alunan nada dan musik yang indah dari mereka.