Monday, October 29, 2018

Pemutaran Film SLAVE TO THE GRIND "A Film About Grindcore" di Pontianak


DIY is Still Alive!!!!!!!!!!!!

Ada banyak hal yang tak pernah terpikirkan bisa terjadi dalam jejaring pertemanan yang disatukan oleh semangat Do It Yourself. Salah satunya dibuktikan dengan pemutaran perdana film Slave To The Grind di 29 kota di Indonesia pada akhir bulan Oktober ini. Dikejar oleh tenggat waktu yang singkat, bermodalkan komunikasi via grup what'sapp dan rasa saling percaya karena punya passion yang sama, orang - orang yang sebagian besar belum saling mengenal sebelumnya bisa merealisasikan sebuah tour pemutaran film.

Tak ketinggalan kota Pontianak juga turut ambil bagian dalam pemutaran film mengenai musik grindcore ini. Walaupun sebelumnya scene musik underground di Pontianak tidak pernah diisi oleh mayoritas band - band grindcore, tapi ternyata antusiasme yang baik masih ditunjukkan oleh simpatisan musik berisik ini di kota Khatulistiwa. Diselenggarakan dengan prinsip gotong royong bahu membahu oleh PTK Distribution, Layar Keliling dan juga Balai Kopi Pontianak sebagai penyedia tempat pelaksanaan. 

Acara dilaksanakan pada Minggu, 28 Oktober 2018 dengan sangat sederhana, santai, bersahabat, tanpa sponsor ataupun tetek bengek birokrasi lainnya. Cukup dengan publikasi digital melalui situs media sosial dan juga aplikasi perpesanan, kira - kira 22 orang hadir pada malam yang menyenangkan itu. Sempat molor sekitar 30 menit untuk menunggu teman - teman yang terpaksa terlambat hadir karena beberapa kendala. Sejak film diputar, para pengunjung sangat menikmati film yang disajikan dengan alur cerita yang merunut sejarah kemunculan hingga perkembangan grindcore. Selesai pemutaran film tidak sempat dilakukan sesi diskusi karena narasumber yang berhalangan. Para pengunjung segera mengumpulkan donasi selayaknya dan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 251.000,- yang akan segera disetorkan kepada koordinator Pemutaran Slave To The Grind Indonesia setelah dikurangi biaya cetak stiker sebagia kenang - kenangan pengunjung.



Film ini digarap oleh rumah produksi Death By Digital yang berbasis di Toronto, Kanada, sejak tahun 2015 silam. Slave To The Grind merupakan film dokumenter sepanjang 100 menit, menceritakan kisah kelahiran genre musik tercepat dan paling agresif di dunia, hasil penggabungan antara musik Punk dan Metal. Slave To The Grind secara primer diputar dalam Calgary Underground Film Festival di Calgary, Kanada, tanggal 21 April 2018 lalu. Sebagai rangkaian promosi, film ini juga telah diputar di berbagai festival musik dan film di berbagai negara diantaranya Obscene Extreme (Ceko), Oakland Deadfest (AS), San Francisco Frozen Film Festival (AS), Grossman’s Fantastic Film and Wine Festival (Slovenia) dan masih banyak lagi.

Pemutaran film dokumenter Slave To The Grind di 29 kota di Indonesia dilakukan dengan cara beragam. Ada yang diselenggarakan bersama acara musik atau membuat diskusi dengan tokoh-tokoh musik setempat. Kedepannya kerjasama yang baik ini akan menghasilkan sebuah database kontak jejaring komunitas musik DIY di Indonesia








Tuesday, October 23, 2018

KONGSI MUSIK PONTIANAK Ngobrol Bareng LAS! "Maintenance Fans"

Photo oleh : Dede Artha

Kongsi Musik Pontianak adalah persatuan para penggiat musik (band/distro/record label/simpatisan) dari komunitas musik Pontianak. Dalam acara Pontianak Ekonomi Kreatif Expo dan Festival Kuliner, Kongsi Musik Pontianak hadir disebuah booth yang menjual rilisan fisik musik dan merchandise dari band - band Pontianak. Selain itu pada malam hari juga diadakan sesi ngobrol santai bersama beberapa band Pontianak.

Pada kesempatan kali ini Kongsi Musik Pontianak ngobrol bareng band LAS! mengenai apa yang mereka lakukan dalam me-maintenance fans.

LAS! adalah salah satu fenomena ditengah pergerakan komunitas musik Kota Pontianak saat ini. Berawal dari sebuah perjalanan mencari tenang setelah bubarnya Lost At Sea band mereka sebelumnya hingga akhirnya mereka mendapatkan pencerahan untuk membawa suara - suara dari tanah kelahiran mereka Borneo. Lagu Borneo Is Calling bisa dibilang jadi titik awal nama LAS! semakin dikenal sekaligus titik awal kemunculan Wild Bornean. Wild Bornean sekelompok pendengar LAS! yang tidak diorganisir ataupun distrukturisasi dengan kaku tapi terbukti bisa terus menjadi sebuah kekuatan dalam siklus kreatif LAS!.


Namun LAS! tidak ingin fanbase mereka pada akhirnya terjebak menjadi sebuah trend belaka, layaknya fanboy/fangirl yang mengidolakan boyband/girlband. Dengan berpegang teguh pada ideologi humanisme, kepedulian akan isu-isu ekologi dan sosial politik, serta tak lupa untuk tetap bersenang - senang terbukti LAS! bisa terus merawat keakraban dan kesadaran bersama Wild Bornean. Salah satu bentuk pengorganisirannya kemudian adalah Borneo Is Calling Foundation sebagai wadah untuk pergerakan/perjuangan sosial di Kalimantan.


Saat ini LAS! sedang berproses untuk rencana album baru yang akan dikeluarkan tahun depan. Untuk sampai pada tujuan tersebut, mereka pun tetap bergerak bersama Wild Bornean untuk mewujudkannya. DIAM DIAM KONSER menjadi sebuah usaha kolektif mereka untuk berbagi energi dan kesenangan di panggung random bersama Wild Bornean sembari mengumpulkan donasi untuk kebutuhan finansial produksi album.

Obrolan lengkap bersama LAS! bisa dilihat di video berikut :

Saturday, October 13, 2018

DÈTENTION merilis single Cult Of Delusionaries

Dua tahun berlalu sejak DÈTENTION merilis album pertamanya ‘Youth Detention Program for Reckless Teenagers’ (2016, Rimauman Music/Necros Records/Resting Hell). Kini mendekati penghujung tahun 2018 DÈTENTION kembali dengan amunisi baru yaitu lagu berjudul “Cult of Delusionaries”. Lagu baru dari band yang menerapkan etos DIY dalam geraknya sebagai band itu menyoroti fenomena gerakan keagamaan sektarian fanatik yang menjadi salah satu dinamika dan problematika politik dunia kontemporer yang kerap berujung dengan konflik yang tak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Lagu itu sendiri adalah bagian dari album kedua DÈTENTION. yang berjudul ‘Lullabies for A Broken World’ yang akan segera dirilis pada bulan Oktober/November 2018 oleh Rimauman Music, Necros Records dan Resting Hell.

Friday, October 5, 2018

Suare dari Kampung Beting, Manjakani Live Session di Tanjung Besiku

Sumber foto : SiasatPartikelir

Tanjung Besiku adalah sebuah tempat di ujung Kampung Beting, Pontianak. Tempat tersebut merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak di Kota Pontianak. Dulu sekali saya hanya bisa berkhayal untuk bisa duduk di Tanjung Besiku dan menyaksikan suasana matahari terbenam yang jatuh tepat dibelakang bangunan Kapuas Indah. Saya adalah salah satu orang yang terpengaruh stigma dan omongan miring dari orang - orang mengenai suasana didalam Kampung Beting. Orang luar dan tidak punya "keperluan khusus" seperti saya ini tentu tidak masuk kesana. Beruntung sekarang sudah ada waterfront/jalan setapak sepanjang tepian Sungai Kapuas di Kampung Beting. Tidak hanya saya sendiri, bahkan saya sudah jalan - jalan dengan Ibu kesana. Tapi tentu kami hanya jalan - jalan dan foto - foto di tepi kampung saja.

Beberapa hari lalu dua sejoli dari MANJAKANI sudah bermain gitar dan berdendang bersama anak - anak dan warga Kampung Beting di Tanjung Besiku. Sangat berharap kedepannya seni musik bisa menjadi salah satu komponen untuk penggerak perubahan di Kampung Beting, selain tentunya mengutamakan hal yang jauh lebih penting yaitu Ekonomi dan Pendidikan.