Friday, September 7, 2018

OUT NOW : FVRQAN - ANTIPATI (EP-PTK1805)


Sebagai sebuah label produksi rilisan musik, kegiatan mencari – cari band yang menarik untuk dirilis adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan. Seringkali yang tidak biasa adalah proses menemukan band yang menarik tersebut. Seringkali yang terjadi adalah menemukan mereka ketika sedang berselancar di dunia maya. Tapi prosesnya berbeda ketika bertemu dengan FVRQAN.
Kami bertemu di meja warung kopi tanpa saling membuat janji. Saya berjanji bertemu dengan seorang teman, teman tersebut berjanji juga untuk bertemu teman lainnya, dan teman lainnya datang menyusul kami bersama seorang lainnya yang belum saya kenal sebelumnya. Dia adalah seorang mahasiswa perantau yang masih muda, tertarik dengan filosofi, memiliki amarah pada dunia, dan satu hal terakhir yang membuat saya langsung antusias adalah dia seorang rapper yang memiliki karya. “Mane aku mau dengarlah lagu kau!”, begitu saya berkata dengan penuh antusias.
FVRQAN (nama yang dikhususkan untuk proyek musiknya) memiliki gaya rappin yang tidak sering saya temui di skena lokal. Entah apa istilahnya, gaya rap dengan merapalkan kata – kata dengan sangat rapat dan bahkan lebih mirip dengan seorang emak – emak yang ngomelin anaknya. Mungkin kalian sudah bisa membayangkannya ya? Ciri lainnya adalah beat yang bernuansa gelap dan juga lirik (ditambah puisi) yang bermuatan sosial politik. Seketika saya dibakar semangat dan diterbangkan kepada ingatan beberapa tahun silam ketika bertemu dengan sebuah proyek solo rapper lain dari Pontianak, yaitu Balada Sungai Kapuas.
FVRQAN adalah Furqan,seorang putra Kalimantan Barat yang merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Pengalaman berhadapan dengan kenyataan yang terjadi di tanah Kalimantan kampung halamannya mungkin bertemu dengan gelora api aktivisme mahasiswa di kota pelajar, sehingga menghasilkan karya – karya seperti yang ada di album ANTIPATI ini.


Dalam album ANTIPATI ini FVRQAN berkolaborasi dengan seniman – seniman Kalimantan lainnya yang dijumpainya di Yogyakarta. Ada Yasir Dayak, Ivo Trias J, dan WAYnd yang menyumbangkan kreativitas hampir di seluruh lagu di album ini. Kehadiran seniman tamu tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah gerombolan yang disatukan oleh identitas “anak Kalimantan” belaka, tapi turut menambah nuansa satir dan amarah yang hadir melalui lagu – lagu seperti Borneo Punah, Antipati, dan Manuskrip Belantara.
Mungkin kita bisa meletakkan kritik pada aspek – aspek teknis di bidang musik ketika mendengarkan karya ini. Silahkan saja, justru hal seperti itulah yang diperlukan. Tapi jangan lupa untuk meneliti juga lirik – liriknya dan kemudian meluangkan waktu untuk mencari tahu mengenai Kalimantan dan bagaimana pulau ketiga terbesar di dunia ini terus rapuh menghadapi ancaman penghancuran.

FVRQAN :
You Tube = Furqan
Instagram = @fvrqan_


Pontianak, 7 September 2018
Oleh : Aldiman Sinaga-PTK Distribution

No comments:

Post a Comment