Monday, August 6, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR "Orang-Orang Gila Itu Bernama Wai Rejected"

Saat diberitahu Ozy (Sonicfuzz/Bianglala) kalau ada band Pontianak yang lagi tur Kalimantan, reaksi saya cuma, “serius?”. Band gila mana yang dengan sukarela menghabiskan banyak waktu, uang, dan tenaga hanya untuk keliling Kalimantan yang skena-nya tidak menjanjikan ini?  Setau saya, dari beberapa band Kalimantan yang sudah melakukan tur, mereka lebih memilih Jawa ketimbang Kalimantan. Alasannya, tur Kalimantan banyak makan ongkos. Tur Jawa dinilai lebih hemat ongkos dan skena disana jauh lebih maju daripada disini. Alhasil kesempatan untuk lebih dikenal terbuka lebar.

Belakangan baru saya tau kalau orang-orang gila ini bernama “Wai Rejected” (WR), yang terdiri dari Dhika (Drum), Edho (Bass), Theo (Gitar/Synth), John Fisher (Gitar), dan Doni (Vokal). Bayangkan, orang-orang gila ini nggak kenal siapa-siapa, tapi berani jalan. Si Alfa (manager WR) bahkan minta kontak anak skena Palangka kepada saya. Dan itu di saat WR sudah (kalau nggak salah) berada di Samarinda. Gila nggak? Harusnya WR masuk rekor MURI nih! Soalnya jadi band Kalimantan pertama yang tur di pulau Kalimantan. Mendengar nama WR, mendadak memori saya kembali mengingat mereka saat main di Global TV, program DCDC Shout Out, pertama kali saya mengenal WR. Dari sana, baru saya tau kalau band Kalimantan tuh, punya taring dan kualitas yang nggak kalah juga di skena nasional.

Sebagai bagian dari Sonicfuzz, saya pun diberi mandat oleh Ozy untuk menjadi penghubung WR dan Sonicfuzz. Setibanya WR di Banjarmasin, tentu saja saya tak sabar bertemu para orang gila ini. Kabarnya mereka nginap di rumahnya Gorey (The Rindjink/Demajors Bjm). Sepulang kerja (jam 9 malam), kamipun bertemu dan ngobrol-ngobrol tentang skena dan segala macamnya. Dari obrolan santai bersama kawan-kawan WR, baru saya tahu kalau skena di Pontianak itu luar biasa kerennya. Selama ini, jujur, saya yang di Banjarmasin tidak tahu menahu tentang skena disana. Mungkin kawan-kawan di Pontianak pun tidak tahu bahwa Banjarmasin juga punya skena. Punya banyak band-band yang keren. Mungkin itulah kurangnya kita di Kalimantan, terlalu fokus ngeliat skena di Jawa. Lupa bahwa di Kalimantan banyak talenta-talenta potensial yang layak dengar dan lihat.

Tak sulit menjadi seorang teman dari WR. Karena pada dasarnya, mereka juga orang-orang gila yang friendly dengan logat yang keren. Hari kedua mereka di Banjarmasin, saya kembali bertemu WR di tempat saya bekerja, I-Radio Banjarmasin. Malam itu jadwal mereka interview sambil akustikan. Dari interview ini, baru saya tau kalau WR, selain gila, juga berbakat jadi komedian. Mereka lucu-lucu. Nggak heran juga, soalnya ternyata salah satu krunya anak Stand Up Comedy. Cuman kalau mereka becanda pake bahasa Melayu, saya cuman bisa nyengir kuda. Yang keren nih, anak-anak WR juga cerita kalau ternyata mereka berhenti kerja cuman buat serius di Band. Luar biasa! Si Edho ngakunya resign dari Bank. Kalau Theo bahkan ekstrim lagi. Berani ninggalin status sebagai “calon idaman mertua” dengan berhenti jadi PNS. Gila lu, Theo. Susah nikah lu, ntar. Hehe. Becanda. Masa cowok sekeren Theo susah nikahnya. Btw katanya dapat fans dari Banjarmasin ya? Cieee. Dan kerennya lagi, mereka semua kecuali Theo, ninggalin anak istri buat tur ini. Hiks. Perjuangan yang sangat-sangat penuh keberanian, niat, tekad, nekat, dan kegilaan. Salut!

Hari yang ditunggu pun tiba. Jumat, hari dimana untuk pertama kalinya WR unjuk gigi di Banjarmasin. Sonicfuzz bekerjasama dengan Musi Generation (MG) Poliban menyelenggarakan acara ini di halaman sekre MG Poliban. Sebagai penyelenggara acara, saya deg-degan juga. Soalnya dengan kondisi skena yang lagi nggak bersahabat, saya takut jika acaranya tidak memenuhi ekspektasi WR. Ternyata nggak hanya skena yg nggak bersahabat, alam pun demikian. Dari siang sampai sore, hujan gerimis mengguyur Banjarmasin. Saya yg lagi di kantor, jadi tambah deg-deg-ser. Dari Ozy yang berada di lapangan melaporkan, mereka udah 3 kali bongkar pasang alat demi menghindari hujan. Saya yg nggak bisa bantu-bantu jadi merasa bersalah banget. Apresiasi sebesar-besarnya untuk WR, yang udah bersedia bantu-bantu ngangkat alat, mulai dari persiapan (Kamis) hingga acara (Jumat). Luar biasa! Seperti yang saya baca di tulisannya Theo di blognya Pontianak Distribution, gigs ini emang penuh drama Koreanya. Ketika hujan reda, muncul lagi masalah baru. Listrik mati! Padahal alat udah siap, band yang main juga udah siap, termasuk band saya, Weirdos, yang dijadwalkan main sore, berhubung saya harus balik kerja lagi malamnya, ngewawancarai musisi kondang ibukota. Bangsat bener! Teman-teman pun buru-buru nyari solusi. Pinjam genset sana-sini. Waktu terus berputar, matahari senja sudah elesai menunaikan tugasnya nemenin anak-anak folk gitaran di kopong sambil ngopi manja. Malam pun tiba. Kami semua berinteraksi dalam gelap. Kalimantan banget lah pokoknya. Ayub (Kalayangan Pagat/ Bilik Bersenyawa/ FNRProject) bahkan memparodikan albumnya WR. “Tenang aja, mas. Habis gelap terbitlah terang. Sama kaya judul albumnya WR,” katanya sambil becanda.

Beruntung, genset akhirnya datang jam 7 malam. “Terbitalh Terang” akhirnya jadi kenyataan. Karena waktunya udah molor, diadakan rapat dadakan . Ada rencana gigs bakal diundur besok, tapi buru-buru rencana ini batal. Gigs tetap jalan, dengan kesepakatan: masing-masing band kecuali WR, hanya boleh membawakan 2 lagu. Dnegan berat hati saya mewakili Weirdos mengundurkan diri karena waktu tidak memungkinkan, dan saya harus balik kerja lagi. Gigs lanjut tanpa saya. Dari laporan Ozy, gigs berjalan lancar tanpa kendala berarti. Sama kaya drama Korea. Banyak konflik di awal, tapi happy ending. Alhamdulillah banget. Pulang kerja sekitar jam 10 malam, saya langsung tancap gas balik ke gigs.

Setelah selesai beresin alat, saya mengajak anak-anak WR buat makan malam di wisata kuliner ikonik Banjarmasin, kawasan nasi kuning Pasar Lama. Entahkarena  laper banget kali ya, rata-rata anak-anak WR makan dua bungkus nasi. Mas Edho bahkan 4 bungkus. Waow. Saya ternganga. Disana, kami nongkrong sambil ngobrol-ngobrol lagi. Banyak cerita dan ilmu yang saya dapatkan dari WR malam itu. Tak terasa sudah jam 2 malam. Kamipun pulang. Di perjalanan saya bersyukur dan menyesal. Bersyukur karena gigs berjalan dengan lancar, menyesal karena saya tidak bisa ngeliat performnya Wai Rejected.

Ingin saya tulis cerita ini lebih panjang. Tapi kemudian saya sadar, memangnya jaman sekarang siapa yg suka baca cerita panjang lebar? Haha. Kebersamaan dengan WR sebenarnya masih tersisa 2 hari, yaitu Sabtu dan Minggu. Makan malam kita di Pasar Terapung “buatan” di pinggir sungai Martapura akan selalu saya kenang. Kami berpamitan Minggu siang, dengan foto-foto bersama sebagai penutup rangkaian tur WR di Banjarmasin. Sungguh saya kagum dengan orang-orang gila ini. Kedatangan mereka ke Banjarmasin bukan hanya sekedar tur promo album, tapi lebih dari itu, silaturahmi. Selain itu, mereka banyak memberikan dampak positif bagi skena. Kalau kata Ayub sih, “Bangsat, banyak banget PR kita (buat skena)”.  Saya sih berharap, semoga tur Terbitlah Terang ini bisa jadi pemicu semangat teman-teman lain untuk tidak melulu melihat ke Jawa, tapi lebih fokus pada apa yang kita miliki di Kalimantan. Terakhir banget, saya mewakili Sonicfuzz dan seluruh teman-teman mohon maaf atas segala kekurangannya selama kunjungan kalian di Banjarmasin. Kota ini tidak memiliki apapun kecuali kenangan. Saya harap kita bisa ketemu lagi dalam waktu dekat. Sukses terus Wai Rejected. Hidup Kalimantan!


Ditulis oleh : Afif (Weirdos/Sonicfuzz Record)

No comments:

Post a Comment