Friday, August 3, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 25;26;27;28-07-2018 "Segala Cerita dan Pengalaman Baru di Banjarmasin"


25 Juli 2018
Setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih 12 jam tanpa tidur. Akhirnya kami tiba di Banjarmasin pada jam 10 Wita. Sayang sekali perjalanan panjang itu kami tempuh pada malam hari, sehingga kami tidak bisa menikmati pemandangan alam dari Balikpapan menuju Banjarmasin.
Kami langsung menuju ke sebuah rumah dan disambut oleh Ari(Gori) dari Demajors Banjarmasin dan Ozy dari Sonicfuzz. Sonicfuzz adalah wadah kolektif yang menaungi teman-teman musisi di Banjarmasin sekaligus merangkap sebuah label independen. Sonicfuzz juga yang nantinya akan mengawal kami selama di sini dan mereka juga yang akan membantu mewujudkan gig kami di Banjarmasin.
Kami disambut di sebuah rumah kosong milik Ari yang memang dipersiapkan untuk kami menumpang selama di sini. Kepada Ari kami bercerita tentang tour gila ini, pengalaman di kota sebelumnya dan segala tentang Wai Rejected dan kemudian kami diberi hadiah zine serta kaset dan CD kompilasi band Banjarmasin. Siangnya kami disuguhkan masakan istrinya Ari, benar-benar sebuah sambutan yang tak kami bayangkan. Setelah perut terisi kami diberi waktu untuk beristirahat dan mereka pun berpamit, rumah beserta isinya mereka percayakan kepada kami.
Puas beristirahat, malamnya kami pergi mengisi perut dan janjian untuk bertemu dengan Afif dari iRadio sekaligus vokalis dari Weirdos. Panjang bercerita dan tak terasa sudah lewat tengah malam, obrolan pun harus dihentikan. Kami berpisah dan pulang kerumah untuk melanjutkan mimpi yang terjeda.
Selamat malam semuanya, dari kami Wai Rejected di sebuah rumah di Selatan pulau Kalimantan.


26 Juli 2018
Belum sempat kami berbenah diri setelah bangun dari tidur pulas, datanglah Ozy membawakan sarapan untuk kami, jajanan tradisional Banjarmasin. Kami benar-benar dibuat bingung dengan perlakuan oleh teman-teman di sini. Mereka seperti berlomba-lomba menyenangkan kami, mereka yang bahkan wajahnya saja belum melekat benar di otak kami.
Sambil menunggu beberapa teman yang lain bersiap diri, Dika, Alfa, Ilham dan Ozy pergi mengantar ampli ke Politeknik Banjarmasin yang menjadi lokasi untuk gig besok. Sekitar jam 11 siang kami bertemu lagi di warung makan yang berlokasi di Jalan Cendana. Jalan  yang di sepanjangnya penuh dengan warung makan murah. Untuk siapapun yang kebetulan membaca tulisan ini dan pada suatu saat akan berkunjung ke Banjarmasin, sangat kami anjurkan untuk singgah makan di sini. Selain harga yang murah, masakannya juga tidak asal-asalan. Sangat berguna untuk kantung kami yang pas-pasan.
Hari ini kami memulai kegiatan tour dengan serangkaian interview di Radio. Jadwal pertama di Pro2 RRI pada jam 17.00 Wita. Tiba di sana sudah ada Ozy yang memang berniat untuk menemani kami hari ini. Dipandu oleh Igun sebagai penyiar, kami menjawab pertanyaan seputar WR dan tour kami yang berasal dari beberapa SMS pendengar yang masuk. Lalu dilanjutkan ke iRadio pada jam 19.00 Wita, disana kami berkenalan dengan Maya dan Rizki yang menjadi penyiar malam itu. Selesai interview kami dibawa kerumahnya Gori untuk dikenyangkan dengan masakan istrinya.






Malam harinya, kami dibawa ke sebuah warung kopi di tepian jalan besar, yang di sana sudah penuh sesak orang ramai,  bernama Warkop Nusantara. Disambut oleh Ayub, Afif, Gori dan juga Aswin, kami duduk melantai di bagian dalam warung kopi. Setelah melihat menu, ternyata kopi yang disajikan sesuai dengan namanya. Semua biji kopi yang ada di Indonesia dijual di warung kopi ini, bahkan dari Pontianak juga ada. Setelah dihidangkan memang kopinya terasa enak, dengan harga yang relatif terjangkau kisaran Rp 9.000-15.000, pantaslah kiranya di warkop itu penuh sesak orang-orang.
Ditemani kopi panas, alur cerita dari kami mulai berjalan, perlahan dan bertambah kencang terbawa malam. Arah obrolan berbalik, teman-teman dari Sonicfuzz mulai menceritakan bencana yang dialami oleh skena musik di sini. Dalam beberapa tahun belakangan mereka mengalami kesulitan untuk memperoleh izin kegiatan event musik kolektifan (gig), dikarenakan pernah terjadi tragedi penusukan oleh penonton ketika gig sedang berlangsung. Akibatnya, antusias akan gig yang dulu sedang kencang-kencangnya mendadak punah oleh oknum tolol itu. Beruntung, setelah berkolaborasi dengan MG (Music Generations) Politeknik Banjarmasin mereka berulang kali sukses mengadakan gig-gig berskala kecil di halaman kampus. Dan disitulah akan diadakan gig untuk Terbitlah Terang Tour 2018 di Banjarmasin.

27 Juli 2018
Hari ketiga di Banjarmasin, jam 10 pagi kami sudah dalam perjalan menuju Studio Musik untuk latihan bersama Edho 13. Nantinya kami akan berkolaborasi di lagu Tabu, dan Edho 13 akan mengambil bagian rap di lagu tersebut. Tak butuh waktu lama, hanya 2 kali ulang sudah cukup aman bagi Bang Edho, begitu kami memanggilnya.
Jam 14 Wita, kami berangkat menuju Politeknik Banjarmasin(Poliban). Tiba di sana, disambut dengan perkenalan singkat bersama mahasiswa dan mahasiswi dari MG, kemudian dilanjutkan dengan memasang alat. Sempat terhenti karena ada beberapa barang yang tertinggal di rumah dan diharuskan untuk mengambil secepat mungkin. Akhirnya setelah 2 jam set alat pun terpasang dan dilanjutkan dengan ritual soundcheck. Soundcheck belum sempat dimulai dan hujan pun turun. Alat yang sudah terpasang mau tak mau harus kami kemas kembali. Hahahaha. Baru pada jam 4 sore kami dapat memulai check sound yang tertunda. Setelah semuanya terasa pas, kami pun pulang ke rumah pada jam 5 sore.
Jam 7 malam kami kembali ke Poliban dan dikejutkan oleh listrik yang padam. Kalau kata Edo,”Udah kayak film korea, banyak dramanya”. Acara yang seharusnya dimulai jam 4 malah belum mulai sampai jam 7 karena hujan dan listrik yang padam. Sempat terlintas ide dari pihak MG untuk menunda acara sampai besok malam. Tapi teman-teman dari Sonicfuzz dan Bilik Bersenyawa sedang mengupayakan agar acara tetap terlaksana malam ini juga. Mereka mencoba untuk mencari pinjaman genset, tapi ternyata genset yang ada tak mencukupi untuk kebutuhan panggung. Dalam kondisi yang sudah hampir patah asa, akhirnya listrik pun hidup sekitar jam 8 malam.
Mereka lalu berunding untuk memangkas durasi dari masing-masing band yang tampil. Tiap band kecuali Wai Rejected hanya membawakan 2 lagu supaya acara dapat selesai sebelum jam 11 malam. Semua band sepakat dan kami benar-benar dibuat pilu melihat kondisi skena di sini. Gig yang mereka rindukan, pegiat yang bukan main bersemangat, pelaku yang kegirangan, serta penikmat yang ramai berdatangan hampir sekali lagi dibuat kecewa.
Gig dibuka oleh penampilan dari Bear Cub yang menggelegar, malam dingin sehabis hujan terasa terusir oleh penampilan mereka yang panas. Penonton mulai berdesakan, sebagian bernyanyi, sebagian melompat lompat kesetanan. Sayangnya, hanya memainkan 2 lagu yang singkat. Dilanjutkan oleh Pesawat Tempur dengan penampilan cool vokalisnya. Semua penonton bernyanyi dengan lompatan tipis di atas selasar kampus. Kemudian BIANGLALA sudah berada di tengah pentas. Musik noise yang mereka mainkan merubah suasana panas menjadi mencekam. Penonton tak lagi jumpalitan, kini mereka serempak terdiam menantikan kejutan dari Ozy sang gitaris.
White Alice kembali membuat penonton meronta dengan musik screamo nya. Lalu dilanjutkan oleh Kalayangan Pagat dengan Rock Alternatifnya. Sisa satu band lagi dan selanjutnya waktu kami untuk tampil. Satu band itu adalah Joe and D’bruders (maaf kalau kami salah tulis). Dengan musik reggae yang ciamik, penonton mau tak mau mulai bergoyang riang mengikuti irama musik.
Akhirnya sisa malam itu diberikan kepada kami. Dimulai dengan lagu Terbitlah Terang semua kompak berjingkrakan. Tanpa putus kami lanjutkan dengan lagu The World Talks, merekapun bergoyang dengan cara yang beda dari lagu pertama. Jeda lagu kami coba untuk bercerita dan berkenalan, sekaligus memberikan semangat untuk mereka yang tengah berjuang memulihkan skena yang sekarat.
Lagu ketiga adalah Tabu, berkolaborasi dengan Edho 13 kami sukses membuat semua penonton basah dalam keringat. Selanjutnya adalah Oh My, lagu yang menggambarkan tentang hilangnya kemanusiaan oleh berbagai kepentingan. Perang tanpa pemenang, dan lagu ini pun seolah menjadi renungan malam. Terakhir lagu Rewind kami mainkan. Tepuk tangan sesuai tempo musik mengiring di awal lagu. Dan betapa senangnya kami ketika mereka semua ikut bernyanyi bersama di bagian reffrain. Penampilan selesai dan kami semua berpelukan serta berfoto bersama untuk kenang-kenangan.
Kami tak langsung pulang, tapi ikut berkemas dan membantu membawakan ampli-ampli milik Gori kembali ke rumah yang kami tempati. Benar-benar sebuah gig kolektif yang menyenangkan.



28 Juli 2018
Kami semua bangun ketika hari sudah beranjak siang. Hari ini masih ada satu radio lagi yang harus kami kunjungi yaitu Motion Radio. Pada jam tiga sore kami semua sudah berada di lantai lima gedung Banjarmasin Post untuk melakukan interview dengan Motion Radio. Di sana kami disambut oleh Meity sebagi penyiar. Interview berlangsung selama kurang lebih satu jam.
Setelah interview, bersama Ozy dan Gori kami makan tahu gunting di tepian Sungai Martapura dalam rangka merayakan ulang tahun pemain bass kami, Edho Sas Natra. Angin sungai dan pemandangannya serupa relaksasi di sore itu. Makanan sederhana tapi yang kami rasakan seolah dihidangkan santapan mewah, karena keakraban kami sendiri dan ditambah dua orang yang menjadi keluarga baru kami seperti melengkapi kebahagiaan sore ini.
Malam harinya kami melanjutkan petualangan di pasar terapung, sebuah keunikan lokal yang mungkin hanya dimiliki oleh Banjarmasin dan rasanya sangat sayang bila tak kami singgahi.
Sambil menikmati Soto Banjar kami melihat deretan ibu-ibu berjualan di atas sampan, terkadang terlihat beberapa transaksi jual beli, bahkan kami sendiri penasaran dengan sensasi jual beli di atas sampan ini, dan akhirnya kami tak bisa mengelak godaan untuk merasakannnya. Dan akhirnya tur di Banjarmasin selesai,  besok kami akan menuju Palangka Raya, kota keempat.





Teks : Theo
Edit : Aldiman Sinaga
Foto : WR Team

No comments:

Post a Comment