Sunday, August 26, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 08;09-08-2018 "Misi Mengklarifikasi Kesalahpahaman"

8 Agustus 2018
Halo apa kabar? Wai Rejected sudah di kota kelima dalam Terbitlah Terang tour 2018. Semoga ini menjadi perjalanan yang menyenangkan sekaligus menjadi bacaan yang menyenangkan buat kalian, dan teruslah berkarya.

Mohon maaf sebelumnya, pada tanggal 5 Agustus kemarin seharusnya kami sudah menyelesaikan tur di kota kelima yaitu Kuching, Malaysia. Sialnya, terjadi kendala mengenai lokasi gig dan sampai beberapa hari mendekati jadwal yang sudah ditetapkan masih belum terwujud kesepakatan. Jadi dengan sangat menyesal kami harus menunda serta mengatur ulang jadwal gelaran tur di Kuching. Semoga dalam waktu dekat kami dapat merealisasikan niatan ini. Amin. Doakan kami.

Setelah beberapa hari kami beristirahat di Pontianak dan setelah tertundanya gig di Kuching, akhirnya jadwal selanjutnya adalah kota Sintang. Konyolnya, lagi dan lagi terjadi kesalahpahaman antara kami dengan teman-teman KOMISI (Komunitas Musisi Sintang). Guna mengklarifikasi kesalahpahaman tadi, dan guna menghindari tertundanya gig disana, akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke Sintang lebih awal.

Kami turun dari studio Djagad Karja pada jam 3 sore, diantara kami sempat terjadi cekcok mengenai siapa saja yang akan berangkat sore ini atau sehari lebih dulu dari jadwal seharusnya. Cekcok tak lebih karena rencana keberangkatan yang mendadak dan menyebabkan koordinasi tak berjalan dengan baik diantara kami. Akhirnya mereka yang berangkat adalah Dika, Ilham, dan Theo.

“Tenang, cekcok kecil gak bakal bikin band yang berusia 12 tahun ini bubar, hahaha”

Lanjut ke cerita perjalanan kami. Rombongan tiga orang tadi sampai di Sanggau pada jam 9 malam. Kami beristirahat sebentar untuk sekedar melepas lelah dan mengisi kampong tengah(baca:perut). Perjalanan kami begitu lamban, normalnya jarak tempuh Pontianak-Sanggau adalah empat jam. Tapi kondisi jalan bisa dikatakan sedang dimonopoli oleh truk tangki bahan bakar, tronton, dan juga bis penumpang. Demi keselamatan, ya mau tidak mau kami harus mengalah. Selain itu kondisi cuaca yang hujan dan lebar jalan yang terlalu sempit juga sangat berbahaya jika kami paksakan melaju kencang.

Dan akhirnya kami sampai di Sintang ketika sudah jam 12 malam. Suasana tidak terlalu sepi untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten, masih terdapat aktivitas di beberapa warung kopi dan rumah makan di malam ini. Kami pun segera beristirahat di sebuah penginapan sederhana, sesederhana mungkin, hahahaha.


9 Agustus 2018
Hari kedua kami di Sintang dalam misi mengklarifikasi kesalahpahaman, yang sekaligus untuk menghindari batalnya tur kami disini. Maklumlah selama ini kami hanya berkomunikasi terbatas via chat yang sering menyebabkan hilangnya makna penyampaian. Mungkin kalau seandainya komunikasi kami melalui video call tak akan terjadi kesalahpahaman, dan komunikasi pun menjadi lebih mesra.

Satu yang kami yakini “Terang akan terbit pada satu sisi yang tak pernah kita ketahui”

Jam 10 pagi kami sudah harus bertemu dengan Pieter, salah satu kenalan di Sintang yang kami dengar sering terlibat dalam pergerakan musik disini. Kami janjian untuk bertemu di Kedai Kopi Tarik. Kami turun dan sekaligus checkout dari penginapan. Kota Sintang belum terlalu besar sehingga kami dapat dengan mudah menemukan lokasi warkop yang dicari.

Sebelumnya kami telah mengenal Pieter ketika bertemu di beberapa acara musik. Kami sudah sering ngobrol sebelumnya sehingga ketika bertemu kembali tak ada kecanggungan yang kami temukan. Setelah basa – basi panjang lebar, akhirnya Pieter mulai menyerempet ke duduk permasalahan antara pihak Wai Rejected dengan KOMISI. Menurut Pieter, jauh hari sebelum pertama kali kami menghubungi teman-teman di sini, mereka sedang disibukkan menggarap event Akai Day yang diadakan pada 4-5 Agustus yang lalu. Memang saat itu mereka sempat menyampaikan kalau seandainya tur Terbitlah Terang bisa turut masuk dalam konten Akai Day. Mungkin maksud mereka agar bisa mengerjakan dua projek dalamm satu kegiatan sekaligus. Tapi pada saat itu kami sudah menyusun jadwal untuk Sintang di tanggal 11 Agustus, selain itu pun tanggal 5 Agustus adalah jadwal untuk Kuching (sebelum dijadwalkan ulang). Lalu terjadilah kesalahpahaman ketika kami kembali menghubungi teman - teman KOMISI pada 6 Agustus, saat itu mereka masih sibuk dengan pra-event penjualan album kompilasi. Menurut mereka kalau tanggal 11 Agustus terlalu mepet dan sebaiknya diundur beberapa hari. Sementara kami merasakan bahwa teman KOMISI sudah lepas tangan dari kesepakatan di obrolan pertama.

Tak lama setelah Pieter menyampaikan duduk permasalahannya, lalu datang Baskara dan Eka sebagai perwakilan dari KOMISI. Kami berkenalan dan ngobrol panjang lebar, akhirnya kesalahpahaman tadi dapat diluruskan. Misi kami pun berhasil, sampai bertemu tanggal 11 Agustus 2018 di Sintang!

“Terang itu letaknya pada kaki yang tak mau berhenti”

Benar kata orang tua zaman dulu bahwa obrolan yang baik itu diawali dengan secangkir kopi, hahaha.
Masalah selesai, setelah itu Pieter undur diri karena harus berangkat ke Sanggau guna keperluan pekerjaan dan meminta maaf karena tidak dapat hadir pada 11 Agustus nanti.

Rombongan kedua berangkat dari Pontianak sekitar jam 2 siang. Kami yang sudah checkout dari penginapan mulai kebingungan harus beristirahat dimana sambil menunggu rombongan kedua datang. Sementara persediaan duit untuk makan siang pun tak cukup, hahaha.

Malam harinya rombongan pertama pergi ke Coffee J milik Bang Is, sebelumnya kami berhasil merayu bang Is untuk minta ditraktir, hahaha. Sementara itu rombongan kedua sedang beristirahat di Sekadau sekaligus berkunjung ke rumah orang tua John, gitaris kami.

Jam menunjukkan pukul 12 malam, dan akhirnya rombongan kedua tiba. Kami langsung menuju ke markas Sanggar Bujang Sebeji milik Bang Sansan dan Bang Oga, di sanalah kami akan menumpang selama di Sintang.

Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga

No comments:

Post a Comment