Friday, August 31, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 10&11-08-2018 "Semua ini adalah sejarah untuk kami Wai Rejected"

10 Agustus 2018
H-7 Hari Raya Kemerdekaan Indonesia, semoga setelah ulang tahunnya Negara kita g gini-gini aja. Amin


Tinggal satu kegiatan kami hari ini, berkunjung ke Kece Café untuk meminta izin kepada pemiliknya agar gig tour kami bisa diadakan di sana. Pemiliknya adalah Bang Berry, namun saat jam 10 pagi kami kesana beliau masih ada kerjaan di dalam hutan. Sekedar info Bang Berry adalah seorang aparat kepolisian dan yang kami dengar beliau sedang mengejar buron yang kabur ke hutan. Sayangnya kami tak sempat menanyakan kasusnya, yang pasti bukan tindak pidana korupsi. Lagipula di dalam penjara pun para terpidana korupsi tetap hidup nyaman seperti di luar penjara. Ngapain mereka harus kabur ke hutan? Hahahaha

“Korupsi adalah kejahatan luar biasa, tindak keji merampok hak-hak warga Negara. Menghina akal sehat jika penjara malah amat mewah”, kutipan dari Pura-Pura Penjara oleh Najwa Shihab.

Di sana, kami bertemu dengan Eki bassist band V-five, dia yang menjadi orang kepercayaan bang Berry untuk mengurus Kece Café. Obrolan tidak berlangsung lama karena memang sebelumnya Pieter telah menghubungi bang Berry via telpon. Dan akhirnya deal acara akan diadakan di Kece Café besok malam.

Setelah itu, kami semua ngopi di tempat kemarin. Di sana juga ada teman-teman KOMISI juga ada Faisal She’s Bro dan Bang Arif.

Sore hari menjelang malam kami habiskan di alun-alun kota. Alun – alun tersebut menghadap ke sebuah sungai yang tengah surut. Suasana diterpa hembusan angin yang menyenangkan dan berada di tempat asing di tengah teman baru, semua yang terjadi selama tur ini akan sulit diulang kemudian hari, semua ini adalah sejarah untuk kami pribadi dan kami sebagai Wai Rejected.

“Hidup adalah keindahan sesaat di dunia yang sesat”
  



11 Agustus 2018
Sebagai seorang anak band atau musisi, tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada berdiri di atas panggung dan memainkan karya sendiri. Dan hari ini kami akan memperkenalkan semua lagu di album Terbitlah Terang kepada para penikmat musik di kota Sintang. Semoga apa yang direncanakan berjalan lancer, agar terbayar lunas semua kerja keras kami demi gig di sini.

Tepat jam 11 siang kami tiba di Kece Café dan disambut dengan kondisi listrik padam. Kami mulai memasang set keperluan panggung hingga jam 2 siang, dan sementara listrik belum juga menyala. Ketika kami sedang bosan-bosannya menunggu listrik nyala, datanglah bang Berry sang pemilik cafe. Kami semua berkenalan dan bercerita panjang lebar dengannya. Di balik wajahnya yang berkarakter keras bahkan bisa dibilang sangar, bang Berry adalah sosok yang sangat menyenangkan ketika berbicara dan sangat baik perlakuannya kepada kami. Kami pun tak segan untuk bercanda sembari membuang penat bersama Bang Berry.

Sekitar jam 5 listrik baru menyala. Kami pun berlomba dengan waktu yang sudah tak panjang lagi, agar secepatnya dapat menyelesaikan check sound. Check sound adalah sebuah ritual yang wajib dilakukan karena hal ini adalah salah satu faktor penting demi tercapainya klimaks ketika tampil. Maka dari itu kami masih heran bahwa banyak diantara teman-teman band lain yang menganggap hal tersebut tidaklah penting.

Sekelas band nasional saja masih tetap melakukan check sound waktu tampil di Pontianak, dan oleh karena itu kami yang hanya band “lokal” kerap kali menjadi korban oleh perlakuan diskriminatif dari pihak vendor soundsystem ketika check sound, hahaha. Menurut kami, acara akan berjalan dengan baik ketika terwujud kerjasama yang baik antar semua pihak, salah satunya pihak talent dan pihak vendor soundsystem.

Kami datang kembali ke venue pada jam 8 malam ketika acara baru saja dimulai. Penampil pertama adalah The Moon, kesan pertama ketika melihat mereka membuat kami teringat pada band dengan lagu-lagunya yang sangat digandrungi kaum hawa di Pontianak, Coffternoon. Ya kedua band tersebut berkonsep hampir sama, hanya saja The Moon tanpa pemain biola. Setelahnya menyusul penampilan band Tiberias, band asal Pontianak ini memang sengaja ikut bersama kami berkeliling tur di sekitar Kalimantan Barat. Band terakhir sebelum kami tampil adalah V-five. Band asal Sintang yang berhasil membuat semua penonton ikut bernyanyi.

Giliran kami Wai Rejected. Membawakan delapan lagu di album Terbitlah Terang dan lagu Take Me Now yang merupakan permintaan langsung dari pemilik tempat. Dan semua penonton pun berhasil kami buat geram dengan penampilan kami. Kami tampil habis-habisan seolah besok akan kiamat. Tepuk tangan dan teriakan muncul di setiap jeda lagu. Kami berhasil membayar lunas semua jerih payah dan kerja keras di sini. Seolah mengalami orgasme, kami dan semua yang hadir sudah kehabisan energi untuk pulang ke peraduan masing-masing. Sambil memulihkan tenaga, kami bersalaman dengan semua teman yang telah membantu terwujudnya gig ini. Dan terakhir sekali kami semua berfoto tepat di depan pintu masuk Kece Café.




Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga
Foto oleh : WR Management

Sunday, August 26, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 08;09-08-2018 "Misi Mengklarifikasi Kesalahpahaman"

8 Agustus 2018
Halo apa kabar? Wai Rejected sudah di kota kelima dalam Terbitlah Terang tour 2018. Semoga ini menjadi perjalanan yang menyenangkan sekaligus menjadi bacaan yang menyenangkan buat kalian, dan teruslah berkarya.

Mohon maaf sebelumnya, pada tanggal 5 Agustus kemarin seharusnya kami sudah menyelesaikan tur di kota kelima yaitu Kuching, Malaysia. Sialnya, terjadi kendala mengenai lokasi gig dan sampai beberapa hari mendekati jadwal yang sudah ditetapkan masih belum terwujud kesepakatan. Jadi dengan sangat menyesal kami harus menunda serta mengatur ulang jadwal gelaran tur di Kuching. Semoga dalam waktu dekat kami dapat merealisasikan niatan ini. Amin. Doakan kami.

Setelah beberapa hari kami beristirahat di Pontianak dan setelah tertundanya gig di Kuching, akhirnya jadwal selanjutnya adalah kota Sintang. Konyolnya, lagi dan lagi terjadi kesalahpahaman antara kami dengan teman-teman KOMISI (Komunitas Musisi Sintang). Guna mengklarifikasi kesalahpahaman tadi, dan guna menghindari tertundanya gig disana, akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke Sintang lebih awal.

Kami turun dari studio Djagad Karja pada jam 3 sore, diantara kami sempat terjadi cekcok mengenai siapa saja yang akan berangkat sore ini atau sehari lebih dulu dari jadwal seharusnya. Cekcok tak lebih karena rencana keberangkatan yang mendadak dan menyebabkan koordinasi tak berjalan dengan baik diantara kami. Akhirnya mereka yang berangkat adalah Dika, Ilham, dan Theo.

“Tenang, cekcok kecil gak bakal bikin band yang berusia 12 tahun ini bubar, hahaha”

Lanjut ke cerita perjalanan kami. Rombongan tiga orang tadi sampai di Sanggau pada jam 9 malam. Kami beristirahat sebentar untuk sekedar melepas lelah dan mengisi kampong tengah(baca:perut). Perjalanan kami begitu lamban, normalnya jarak tempuh Pontianak-Sanggau adalah empat jam. Tapi kondisi jalan bisa dikatakan sedang dimonopoli oleh truk tangki bahan bakar, tronton, dan juga bis penumpang. Demi keselamatan, ya mau tidak mau kami harus mengalah. Selain itu kondisi cuaca yang hujan dan lebar jalan yang terlalu sempit juga sangat berbahaya jika kami paksakan melaju kencang.

Dan akhirnya kami sampai di Sintang ketika sudah jam 12 malam. Suasana tidak terlalu sepi untuk ukuran sebuah ibukota kabupaten, masih terdapat aktivitas di beberapa warung kopi dan rumah makan di malam ini. Kami pun segera beristirahat di sebuah penginapan sederhana, sesederhana mungkin, hahahaha.


9 Agustus 2018
Hari kedua kami di Sintang dalam misi mengklarifikasi kesalahpahaman, yang sekaligus untuk menghindari batalnya tur kami disini. Maklumlah selama ini kami hanya berkomunikasi terbatas via chat yang sering menyebabkan hilangnya makna penyampaian. Mungkin kalau seandainya komunikasi kami melalui video call tak akan terjadi kesalahpahaman, dan komunikasi pun menjadi lebih mesra.

Satu yang kami yakini “Terang akan terbit pada satu sisi yang tak pernah kita ketahui”

Jam 10 pagi kami sudah harus bertemu dengan Pieter, salah satu kenalan di Sintang yang kami dengar sering terlibat dalam pergerakan musik disini. Kami janjian untuk bertemu di Kedai Kopi Tarik. Kami turun dan sekaligus checkout dari penginapan. Kota Sintang belum terlalu besar sehingga kami dapat dengan mudah menemukan lokasi warkop yang dicari.

Sebelumnya kami telah mengenal Pieter ketika bertemu di beberapa acara musik. Kami sudah sering ngobrol sebelumnya sehingga ketika bertemu kembali tak ada kecanggungan yang kami temukan. Setelah basa – basi panjang lebar, akhirnya Pieter mulai menyerempet ke duduk permasalahan antara pihak Wai Rejected dengan KOMISI. Menurut Pieter, jauh hari sebelum pertama kali kami menghubungi teman-teman di sini, mereka sedang disibukkan menggarap event Akai Day yang diadakan pada 4-5 Agustus yang lalu. Memang saat itu mereka sempat menyampaikan kalau seandainya tur Terbitlah Terang bisa turut masuk dalam konten Akai Day. Mungkin maksud mereka agar bisa mengerjakan dua projek dalamm satu kegiatan sekaligus. Tapi pada saat itu kami sudah menyusun jadwal untuk Sintang di tanggal 11 Agustus, selain itu pun tanggal 5 Agustus adalah jadwal untuk Kuching (sebelum dijadwalkan ulang). Lalu terjadilah kesalahpahaman ketika kami kembali menghubungi teman - teman KOMISI pada 6 Agustus, saat itu mereka masih sibuk dengan pra-event penjualan album kompilasi. Menurut mereka kalau tanggal 11 Agustus terlalu mepet dan sebaiknya diundur beberapa hari. Sementara kami merasakan bahwa teman KOMISI sudah lepas tangan dari kesepakatan di obrolan pertama.

Tak lama setelah Pieter menyampaikan duduk permasalahannya, lalu datang Baskara dan Eka sebagai perwakilan dari KOMISI. Kami berkenalan dan ngobrol panjang lebar, akhirnya kesalahpahaman tadi dapat diluruskan. Misi kami pun berhasil, sampai bertemu tanggal 11 Agustus 2018 di Sintang!

“Terang itu letaknya pada kaki yang tak mau berhenti”

Benar kata orang tua zaman dulu bahwa obrolan yang baik itu diawali dengan secangkir kopi, hahaha.
Masalah selesai, setelah itu Pieter undur diri karena harus berangkat ke Sanggau guna keperluan pekerjaan dan meminta maaf karena tidak dapat hadir pada 11 Agustus nanti.

Rombongan kedua berangkat dari Pontianak sekitar jam 2 siang. Kami yang sudah checkout dari penginapan mulai kebingungan harus beristirahat dimana sambil menunggu rombongan kedua datang. Sementara persediaan duit untuk makan siang pun tak cukup, hahaha.

Malam harinya rombongan pertama pergi ke Coffee J milik Bang Is, sebelumnya kami berhasil merayu bang Is untuk minta ditraktir, hahaha. Sementara itu rombongan kedua sedang beristirahat di Sekadau sekaligus berkunjung ke rumah orang tua John, gitaris kami.

Jam menunjukkan pukul 12 malam, dan akhirnya rombongan kedua tiba. Kami langsung menuju ke markas Sanggar Bujang Sebeji milik Bang Sansan dan Bang Oga, di sanalah kami akan menumpang selama di Sintang.

Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga

#TERBITLAHTERANGTOUR 31-07-2018 "Sudah setengah Pulau Kalimantan"

Hari ketiga di Palangka Raya, kami semua sudah bersiap menuju ke Pa’chie Café untuk melakukan cek sound dan persiapan gig nanti malam. Hanya butuh dua jam untuk cek sound, karena ketika kami tiba semua kebutuhan set di panggung sudah terpasang hampir sempurna, kami hanya sedikit menambah beberapa perangkat untuk kebutuhan kami. Masing-masing personil mulai menyetting instrumen mereka, setelah itu mencoba memainkan dua buah lagu sementara yang lainnya menyeimbangkan suara yang keluar. Setelah segala sesuatu dirasa sesuai kemauan, kami pulang ke rumah Wawan untuk mempersiapkan diri.

Di rumah, kami sibuk membongkar persediaan baju dan mencari mana yang belum dipakai untuk manggung. Bahkan ketika sudah menentukan pilihan, masing-masing dari kami sering saling meminta saran seperti  “Cocok ndak nih? Bagus yang mane ye? Baju gelap ke cerah ye? Pake topi ke ndak ye?”. Ya, kami rasa tak jauh beda dengan persiapan Girl Gang ketika mau pergi ke sebuah party di malam hari, hahahaha.

Sekitar jam 8 malam kami sampai di lokasi gig Terbitlah Terang Tour 2018 Kota Palangka Raya, dan gig baru akan dimulai. Perlahan-lahan halaman Pa’chie Café mulai ramai oleh para penikmat musik yang mulai berdatangan. Bahkan disana juga ada teman-teman dari band BERLIMA, salah satu band yang menembus final Meet The Labels 2015. Gig pun dimulai ketika halaman sudah hampir sesak oleh mereka yang datang.



Urutan pertama diisi oleh Demonicca Daver yang memainkan musik beraliran Brutal Death Metal. Mereka perform dengan iringan sequencer, karena band ini hanya beranggotakan dua orang, yaitu gitar dan vokal. Selanjutnya adalah Nature of Depravity, band yang diisi oleh Wawan sebagai pemain drum. Kami semua maju ke depan untuk melihat penampilan dari pemilik rumah yang kami tumpangi itu. Nature Depravity mengusung genre Thrash Metal. Band yang tampil di urutan ketiga adalah Inside Memories. Dan band terakhir sebelum giliran kami adalah Dwazed yang mencoba menurunkan tempo dengan musik Alternatif Rock nya.

Akhirnya semua penampilan band Palangka Raya selesai, kami pun naik ke panggung. Memainkan semua lagu di album Terbitlah Terang. Setelah kurang lebih satu jam, akhirnya penampilan kami ditutup dengan memainkan single Rewind. Betapa senangnya ketika sebagian dari mereka yang hapal ikut bernyanyi bersama kami. Itu adalah bagian yang paling menyenangkan dari kehidupan bermusik.



Dan tur di Palangka Raya selesai, kami sudah menyelesaikan setidaknya setengah dari perjalanan tur Terbitlah Terang 2018 chapter Kalimantan ini. Empat kota dari tiga provinsi di sebuah pulau terbesar di Indonesia, Kalimantan, yaitu Samarinda (Kaltim), Balikpapan (Kaltim), Banjarmasin (Kalsel), dan Palangka Raya (Kalteng). Sebuah perjalanan panjang yang awalnya terkesan mustahil bagi kami maupun bagi mereka yang mendengar rencana gila ini, akhirnya kami mampu membuktikan. Dari semua teman di setiap kota yang kami singgahi, semua sepakat dan kompak mengatakan bahwa kami Wai Rejected berhak mengklaim tur ini adalah tur darat pertama yang dilakukan oleh sebuah Band, baik itu band Kalimantan maupun band luar Kalimantan.

Besok kami akan kembali ke kota asal Pontianak untuk beristirahat beberapa hari sebelum melanjutkan setengah akhir dari tur ini di kota Kuching (Malaysia), Sintang, Sanggau, dan Singkawang. Sudah saatnya bertemu dengan keluarga yang sudah lama ditinggal, anak istri yang sempat dilalaikan oleh karena ide gila ini. Salam hangat dari kami, Wai Rejected.


Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga
Foto oleh : WR Management Team


#TERBITLAHTERANGTOUR 30-07-2018 "Interview sebagai rutinitas lain dari sebuah Tour Band"

Jam 10 pagi kami harus mengunjungi Stars Radio. Antrian mandi dimulai sejak pukul 8.30, setiap orang dari rombongan kami dianjurkan untuk mandi seadanya mengingat kondisi kami yang menumpang di rumah kenalan baru.

Ketika kami tiba, kondisi bangunan Stars Radio masih dalam masa perbaikan setelah beberapa tahun silam terkena dampak bencana angin puting beliung di Kota Palangkaraya. Bencana ini menyebabkan kerugian besar bagi Stars radio karena menara pemancar mereka tumbang dan mengenai beberapa rumah warga. Satu jam sesi interview kami akhiri dengan memainkan single Rewind versi akustik. Sebelum lanjut interview di Kalaweit radio pada jam 1 siang. Kami janjian dengan bang Ameng untuk bertemu di Mangat Besuh Food. Warung makan tersebut miliknya Enrico kenalan kami ketika kompetisi Meet The Labels.

Sorenya, kami bersama bang Ameng dan teman lainnya pergi nyantai di bawah Jembatan Kahayan, namanya diambil dari nama sungai Kahayan. Jembatan ini terletak di Jalan Kapten Piere Tendean. Di sana kami menikmati sore dengan bersantap gorengan. Cara bergaul di sini kurang lebih sama seperti di Pontianak, entah karena bang Ameng yang kelahiran Pontianak, atau karena memang nyatanya demikian. Bercanda layaknya sudah berteman lama, BESAKAT (saling mengejek) pun tak jadi soal bagi mereka. Setelah matahari mulai perlahan hilang, kami berpamitan dengan surutnya Sungai Kahayan.

Malamnya, kami berjanjian di Mang Jebugs (kalau kami tak salah tulis) milik drummer dari band Kelinci Pohon. Di sana kami melakukan sesi wawancara dengan media lokal LALUJA. Sesi yang berlangsung lumayan lama ini sedikit menyedot perhatian kami, pertanyaan yang tak biasa sering kali mereka ajukan. Overall, mereka sangat menyenangkan.

Akhirnya sekitar jam 12 malam kami pulang ke rumah tempat menginap, beberapa teman Palangkaraya menyusul ke rumah. Disana kami melanjutkan bersenang-senang.


Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga

Foto oleh : WR Management Team

#TERBITLAHTERANGTOUR 29-07-2018 "Datang tak diundang, pulang sebagai keluarga"


Ini adalah hari terakhir kami di Banjarmasin. Siang itu Afif, Ayub, Ozy, Gori, Istrinya Gori dan dua anaknya(Ceta & Ucay) mengantar kepergian kami. Bahkan kami masih disajikan makan siang oleh istri Gori. Nasi putih panas, oseng tempe, oseng usus ayam, bakwan jagung, dan sambal menjadi menu penutup kami di Banjarmasin. Kalo kata Ilham (salah satu tim crew WR), “lepas dah makan siang, hahaha”.

Sebelum berangkat kami sempat berfoto di halaman rumahnya Gori. Kurang lebih 5 hari kami menginap disana, melewatkan malam - malam yang menyenangkan. Tempat kami menguras semua kelelahan, tempat kami bersembunyi dari panas siang dan dingin malam. Memang rumah ini terlihat sederhana, tersusun oleh papan-papan usang, tapi semua terkesan mewah bagi kami yang memang tak bermodal banyak dalam rangkaian tur panjang ini. Kami benar-benar berterimakasih untuk semua kebaikan dari mereka. Kami datang sebagai tamu tak diundang, namun pergi sebagai keluarga. Kami saling berpelukan dan pergi tanpa kerelaan.

Dalam perjalanan menuju Palangkaraya, mobil kami mengalami kerusakan. John yang banyak paham tentang mesin mencoba untuk memperbaiki kerusakan, diagnosanya adalah pengapian dari busi. Karena kekurangan alat untuk sementara kerusakan belum dapat diperbaiki, kami akhirnya memutuskan untuk berjalan pelan sambil mencari bengkel terdekat. Hidup ya gitu, ada senang ada susah.

Setelah satu jam berjalan pelan, akhirnya kami bertemu dengan bengkel reparasi mobil. Yesss. Diagnosa dari sang Menteri Elektronik Republik WR si John tak meleset, kerusakan memang di pengapian, tapi bukan busi yang bermasalah. Kami harus merogoh kocek lebih dalam karena harus mengganti koil yang rusak. Harganya lumayan mahal, kira - kira Rp 400.000,-. Dan perjalanan kami lanjutkan.

Langit sore terlihat cerah ketika kami sampai di Jembatan Tumbang Nusa. Kami pun tak melewatkan kesempatan berpoto di jembatan terpanjang seIndonesia ini, yaitu kurang lebih 10,3 km. Sekedar informasi, jembatan ini terletak di Kabupaten Pulang Pisau Kalimantan Tengah dan diresmikan pada Juli 2013.

Kami sampai di Palangka Raya pukul 19.00 Wib ketika hujan tengah turun dengan sangat derasnya. Kami sudah berjanjian dengan Bang Ameng pemilik Pa’chie Café, di sinilah nantinya gig tur kami akan diselenggarakan. Saat berkenalan kami mengetahui bahwa ternyata Bang Ameng berasal dari Pontianak juga. Kami disajikan kopi khas Pontianak oleh Bang Ameng, beliau berani menjamin kalau rasanya tak kurang sama dengan rasa kopi di salah satu warung kopi terkenal di Pontianak.
Di sana kami berkenalan dengan Herman vokalis dari band Catatan Kaki, kami sempat diajak melihat video live perform mereka. Dan senangnya ketika Herman memutuskan untuk membeli rilisan fisik kami.

Akhirnya jam 12 malam  kami diantarkan ke rumah milik Wawan (salah satu drummer band metal Palangka Raya), di sinilah kami akan menumpang beberapa hari selama di Palangka Raya. Maklum, duit bekal semakin menipis. Kami disambut oleh Wawan yang sebelum kami tiba masih tertidur pulas dan terbangun oleh gedoran pintu dari teman-teman Palangka Raya. Mengawali perkenalan kami dengan Wawan, kopi disajikan oleh tuan rumah sebagai kata sambutan. Beberapa tim yang kelelahan langsung beristirahat, sisanya berbagi cerita dengan Wawan.


Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga
Foto oleh : WR Management Team

Wednesday, August 22, 2018

SKEPTIKAL mengirim SURAT untuk kita semua!

Bertepatan dengan hari peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun 2018 ini SKEPTIKAL merilis sebuah video musik berjudul Surat Untuk Tuanku. Sebuah cara dari SKEPTIKAL untuk terus bersuara bersama korban pelanggaran HAM, para pembangkang yang tak gampang puas pada janji palsu dunia, dan tentu saja anak muda yang masih punya semangat melawan ketidakadilan di dunia.

SKEPTIKAL adalah sebuah band punkrock yang masih baru di Pontianak. Umur yang singkat tak menghalangi mereka untuk segera merampungkan sebuah EP berjudul Tegangan Tinggi. EP tersebut didistribusikan melalui Spotify. Lagu Surat Untuk Tuanku ini juga merupakan bagian dari EP Tegangan Tinggi.


LAS! Merilis Video Musik "HASTA LA VISTA"

Rombongan anak muda yang tak pernah lelah berteriak tentang keresahan mereka pada situasi yang terjadi di tanah Borneo, mereka adalah LAS!. Nama yang dipilih sebagai akronim dari Lost At Sea band mereka terdahulu. Sejak memprokalimirkan eksistensi pada 2015 band ini langsung mencuri perhatian, baik melalui aksi panggung, ocehan - ocehan ketika ngopi maupun di laman media sosial, dan tentu saja melalui sederetan slogan dan lirik yang merupakan keresahan sekaligus semangat mereka bagi tanah Borneo.

Pada 8 Agustus 2018 LAS! merilis sebuah video musik sekaligus juga single lagu Hasta La Vista. Untuk video musik mereka bekerja sama dengan Satu Derajat, sebuah komunitas audio visual di Pontianak. Sementara lagu nya sendiri juga dirilis di aplikasi streaming musik online seperti Spotify dan iTunes. Video musik nya digarap dengan sangat baik, menampilkan tempat - tempat yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh kita di sudut kota Pontianak. Lagu Hasta La Vista bercerita tentang bagaimana semangat dan harapan dapat muncul setelah perpisahan, asalkan kita mampu merelakan.


Sunday, August 12, 2018

POJOK PUSTAKA PTK (edaran pers)

Halo...Perkenalkan kami POJOK PUSTAKA PTK
Pojok Pustaka PTK adalah sebuah ruang alternatif dalam bentuk perpustakaan yang berisi koleksi bacaan yang mencakup zine, buku, dan berbagai macam media cetak alternatif lainnya (newsletter, pamflet, booklet, jurnal, dll). Keberadaan Pojok Pustaka PTK bertujuan agar koleksi bacaan yang dimiliki dan ruang yang kami sediakan dapat diakses oleh sebanyak - banyaknya orang. Kebebasan akses dalam hal ini mencakup aktivitas baca di perpustakaan kami, peminjaman koleksi bacaan, ataupun turut serta berpartisipasi dalam mengembangkan perpustakaan ini dengan menyumbangkan zine dan koleksi bacaan lainnya.
Seluruh koleksi bacaan yang ada saat ini di perpustakaan saat ini di perpustakaan berasal dari sumbangan koleksi pribadi beberapa teman. Zine - zine yang ada merupakan koleksi zine dari seluruh Indonesia dan luar Indonesia. Koleksi zine yang ada saat ini terdata berjumlah 759 judul meliputi beragam kategori zine yang ada (personal, musik, politik, grafis, sastra, dll. Koleksi buku yang ada terdata sebanyak 358 judul meliputi buku - buku dengan tema agama, filsafat, sosial, politik, budaya, ilmu pengetahuan, dan sastra. Katalog zine dan buku dapat diakses di google drive kami .
Pojok Pustaka PTK beroperasi secara mandiri dan bukan untuk tujuan profit. Kami ingin memperbanyak ruang alternatif yang sebelumnya sudah ada diciptakan oleh teman - teman di Pontianak. Keberadaan ruang - ruang alternatif ini sangat diperlukan untuk terus mengupayakan terciptanya kesempatan bagi kita semua untuk beraktivitas, berkreasi, dan merealisasikan mimpi. Segala seluk beluk operasional perustakaan saat ini kami upayakan secara mandiri. Didalam ruang perpustakaan kami ada beberapa rak yang berisi produk dari berbagai komunitas teman - teman kami yang dijual dan hasilnya untuk mendukung kebutuhan operasional perpustakaan. Kami juga menyediakan jasa fotokopi zine bagi teman - teman yang mungkin mau memiliki beberapa zine dari koleksi kami.
Saat ini kami menempati sebuah ruangan kecil didalam area Parklife Space (sebuah tempat nongkrong dengan berbagai lapak makanan dan minuman). Perpustakaan kami bisa dikunjungi setiap hari sesuai dengan jam operasional Parklife Space. Silahkan datang berkunjung untuk membaca, ngobrol, melihat - lihat, ataupun sekedar mendapatkan tempat untuk berteduh. Mungkin kalian tidak akan bertemu petugas perpustakaan yang selalu berada di perpustakaan tersebut, tapi perlu diingat bahwa seluruh koleksi bacaan yang ada di perpustakaan Pojok Pustaka PTK bebas kalian baca. Silahkan bertanya ataupun sekedar permisi dengan karyawan Parklife Area yang kalian temui.
Sejatinya Pojok Pustaka PTK ini tidak kami bangun hanya sebagai tempat untuk duduk dan membaca saja. Kami teruka dengan berbagai kolaborasi bersama kalian, tentunya berdasarkan kesepakatan bersama dan sesuai dengan nilai - nilai kebebasan yang kami yakini.

Pojok Pustaka PTK
Alamat :Jl. Karimata No.64
Pontianak - Kalimantan Barat
Indonesia
WA : +6285652348339
Email : revivalpropaganda@gmail.com
Instagram : @pojokpustakaptk
Facebook page : Pojok Pustaka PTK