Wednesday, July 25, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 19,20,21,22-07-2018 "Akhirnya, Balikpapan!"


19 Juli 2018
Jam 12.00 Wita rombongan meninggalkan penginapan di Samarinda. Rasa-rasanya kami belum rela untuk segera beranjak dari kota ini, karena disini terlalu menyenangkan. Sungguh begitu nyata kehangatan dekapan pertemanan dari teman – teman Samarinda. But, life must go on. Jadwal kami masih panjang, dan ini baru titik pertama.
Sebelum menempuh perjalanan menuju Balikpapan, kami menyempatkan untuk berkunjung ke Islamic Center Samarinda Baitul Muttaqien. Mengabadikan momen bersejarah kami di Mesjid terbesar kedua se Asia Tenggara setelah Mesjid Istiqlal. Menurut informasi, pemasangan tiang pancang pertamanya disaksikan langsung oleh Presiden Megawati pada tahun 2001 dan membutuhkan tujuh tahun masa pembangunan. Pada tahun 2008 Mesjid ini diresmikan oleh Presiden SBY.
Perjalanan ke Balikpapan kami mulai pada jam 15.30. menempuh jarak kurang lebih 121km. Hampir sepanjang jalan pandangan mata kami dihijaukan oleh kawasan hutan lindung. Medan jalan yg berbukit semakin membuat kami dapat menikmati hijaunya alam lebih lama, karna kendaraan tidak dapat melaju secara maksimal.
Menurut kabar, saat ini telah dibangun jalan tol antar Samarinda-Balikpapan, dan bahkan katanya akan diresmikan tahun ini juga. Dengan adanya jalan tol ini, perjalanan akan terpangkas jadi hanya 1,5 jam. Tapi kami masih cukup senang dengan jalan berbukit tadi dengan pemandangan yg menyegarkan mata.
Ketika sampai di Balikpapan jam sudah di angka 18.30, benar – benar  tiga jam perjalanan yang menyenangkan. Kami pun disambut oleh teman-teman dari Lagulama Kolektif, bahkan mereka sudah menyiapkan tempat untuk kami bermalam, yaitu di Ikhwan Guesthouse. Sekali lagi kami mendapatkan sambutan yang luar biasa baiknya dari teman-teman di Kalimantan Timur.
Kami beristirahat sejenak sambil mandi dan bersih-bersih. Malamnya kami pergi ke tepian pantai, menghilangkan penat dan mencari kesegaran sambil menyeruput kopi yang memang dibutuhkan untuk melawan angin kencang di pantai Balikpapan.
Sisa malam kami habiskan di warung angkringan di sekitaran penginapan, ditemani teman-teman Lagulama Kolektif kami berbagi cerita selama perjalanan dan tentang gig pertama di Samarinda.

20 Juli 2018
Hari ini kami habiskan dengan bermalas-malasan di kamar, selain karena jadwal yang memang kosong, ditambah dengan kondisi badan yang belum fit sepenuhnya. Puaslah kami tidur sampai siang hari. Dan bisa dibilang ini merupakan hari libur ditengah perjalanan tur/liburan kami. Siangnya kami pergi untuk mengisi perut, sekalian menyempatkan berjalan melihat-lihat situasi kota Balikpapan. Kami berharap ketemu landmark yg bisa kami abadikan untuk konten foto ataupun vlog.
Sayangnya, kota ini terlalu luas untuk kami jelajahi dalam waktu singkat. Hampir semua pemandangan yang ada berupa kantor, pertokoan, rumah makan berkonsep modern. Susah sekali untuk kami menemukan bangunan bersejarah.
Perkembangan industri disini begitu pesat, bisa dikatakan Balikpapan termasuk salah satu kota besar di Indonesia. Banyak juga pekerja yang berdatangan dari luar daerah. Hal ini berdampak ke gaya hidup teman-teman disini, seperti layaknya kehidupan modern di Jakarta. Begitu juga gaya hidup ini akhirnya mempengaruhi cara pertemanan mereka.
Disini kami mencoba memahami cara pertemanannya teman – teman Balikapapan, salah satunya agar kami dapat masuk bergaul di sela-sela mereka. Karena situasi disini jauh berbeda dengan di Samarinda. Tapi pada akhirnya, mereka semua disini adalah manusia-manusia baik yang bersedia menerima teman barunya datang dan berbagi cerita. Dengan cara mereka sendiri, dengan gaya rock n roll mereka sendiri, dengan gaya pertemanan modern yang mengasyikkan.

21 Juli 2018
Hari selanjutnya Wai Rejected memiliki jadwal interview di radio KPFM Balikpapan. Selalu menjadi hal yang menyenangkan ketika interview di radio. Selain kami bisa berkenalan dengan warga Balikpapan melalui perantara suara di radio, kami pun selalu terhibur dengan candaan dari penyiar radionya. Ya ini menjadi sedikit hiburan di tengah perjalanan yang masih panjang.
Malam harinya kami bersama teman-teman Lagulama Kolektif pergi menonton konser The Sigit. Dan ternyata, kami semua sedikit kecewa dengan keseluruhan rangkaian acaranya, bukan dengan The Sigit nya yah. Kekecewaan kami berawal dari sound out yang kurang maksimal, bisa jadi pemilihan venue yang kurang tepat, atau memang sound system yang kurang memadai. Ditambah lagi dengan penampilan band pembuka sebelum The Sigit, dengar-dengar cerita ternyata ada masalah antara pihak Vendor dengan teman-teman LagulamaKolektif. Sesuatu yang biasalah, sebuah perusahaan besar yang merasa menjadi raksasa lalu seenaknya saja mau memanuver pergerakan teman-teman Lagulama Kolektif.
Seperti malam sebelumnya, sisa malam dihabiskan di Angkringan dengan tema obrolan seputar kekecewaan terhadap acara tadi.

22 Juli 2018
Pada hari berikutnya tepat jam 15.00 Wita, kami memulai interview di Onix radio. Total sudah empat interview radio yang dilakukan selama kami berjuang di belahan timur tanah Kalimantan ini. Kesan yang tumbuh setelah beberapa kali mengunjungi radio dalam tur kali ini adalah, radio disini masih hidup dengan sewajarnya. Masih benyak pendengar, masih menjadi referensi musik-musik baru, dan masih menjadi tujuan untuk teman-teman band melakukan promonya. Kabar itu kami dengar dari teman-teman radio itu sendiri sih, pun kalo mereka bohong, bangunan-bangunan megah serta konsep radio modern yang mereka tampilkan tidak dapat membohongi bagaimana kemajuan radio-radio disini.
Setelah itu, kami langsung menuju lokasi kedai Borneo Country Bar untuk melakukan sound check. Disini sempat terjadi salah paham antara Theo (keyboard & guitar) dan Alfa, manager kami sekaligus merangkap sebagai soundman dadakan di tur kali ini. Sedikit keributan tentang masalah teknis di atas panggung.
Namun masalah tersebut segera secepat mungkin kami selesaikan, hal seperti ini memang sudah sering terjadi, dan lagipula kondisi yang tidak harmonis ini sangat tidak baik untuk jalan kami kedepannya. Kami rasa mereka sudah cukup dewasa untuk menyikapinya, masalah seperti ini mudah terjadi dalam kondisi tubuh yang lelah, ditambah dengan kondisi keuangan kami yang semakin menipis. Hahaha. Pada akhirnya masalah selesai dan kami pulang ke penginapan untuk bersiap-siap manggung.
Kami kembali ke venue sekitar jam 20.00 Wita, dan acara baru saja dimulai. Panggung dibuka oleh teman-teman dari Flat Head, unit Rock N Roll ini membawakan empat buah lagu. Yang menarik, pada salah satu lagunya, mereka berkolaborasi dengan Ega, seorang cewek cantik yang sukses membuat para penonton semakin menggila.
Selanjut ada penampilan band Stoner asal Balikpapan yaitu Sejak 1990. Seperti namanya, para penonton seolah diputar kembali ke era 90an. Piye? Seh penak jaman ku toh. Hahaha.
Panggung berganti tema seiring dengan dimulainya lagu pertama dari Moski. Suasana menjadi lebih tenang, tanpa berteriak dan berjingkrang, kami para penonton terbawa dengan sing along ala mereka.
Penampilan terakhir sebelum kami adalah SORANG, band yang malam ini hanya diwakilkan oleh Erfan (vokal dan gitar) dan Gilang (gitar) sangat ampuh merelaksasi para penonton. Nada folk yg memanjakan sedikit membuat kami ingin terlelap, namun dari sisi lain kami dibakar oleh lirik-lirik yang tajam tentang topik sosial kemanusiaan. Dan semakin menjadi-jadi keseruan dengan penampilan sound dari Gilang. Penonton yang terlihat mulai reda malah serempak duduk melantai menikmati penampilan mereka. Empat buah lagu pun tak terasa telah mereka selesaikan.
Dan akhirnya inilah yang kami tunggu, panggung pertama kami di Balikpapan. Acara dengan penampilan empat band yang keren tadi, akan kami tutup malam ini dengan sesuatu yang tak mau kalah kerennya. Kami dari Pontianak, jauh-jauh datang untuk kita berkenalan secara personal, ini saatnya kami memperkenalkan WAI REJECTED.
List lagu yang kami mainkan masih sama seperti di Samarinda. Terbitlah Terang dan The World Talks jadi dua lagu awal sekaligus pemanas dengan overdrive tanpa putus. Lanjut ke Propaganda, synth kelam jadi pengantar diawal lagu ini, sesaat penonton terdiam, barulah kembali berontak di tengah dan akhir lagu. Suhu semakin panas dengan berakhirnya lagu Tabu, hentakan Bass dan Drum dari awal lagu tentulah tak bisa membuat penonton punya daya untuk menolak bergerak, sehingga keletihan semakin menjadi. Kemudian kami pilih lagu Intensi untuk sejenak mendinginkan para penonton yang sepertinya cukup menikmati lagu  dengan gelengan kepala saja. Setelah itu kami panaskan lagi dengan Reason To Fight, penonton kembali berlompatan sesuai irama. Lagu ketujuh adalah Oh My, kami sedikit menceritakan tentang isi lagu tersebut, sisi kemanusiaan yang hilang oleh amukan kepentingan. Not the fight for who's wrong or right. Nothing left, but shore and people will die more. Perang tanpa kemenangan, perang hanya kematian pada dua kubu berlainan.







Terakhir, kami memainkan single pertama di album Terbitlah Terang, yaitu lagu Rewind. Akhirnya penonton yang mulanya hanya berjingkrang tanpa suara, di lagu ini mereka dapat ikut bernyanyi. Mereka hapal karena sudah terbiasa mendengar single ini dari kanal musik digital, video di Youtube, ataupun mereka yang memang sengaja membeli album fisik kami dari Demajors Store. Akhirnya pesta selesai dan kami semua berpelukan giliran layaknya keakraban yang sudah terjalin lama, padahal nyatanya kami semua terkadang sering lupa nama satu sama lain, maklumlah baru beberapa malam kami disini.
Diluar venue, malam diguyur dengan hujan lebat, sehingga kami yang belum bisa beranjak pulang ke penginapan, melanjutkan bercerita mengenai pengalaman di selasar depan. Balikpapan yang belakangan panas tanpa hujan akhirnya tergerus oleh dinginnya hujan tengah malam.




*Teks oleh : Theo
*Edit oleh : Aldiman Sinaga
*Foto oleh : Wai Rejected Team


1 comment:

  1. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.

    Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

    Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.

    Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.

    ReplyDelete