Sunday, April 8, 2018

Saling Sharing MOUTH ORGAN (berkenalan dengan alat musik mouth organ lintas budaya)



 Tiga musisi muda, tiga alat musik, tiga negara disatukan oleh musik.

Pada hari Kamis, 5 April 2018 di Canopy Center Pontianak ada tiga orang musisi yang duduk bersama memainkan dan memperkenalkan alat musik mouth organ. Mouth organ adalah alat musik yang terdiri dari batangan pipa bambu yang diikatkan bersama, kemudia menghasilkan bunyi melalui satu sumber tiupan. Mouth Organ diperkirakan asal asli nya dari daratan Cina Selatan, dan akhirnya tersebar ke Jepang, Asia Tenggara, dan tak ketinggalan Kalimantan Barat. Mouth Organ di beberapa tempat adalah alat musik yang sudah hampir punah, khususnya di Kalimantan Barat. Di Kalimantan Barat ini Yadi bersama grup musiknya Balaan Tumaan dan juga dengan jejaring sesama pemain mouth organ negara lain (di video ini bersama Eleanor dari Sabah dan Junichi dari Jepang) sedang berusaha untuk menelusuri akar dari alat musik mouth organ dan juga sekaligus melakukan upaya - upaya pelestarian.





Berkaitan dengan upaya – upaya dari ketiga musisi itulah diadakan acara yang berjudul SALING SHARING ini. Dimulai dari pemaparan Junichi Usui mengenai alat musik mouth organ asal Jepang yang bernama Sho. Sho di Jepang biasanya dimainkan dalam sebuah grup ansambel kesenian Jepang yang bernama Gagaku. Ciri permainan Sho lebih mengalir, tidak terlalu banyak progresi dalam memainkan Sho.
Kemudian pemaparan oleh Eleanor mengenai mouth organ yang berasal dari Sabah, Malaysia Timur yang bernama Sompoton. Di Sabah alat musik Sompoton ini cukup dikenal oleh masyarakat. Oleh karena itu Sompoton di Sabah sudah dikembangkan hingga ke bentuk yang lebih modern. Akan tetapi memang kepopulerannya masih tidak sebanding dengan kepopuleran dan pelestarian alat musik seperti Sape’. Eleanor menjalankan usaha pelestarian Sompoton dengan membuat “Sompoton Farm”, sebuah tempat untuk membudidayakan bahan utama Sompoton, melestarikan produksi Sompoton, dan belajar Sompoton.
Diskusi berjalan menarik dengan dihadiri oleh sekitar 12 pengunjung. Dimulai dari pertanyaan mendasar mengenai cara memainkan Sompoton ataupun Sho, bahan dasarnya, anatomi didalam kedua alat musik tersebut, masalah – masalah yang dihadapi di tempat masing – masing, dll. Salah satu yang masih terus diusahakan adalah menelusuri jejak persebaran mouth organ hingga sampai ke kapan dan dimana tempat asalnya di dunia ini. Karena persebaran mouth organ pada saat ini bisa dibilang sangat acak dan jalurnya melompat – lompat. Hal ini bisa juga dikarenakan ada beberapa tempat yang sudah tidak memiliki catatan mengenai keberadaan instrumen mouth organ di daerahnya. Hal tersebut pernah ditemukan dan dialami Yadi bersama Balaan Tumaan ketika pertama kali menemukan Kadedek (mouth organ dari Kalimantan Barat) di Melawi dan Kapuas Hulu. Di Kalimantan Barat sendiri saat ini sudah tidak banyak yang kenal Kadedek, tidak banyak juga yang bisa memproduksi alat tersebut, selain itu alat musik Kadedek juga kurang digemari karena cara memainkannya yang cukup kompleks.
Akan tetapi usaha pelestarian mouth organ ini tidak hanya berbicara pelestarian seni dan budaya semata. Seperti yang dikatakan oleh Eleanor bahwa ketika membicarakan instrumen mouth organ di Kalimantan dan Sompoton dari Sabah khususnya akan sarat dengan nuansa spiritual dan simbol – simbol kelestarian alam. Mempertahankan mouth organ di Kalimantan juga menyimbolkan bagaimana kita menghargai dan mempertahankan hutan Kalimantan. Karena di Kalimantan instrumen mouth organ seluruh bagian didalamnya menggunakan bahan – bahan alami dari hutan.
Kedepannya masih perlu banyak aksi dalam pergerakan memperkenalkan dan melestarikan instrumen mouth organ ini. Didalamnya termasuk terus berjejaring dengan penggiat ataupun pemain mouth organ dari berbagai negara. Selain itu perlu ada tindakan akulturasi bagi alat musik mouth organ. Salah satunya yang dilakukan oleh Yadi adalah dengan memasukkan materi pelajaran mouth organ di kampus seni Pontianak tempatnya mengajar. Dan tentunya dengan terus bergerak bersama band nya Balaan Tumaan.


No comments:

Post a Comment