Friday, February 16, 2018

Review Film : FALLEN STARS

Sumber : www.imdb.com


Jika suatu saat kalian secara tidak direncanakan mampir di sebuah tempat penjualan DVD bajakan secara random saja, bagaimana cara kalian menentukan DVD film mana yang akan kalian beli? Buka aplikasi IMDB di hp? Kemungkinan daerah sekitar tempat jual DVD itu sinyal dari operator apapun jelek. Berusaha mengingat – ingat rekomendasi film yang tiga hari lalu baru saja didapat dari sebuah akun di Facebook? Ah, tadi aja dalam perjalanan ke tempat jual DVD kalian sudah terjebak kemacetan, hal tersebut berpotensi menghapus memori ingatan kalian untuk beberapa hari kebelakang. Memilih berdasarkan rekomendasi karyawan yang kerja di tempat jual DVD? Omong kosong, selera satu orang tak bisa sama dengan orang lainnya. Lalu? Buat saya cara paling sederhana adalah LIHAT COVER NYA! You always can judge anythig from it’s covers!



Fallen Stars, kalau dari judulya saya mungkin akan langsung teringat dengan film There Is Fault In Our Stars. Tapi hal utama yang membuat saya memutuskan untuk membeli DVD film ini adalah karena cover nya. Cover DVD nya menampilkan foto wajah dua orang tokoh utama film ini Ryan O’Nan dan Michelle Ang. Michelle Ang, kalian kenal siapa dia? Saya tidak terlalu perduli! Parasnya sungguh mencuri perhatian. Kecantikan alami wajah – wajah wanita Asia. Mata setengah sipit, hidung tak terlalu mancung, tulang rahang yang tidak tegas, pipi sedikit bervolume, bentuk bibir yang simetris, dan rambut hitam lebat alami. Kecantikan alami wanita Asia ada di parasnya Michele Ang. Dan di samping wajah Michelle Ang ada sebuah tulisan berbunyi LOST IS BETTER TOGETHER. Oke.

Fallen Stars adalah sebuah film sederhana yang latar ceritanya adalah kehidupan sehari – hari yang sangat sederhana. Cooper (Ryan O’Nan) adalah seorang bartender berusia 36 tahun yang tak punya tujuan hidup apa – apa selain rutinitas pekerjaannya disebuah Cafe yang tidak terlalu terkenal. Cerita film ini dibuka dengan adegan dimana pada suatu pagi Cooper harus berpisah “begitu saja” dengan seorang wanita yang habis menjalani one night stand bersamanya. Berpisah begitu saja dengan sebuah kalimat perpisahan dari Cooper yang sungguh hanya sekedar basa – basi “mungkin kita bisa melakukannya lagi kapan-kapan”. Padahal bahkan si wanita pun tidak bisa mengingat nama Cooper, pria yang sudah berbagi desah bersamanya tadi malam.

Lanjut ke adegan berikutnya dimana Daisy (Michelle Ang) sedang bercengkrama dengan seekor anjing yang menarik hatinya di sebuah tempat penangkaran anjing. Daisy yang tidak berani menunjukkan dan mengungkapkan perasaannya, berusaha menunjukkan dirinya yang seolah – olah tangguh, sungguh angkuh.

Bagian awal film menunjukkan semua hal yang terjadi di hidup kita sebagai sebuah rutinitas belaka, repetitif, kosong, dan hampir tanpa makna. Ada seorang pria tambun yang sudah bercerai bernama Ron. Dia setiap malam mampir dan minum di Cafe tempat Cooper bekerja. Yang bisa dia lakukan hanyalah mengeluarkan lelucon – lelucon basi dan tidak lucu. Usaha yang paling bisa dia lakukan untuk menghibur dirinya, mungkin menghibur Cooper, dan jelas berusaha mengisi ruang antara mereka berdua dengan percakapan yang tak menyentuh keduanya sama sekali. Lalu Gwen partner kerja Cooper di Cafe tersebut, yang menghabiskan jam kerja nya setiap malam dengan memberi senyum palsu dan berusaha memastikan bahwa setiap pengunjung cafe merasa nyaman. Juga Joyce seorang wanita setengah tua yang merasa depresi dengan hidupnya yang selalu diisi kerja dan kerja, beberapa kali dia berusaha membujuk Cooper untuk mau memenuhi hasrat seksualnya yang sudah di puncak dahaga.



Film ini adalah cermin bagi kita semua para manusia rutinitas. Pergi pagi pulang sore, pergi pagi pulang malam. Senin hingga Sabtu dengan hari Minggu yang konsumtif. Semua hal – hal sederhana dari hidup kita yang sepertinya biasa – biasa saja. Kita semua yang sering bertanya “untuk apa semua yang aku lakukan di hidup ini?”, “apa tujuan hidupku?”. Itulah Cooper yang malang. Menghabiskan 10 tahun hidupnya dalam rutinitas sebagai bartender di cafe dengan berlalu begitu saja. Hari – hari hidupnya yang berlalu begitu saja, hanya kerja, rumah, dan kerja lagi. Cooper yang jenuh dengan hidupnya. Tapi alih – alih untuk berani mengambil langkah perubahan, bahkan dia pun tidak mengerti harus bagaimana dan melakuka apa untuk hidupnya. Lalu Daisy yang sombong. Manusia kesepian dan rapuh tapi sok kuat. Dia adalah seorang penulis terkenal, tapi kesepian. Hidupnya sungguh sangat “baik – baik saja”. Hal tersebut justru menjadikan dirinya super insecure. Penuh rasa curiga dan tertutup dengan hal lain diluar dirinya.

Cooper dan Daisy akhirnya dipertemukan di oleh “momen kebetulan” di Cafe tempat Cooper bekerja. Entah disengaja atau tidak Daisy kerap kembali datang ke Cafe tersebut untuk sekedar baca buku dan memesan segelas Camparii with soda. Cooper yang merasa nyaman berada didekat Daisy, tapi tidak berani menunjukkan hal tersebut secara detail dan jelas, apalagi mengatakannya. Daisy yang juga senang menghabiskan waktunya bersama Cooper, tapi karena sifat insecure-nya Daisy berusaha terus mengkokohkan tembok antara dia dan Cooper, sebagai sarana agar orang tak perlu mengetahui apapun dari dirinya dan hidupnya yang menurutnya “tidak ada apa-apanya” itu. Kata – kata andalan Daisy hanyalah it’s okay, nothing, not really. Seolah – olah tidak ada apapun yang menarik di dunia ini.

Cerita terus menuju klimaks. Cooper yang terus merasa bosann dengan rutinitas hidupnya dan juga terus bingung dengan bentuk relasi yang sedang dijalaninya dengan Daisy. Daisy juga terus membuat segalanya semakin rumit, padahal hal sederhana yang sungguh dibutuhkan hidupnya sebenarnya hanyalah “memiliki teman”.

Lost is better together. Sebuah ungkapan singkat penuh makna yang menjadi pesan besar yang berusaha disampaikan film ini. Hidup penuh kebosanan adalah hal yang paling memungkinkan kita hadapi di dunia yang semakin rumit ini. Kita adalah bagian dari 99% manusia di bumi ini yang tidak bisa berbuat banyak selain berkompromi masuk dalam jerat rutinitas sekolah, kuliah, kerja. Bahkan ber-wirausaha sekalipun, sebuah kegiatan yang sering secara berlebihan digembar – gemborkan sebagai sesuatu yang jauh lebih baik dibandingkan masuk dalam jebakan “majikan-bawahan”, juga memiliki potensi besar untuk jadi sebuah rutinitas kosong dan membosankan. Fallen Stars mau berkata bahwa kita butuh orang lain dalam hidup kita. Itulah kenapa di dunia ini tidak diisi oleh kita sendiri saja. Ada manusia lainnya di dunia ini, ada juga hewan – hewan yang turut melengkapi dunia ini dengan segala tingkah polah dan fungsi uniknya, ada tanaman, ada sinar matahari, ada kendaraan yang berlalu – lalang, dan lain sebagainya. Kita tidak semestinya bingung seperti Cooper ataupun insecure seperti Daisy. Kita semua saling membutuhkan satu sama lain sebagai penghuni semesta ini. Membuka diri, mau jujur, sadari kelemahan diri, buka wawasan, buka pandangan, kita tidak sendirian.

Karena ini adalah film Amerika, maka tidak perlu lagi saya jelaskan bagaimana ujung cerita film ini. Karena keseluruha film juga tidak bisa digambarkan hanya dengan sebuah ending. Direkomendasikan untuk kalian yang punya waktu senggang dan kondisi yang sedang fit tidak kecapekan untuk menonton film. Santai saja, siapkan waktu, kopi, dan cemilan. Tidak perlu ber-ekspektasi banyak dengan sebuah film ini. Tekan tombol play dan biarkan 1:25:00 dalam hidupmu berlalu.

No comments:

Post a Comment