Sunday, November 18, 2018

WEIRDOS mengeluarkan lagu bernuansa Pop Galau

WEIRDOS adalah sebuah band rock dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Melalui kendaraan perang bernama Sonic Fuzz Records mereka mengeluarkan sebuah karya lagu berjudul Feel Like A Stranger. Sebuah lagu buah dari curhatan Afif(vokal/gitar) yang merasa asing ditengah kerumunan yang tidak dia kenal. Curhatan itu berhasil membuahkan sebuah lagu yang lebih kalem jika dibandingkan dua buah single Weirdos sebelumnya. Seakan - akan lelah berteriak marah, nuansa lagu tembang kenangan bisa kalian rasakan di lagu ini. “Lagu ini diciptakan untuk semua orang yang pernah mengalami situasi asing ini. Semua orang pasti pernah. Dan saya yakin, semua orang pasti kena sama lagu ini. Lagu ini diciptakan untuk menjadi sahabat mereka saat kesepian dan sendirian,” terang Afif.



Weirdos direncakan pada tahun 2014 oleh 2 orang mahasiswa telat wisuda, Afif dan Aswin, di sekre kampus bersama, saat sedang gitaran. Selang berapa waktu, band ini terbentuk setelah tambahan 2 personel, Azwar dan Ari. Maka lahirlah Weirdos di akhir 2014 dengan formasi Afif (Vokal/gitar), Aswin (Drum), Azwar (Bass), dan Ari (Gitar). Nama Weirdos sendiri datang dari mulut Aswin saat latihan kedua mereka, yang langsung disetujui oleh personel lainnya. Pada tahun 2016, band ini merilis 2 single yaitu Plug and Play dan Weirdos di Soundcloud. Namun di tahun ini, kedua lagu tersebut akan dirilis ulang dalam versi remastered. Saat ini Weirdos juga tengah sibuk-sibuknya mempersiapkan album pertama mereka yang direncakan rampung tahun depan.  


Instagram/ Youtube/ Soundcloud: Weirdos_id
Lihat dan dengarkan Feel Like a Stranger di

Dua Video Baru dari Band Kalimantan Barat


Dennis Legstone adalah band Pop Punk dengan style New Found Glory, The Story  So Far asal dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Mereka sudah pernah merilis sebuah CD Demo pada event Record Store Day Pontianak 2016 dan juga sebuah CD Ep berjudul Start With Better Day pada tahun 2017. Single "Jadi Milik Ku" ini merupakan pemanasan mereka yang saat ini sedang dalam proses menuju album kedua.




DBHC (Deadly Beat) adalah sebuah band Hardcore Beatdown dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Band ini merupakan band yang sudah sangat lama eksis dan aktif di scene hardcore punk Singkawang. Mereka sudah merilis sebuah CD Ep pada tahun 2017/2016 dan beberapa waktu belakangan cukup produktif merilis video - video di channel YouTube mereka.

Friday, November 9, 2018

FVRQAN Menyuarakan Isu Konflik Ras melalui SUNYATA


FVRQAN adalah seorang MC asal Kalimantan Barat dimana sebelumnya telah meluncurkan album "ANTIPATI" sebagai buah kolaborasi antara Hip-Hop dan Penyair,dan kali ini ia telah mengeluarkan single baru berjudul "SUNYATA" yang menceritakan pembantaian etnis tionghoa yang ada di kalimantan saat rezim Soeharto. Kondisi kehidupan antar etnis yang diadu domba dan diatur untuk saling membunuh oleh kekuasaan negara melalui aparat sebagai moncong penindasannya. Situasi saling membunuh, saling membenci yang sengaja diciptakan demi memecah belah rakyat dan melanggengkan kekuasaan penindasan. Miris memang! Identitas alami manusia (suku, ras) bisa dipolitisasi untuk kepentingan tertentu. Bukankah hal seperti ini juga familiar bagi kita sekarang?


FVRQAN adalah seorang MC asal Kalimantan Barat dan kini tengah berdomisili di Yogyakarta. Karya – karyanya mencerminkan amarah, kepedihan yang terjadi dari segala ketidakadilan yang terjadi di bumi Kalimantan. Karya – karyanya bisa dinikmati melalui akun media sosial seperti YouTube dan Soundcloud.



Lirik :
Mengingat kembali suara tembakan di ujung desa
Terekam dalam retina
Tentang seorang ibu yang bergenang darah di perbatasan malaysia
Yang jatuh ke tanah setelah bunyi senapan menggema di udara
Lalu seorang paman berjalan perlahan merangkak dalam genangan darah
Karena dianggap bagian dari si merah
Sehingga lumuran darah adalah syarat untuk melewati pos-pos tentara
Yang setengah redup terekam dalam retina
Tanyakan mengapa!
Setiap etnis Tionghoa yang ada
Seolah hal biasa bagi genosida
Tanyakan mengapa!
Dimana singkawang dan pontianak adalah jalur pelarian yang tersisa
Bagi tiap nyawa yang mencari kebebasan untuk menghirup udara
Tanyakan mengapa!
Dimana malam terakhir bagi sisa kehidupan mereka
Adalah lembar yang sengaja dihapus dalam sejarah
Sehingga cahaya merah di malam-malam terakhir kehidupan
Menjelma sebagai doa-doa yang mengkutuk zaman
Menjelma sebagai karavan
Dari tiap pembantaian yang meludahi harapan
Kawan!
Tiap sayatan yang ada di dada para korban
Adalah bagian dari propaganda angkatan darat dalam merancang peradaban
Dengan balutan konflik antar-etnis yang ada di Kalimantan
Sehingga setiap tulisan ini adalah kontra kebisuan
Bagi hening dan nada-nada bimbang yang menjelma sebagai malam pembantaian
Sehingga setiap tubuh yang memenuhi lobang pembantaian
Hanya menjadi pelapis statistik yang meludahi zaman
Kuingat kembali seorang ayah yang disayat dari kerongkongan hingga ke selangkangan
Yang membuat kaki,badan dan tangan
Terpisah disaksikan tengkawang yang diam dan tak beralasan
Sehingga cahaya merah di malam-malam terakhir kehidupan
Menjelma sebagai doa-doa yang mengkutuk zaman
Menjelma sebagai karavan
Dari tiap pembantaian
Yang meludahi harapan
Yang meludahi harapan,dari tiap pembantaian!
(Sebuah catatan kaki dari badan dan kepala yang terpisah pasca '65)

FVRQAN – Sunyata :
Diciptakan oleh : Fvrqan
Direkam oleh : Fvrqan

Hubungi FVRQAN di :
YouTube : Furqan

Tuesday, November 6, 2018

ACARA MUSIK PONTIANAK DI BULAN NOVEMBER !!







Umar Haen Rilis Album Pertama Berjudul “Gumam Sepertiga Malam”


Umar Haen akan merilis album pada hari Jumat, tanggal 9 November 2018 besok. Album pertamanya ini diberi tajuk Gumam Sepertiga Malam dan dirilis oleh Akik Records, label rekaman independen hasil kerjasamanya dengan Buku Akik.

Album ini berisi 9 lagu yang diciptakan sendiri oleh Umar Haen. Gumam Sepertiga Malam dipilih sebagai judul untuk memberi bingkai konteks waktu dimana Umar Haen menumpahkan segala kegelisahan masa mudanya soal buku, pesta, dan cinta. Ia bernyanyi soal tongkrongan dan obrolan beralkohol, asmara yang penuh suka-luka, masa depan yang tak pasti, pendidikan yang tak selalu searah dengan usaha menjadi manusia, juga kecintaannya terhadap kampung halaman sebagai wujud penolakannya terhadap glorifikasi segala yang urban.

Proses pengerjaan album Gumam Sepertiga Malam telah dimulai sejak awal 2018 lalu. Album ini direkam di Rumah Baik Gowok, dengan Dhandy Satria berperan di bagian mixing dan mastering. Untuk menyempurnakan nuansa di beberapa lagu, Umar Haen mengajak Stefani yang memainkan cello. Pada ilustrasi, Umar Haen menyerahkan interpretasi visual kepada Kanosena Hartadi, dengan garapan layout packaging oleh Bambang Nurdiansyah. Keduanya merupakan seniman visual yang saat ini sedang naik daun.


Demi menyempurnakan proses berkaryanya ini, album ini akan dirilis dalam sebuah konser rilis yang dirancang dengan nuansa intim. Umar Haen akan mengundang teman-teman dan pendengarnya untuk merayakan pencapaiannya ini di Pusat Studi Lingkungan Sanata Dharma, di kawasan Gejayan, Yogyakarta. Harapannya, konser ini bisa jadi momen hangat dan istimewa dalam perjalanan karier Umar Haen ke depan. “Di konser rilis album nanti saya ingin memperkenalkan cara baru dalam mengapresiasi pertunjukan, yaitu dengan cara membayar dengan nominal bebas di pintu keluar. Jadi penonton tidak akan merugi, tak seperti membeli kucing dalam karung,” tambahnya. Album ini dirilis dalam bentuk CD dengan lisensi Creative Commons. Gumam Sepertiga Malam akan didistribusikan ke beberapa toko musik independen yang tersebar di Indonesia.





UMAR HAEN


Youtube : Umar Haen
Spotify : Umar Haen
Facebook Page: @umarhaenmusic
Instagram: @umar_haen
Contact:
Manajer - Titah AW (08113687993)

Saturday, November 3, 2018

Moon Healing sebuah soundtrack untuk penyembuhan karya MIFTAH BRAVENDA

by : Viki Mongcal

Moon Healing adalah sebuah karya musik dari musisi ambient electronic asal Serang-Banten, MIFTAH BRAVENDA. Sebuah karya yang bercerita tentang hiruk pikuk kehidupan manusia. Menanggapi kejadian guncangan alam yang terjadi belakangan ini, dirinya mencoba untuk menggambarkan sebuah kesedihan manusia yang berpisah dengan segala hal yang disayangi. Disamping itu, tak hanya menanggapi saja, Miftah sendiri mencoba untuk memberikan satu kehormatan kepada mereka semua yang mengalami sebuah perpisahan tersebut. Moon Healing resmi rilis digital pada Kamis, 1 November 2018. 
Moon Healing sudah bisa dinikmati melalui ruang digital seperti, Apple Music, Spotify, Deezer, Tidal dan lain sebagainya (semua terangkum dalam link ini : http://hyperurl.co/3j0a6k . Atau dengarkan di bawah ini :



Silahkan berkomunikasi dengan MIFTAH BRAVENDA melalui :
Email miftah.bravenda@gmail.com
Instagram @miftah_bravenda


Friday, November 2, 2018

Zine baru dari Sonic Fuzz Records Banjarmasin

Keberadaan zine sebagai sebuah media informasi dan komunikasi dalam sebuah komunitas musik bukan sebuah hal yang baru. Sejak 70an sampai dengan 80an ada banyak zine beredar di kalangan penikmat musik punk, metal, indie pop, dan hip - hop. Sebuah semangat yang baik, ada sistem kerja sama yang tercipta oleh para pelaku komunitas musik saat itu, sebagai musisi, penikmat, dan penggiat media (zine).

Bagaimana di zaman sekarang ini? Semenjak situs media sosial sudah bisa dimiliki oleh siapapun dan dengan jangkauan kemanapun dan kapanpun, sejak perusahaan rokok juga sudah bikin website untuk komunitas musik lokal, bagaimana zine mengambil posisi ditengah itu semua? Sonic Fuzz Records mencoba sebuah terobosan baru untuk menjawabnya. Adalah NET.I.ZINE sebagai perpaduan antara internet, instagram, dan zine sebagai media informasi yang diusahakan oleh teman - teman Sonic Fuzz saat ini. Zine dalam format digital dan diterbitkan dalam feed instagram mereka ini bukanlah pengganti zine cetak yang sudah mereka terbitkan sebelumnya. Mereka mau memaksimalkan berbagai cara untuk membagikan informasi yang mereka anggap penting dan perlu di "viral" kan. Generasi milenial saat ini sudah lebih akrab dengan layar gadget dibanding kertas. Maka dengan NET.I.ZINE ini berusaha menyasar generasi milenial yang setiap saat selalu nge-scroll feed instagram dan gak mau lagi repot - repot beli zine cetak.



Terbukti melalui statistik yang mereka pantau, pembaca dari postingan instagram NET.I.ZINE justru jauh lebih banyak. Akan tetapi, zine versi cetak tetap mereka produksi  karena nyatanya masih mendapat respon dari teman - teman diluar kota mereka (Banjarmasin). "Jadi menurut kami itulah inti dari zine cetak, menghubungkan sesama pecinta zine. Jadi banyak temen akhirnya", penjelasan dari Afif Aziya salah satu tim NET.I.ZINE.

Zine memang tidak pernah dibakukan harus selalu dalam versi cetak. Zine sendiri tidak cuma mengenai keberadaannya secara fisik, tapi juga semangat berbagi yang dibawanya sebagai sebuah konsep yang sangat - sangat mungkin untuk terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Silahkan cek edisi - edisi terbaru dari NET.I.ZINE di akun instagram Sonic Fuzz Records yaitu @sonicfuzz.

Monday, October 29, 2018

Pemutaran Film SLAVE TO THE GRIND "A Film About Grindcore" di Pontianak


DIY is Still Alive!!!!!!!!!!!!

Ada banyak hal yang tak pernah terpikirkan bisa terjadi dalam jejaring pertemanan yang disatukan oleh semangat Do It Yourself. Salah satunya dibuktikan dengan pemutaran perdana film Slave To The Grind di 29 kota di Indonesia pada akhir bulan Oktober ini. Dikejar oleh tenggat waktu yang singkat, bermodalkan komunikasi via grup what'sapp dan rasa saling percaya karena punya passion yang sama, orang - orang yang sebagian besar belum saling mengenal sebelumnya bisa merealisasikan sebuah tour pemutaran film.

Tak ketinggalan kota Pontianak juga turut ambil bagian dalam pemutaran film mengenai musik grindcore ini. Walaupun sebelumnya scene musik underground di Pontianak tidak pernah diisi oleh mayoritas band - band grindcore, tapi ternyata antusiasme yang baik masih ditunjukkan oleh simpatisan musik berisik ini di kota Khatulistiwa. Diselenggarakan dengan prinsip gotong royong bahu membahu oleh PTK Distribution, Layar Keliling dan juga Balai Kopi Pontianak sebagai penyedia tempat pelaksanaan. 

Acara dilaksanakan pada Minggu, 28 Oktober 2018 dengan sangat sederhana, santai, bersahabat, tanpa sponsor ataupun tetek bengek birokrasi lainnya. Cukup dengan publikasi digital melalui situs media sosial dan juga aplikasi perpesanan, kira - kira 22 orang hadir pada malam yang menyenangkan itu. Sempat molor sekitar 30 menit untuk menunggu teman - teman yang terpaksa terlambat hadir karena beberapa kendala. Sejak film diputar, para pengunjung sangat menikmati film yang disajikan dengan alur cerita yang merunut sejarah kemunculan hingga perkembangan grindcore. Selesai pemutaran film tidak sempat dilakukan sesi diskusi karena narasumber yang berhalangan. Para pengunjung segera mengumpulkan donasi selayaknya dan berhasil mengumpulkan uang sebesar Rp 251.000,- yang akan segera disetorkan kepada koordinator Pemutaran Slave To The Grind Indonesia setelah dikurangi biaya cetak stiker sebagia kenang - kenangan pengunjung.



Film ini digarap oleh rumah produksi Death By Digital yang berbasis di Toronto, Kanada, sejak tahun 2015 silam. Slave To The Grind merupakan film dokumenter sepanjang 100 menit, menceritakan kisah kelahiran genre musik tercepat dan paling agresif di dunia, hasil penggabungan antara musik Punk dan Metal. Slave To The Grind secara primer diputar dalam Calgary Underground Film Festival di Calgary, Kanada, tanggal 21 April 2018 lalu. Sebagai rangkaian promosi, film ini juga telah diputar di berbagai festival musik dan film di berbagai negara diantaranya Obscene Extreme (Ceko), Oakland Deadfest (AS), San Francisco Frozen Film Festival (AS), Grossman’s Fantastic Film and Wine Festival (Slovenia) dan masih banyak lagi.

Pemutaran film dokumenter Slave To The Grind di 29 kota di Indonesia dilakukan dengan cara beragam. Ada yang diselenggarakan bersama acara musik atau membuat diskusi dengan tokoh-tokoh musik setempat. Kedepannya kerjasama yang baik ini akan menghasilkan sebuah database kontak jejaring komunitas musik DIY di Indonesia








Tuesday, October 23, 2018

KONGSI MUSIK PONTIANAK Ngobrol Bareng LAS! "Maintenance Fans"

Photo oleh : Dede Artha

Kongsi Musik Pontianak adalah persatuan para penggiat musik (band/distro/record label/simpatisan) dari komunitas musik Pontianak. Dalam acara Pontianak Ekonomi Kreatif Expo dan Festival Kuliner, Kongsi Musik Pontianak hadir disebuah booth yang menjual rilisan fisik musik dan merchandise dari band - band Pontianak. Selain itu pada malam hari juga diadakan sesi ngobrol santai bersama beberapa band Pontianak.

Pada kesempatan kali ini Kongsi Musik Pontianak ngobrol bareng band LAS! mengenai apa yang mereka lakukan dalam me-maintenance fans.

LAS! adalah salah satu fenomena ditengah pergerakan komunitas musik Kota Pontianak saat ini. Berawal dari sebuah perjalanan mencari tenang setelah bubarnya Lost At Sea band mereka sebelumnya hingga akhirnya mereka mendapatkan pencerahan untuk membawa suara - suara dari tanah kelahiran mereka Borneo. Lagu Borneo Is Calling bisa dibilang jadi titik awal nama LAS! semakin dikenal sekaligus titik awal kemunculan Wild Bornean. Wild Bornean sekelompok pendengar LAS! yang tidak diorganisir ataupun distrukturisasi dengan kaku tapi terbukti bisa terus menjadi sebuah kekuatan dalam siklus kreatif LAS!.


Namun LAS! tidak ingin fanbase mereka pada akhirnya terjebak menjadi sebuah trend belaka, layaknya fanboy/fangirl yang mengidolakan boyband/girlband. Dengan berpegang teguh pada ideologi humanisme, kepedulian akan isu-isu ekologi dan sosial politik, serta tak lupa untuk tetap bersenang - senang terbukti LAS! bisa terus merawat keakraban dan kesadaran bersama Wild Bornean. Salah satu bentuk pengorganisirannya kemudian adalah Borneo Is Calling Foundation sebagai wadah untuk pergerakan/perjuangan sosial di Kalimantan.


Saat ini LAS! sedang berproses untuk rencana album baru yang akan dikeluarkan tahun depan. Untuk sampai pada tujuan tersebut, mereka pun tetap bergerak bersama Wild Bornean untuk mewujudkannya. DIAM DIAM KONSER menjadi sebuah usaha kolektif mereka untuk berbagi energi dan kesenangan di panggung random bersama Wild Bornean sembari mengumpulkan donasi untuk kebutuhan finansial produksi album.

Obrolan lengkap bersama LAS! bisa dilihat di video berikut :

Saturday, October 13, 2018

DÈTENTION merilis single Cult Of Delusionaries

Dua tahun berlalu sejak DÈTENTION merilis album pertamanya ‘Youth Detention Program for Reckless Teenagers’ (2016, Rimauman Music/Necros Records/Resting Hell). Kini mendekati penghujung tahun 2018 DÈTENTION kembali dengan amunisi baru yaitu lagu berjudul “Cult of Delusionaries”. Lagu baru dari band yang menerapkan etos DIY dalam geraknya sebagai band itu menyoroti fenomena gerakan keagamaan sektarian fanatik yang menjadi salah satu dinamika dan problematika politik dunia kontemporer yang kerap berujung dengan konflik yang tak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Lagu itu sendiri adalah bagian dari album kedua DÈTENTION. yang berjudul ‘Lullabies for A Broken World’ yang akan segera dirilis pada bulan Oktober/November 2018 oleh Rimauman Music, Necros Records dan Resting Hell.

Friday, October 5, 2018

Suare dari Kampung Beting, Manjakani Live Session di Tanjung Besiku

Sumber foto : SiasatPartikelir

Tanjung Besiku adalah sebuah tempat di ujung Kampung Beting, Pontianak. Tempat tersebut merupakan pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak di Kota Pontianak. Dulu sekali saya hanya bisa berkhayal untuk bisa duduk di Tanjung Besiku dan menyaksikan suasana matahari terbenam yang jatuh tepat dibelakang bangunan Kapuas Indah. Saya adalah salah satu orang yang terpengaruh stigma dan omongan miring dari orang - orang mengenai suasana didalam Kampung Beting. Orang luar dan tidak punya "keperluan khusus" seperti saya ini tentu tidak masuk kesana. Beruntung sekarang sudah ada waterfront/jalan setapak sepanjang tepian Sungai Kapuas di Kampung Beting. Tidak hanya saya sendiri, bahkan saya sudah jalan - jalan dengan Ibu kesana. Tapi tentu kami hanya jalan - jalan dan foto - foto di tepi kampung saja.

Beberapa hari lalu dua sejoli dari MANJAKANI sudah bermain gitar dan berdendang bersama anak - anak dan warga Kampung Beting di Tanjung Besiku. Sangat berharap kedepannya seni musik bisa menjadi salah satu komponen untuk penggerak perubahan di Kampung Beting, selain tentunya mengutamakan hal yang jauh lebih penting yaitu Ekonomi dan Pendidikan.

Friday, September 7, 2018

OUT NOW : FVRQAN - ANTIPATI (EP-PTK1805)


Sebagai sebuah label produksi rilisan musik, kegiatan mencari – cari band yang menarik untuk dirilis adalah sebuah kegiatan yang biasa dilakukan. Seringkali yang tidak biasa adalah proses menemukan band yang menarik tersebut. Seringkali yang terjadi adalah menemukan mereka ketika sedang berselancar di dunia maya. Tapi prosesnya berbeda ketika bertemu dengan FVRQAN.
Kami bertemu di meja warung kopi tanpa saling membuat janji. Saya berjanji bertemu dengan seorang teman, teman tersebut berjanji juga untuk bertemu teman lainnya, dan teman lainnya datang menyusul kami bersama seorang lainnya yang belum saya kenal sebelumnya. Dia adalah seorang mahasiswa perantau yang masih muda, tertarik dengan filosofi, memiliki amarah pada dunia, dan satu hal terakhir yang membuat saya langsung antusias adalah dia seorang rapper yang memiliki karya. “Mane aku mau dengarlah lagu kau!”, begitu saya berkata dengan penuh antusias.
FVRQAN (nama yang dikhususkan untuk proyek musiknya) memiliki gaya rappin yang tidak sering saya temui di skena lokal. Entah apa istilahnya, gaya rap dengan merapalkan kata – kata dengan sangat rapat dan bahkan lebih mirip dengan seorang emak – emak yang ngomelin anaknya. Mungkin kalian sudah bisa membayangkannya ya? Ciri lainnya adalah beat yang bernuansa gelap dan juga lirik (ditambah puisi) yang bermuatan sosial politik. Seketika saya dibakar semangat dan diterbangkan kepada ingatan beberapa tahun silam ketika bertemu dengan sebuah proyek solo rapper lain dari Pontianak, yaitu Balada Sungai Kapuas.
FVRQAN adalah Furqan,seorang putra Kalimantan Barat yang merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Pengalaman berhadapan dengan kenyataan yang terjadi di tanah Kalimantan kampung halamannya mungkin bertemu dengan gelora api aktivisme mahasiswa di kota pelajar, sehingga menghasilkan karya – karya seperti yang ada di album ANTIPATI ini.


Dalam album ANTIPATI ini FVRQAN berkolaborasi dengan seniman – seniman Kalimantan lainnya yang dijumpainya di Yogyakarta. Ada Yasir Dayak, Ivo Trias J, dan WAYnd yang menyumbangkan kreativitas hampir di seluruh lagu di album ini. Kehadiran seniman tamu tersebut tidak hanya menghasilkan sebuah gerombolan yang disatukan oleh identitas “anak Kalimantan” belaka, tapi turut menambah nuansa satir dan amarah yang hadir melalui lagu – lagu seperti Borneo Punah, Antipati, dan Manuskrip Belantara.
Mungkin kita bisa meletakkan kritik pada aspek – aspek teknis di bidang musik ketika mendengarkan karya ini. Silahkan saja, justru hal seperti itulah yang diperlukan. Tapi jangan lupa untuk meneliti juga lirik – liriknya dan kemudian meluangkan waktu untuk mencari tahu mengenai Kalimantan dan bagaimana pulau ketiga terbesar di dunia ini terus rapuh menghadapi ancaman penghancuran.

FVRQAN :
You Tube = Furqan
Instagram = @fvrqan_


Pontianak, 7 September 2018
Oleh : Aldiman Sinaga-PTK Distribution

Saturday, September 1, 2018

OUT NOW! Pesawat Tempur - Terbang

Pesawat Tempur adalah sebuah band dengan sound 90an asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Band ini baru saja merilis single pertama mereka dengan judul “Terbang”. Lagu Terbang ini adalah jalan alternatif atas kebuntuan dan stagnansi mereka pada band yang sebelumnya. 
Pesawat Tempur terbentuk di akhir tahun 2017, yang personelnya merupakan gabungan dari berbagai band dengan genre yang berbeda-beda. Di awal kemucunculan mereka di panggung Record Store Day Banjarmasin 2018 lalu, Pesawat Tempur dapat respon positif penikmat musik karena menyajikan lagu rock yang sederhana dan mudah nancep di kuping.

Pesawat Tempur adalah Eben (Vokal/Gitar), Agus (Bass), dan Adam Drum)

Silahkan berkomunikasi dengan Pesawat Tempur melalui :


Dengarkan single Terbang dibawah ini :




Friday, August 31, 2018

#TERBITLAHTERANGTOUR 10&11-08-2018 "Semua ini adalah sejarah untuk kami Wai Rejected"

10 Agustus 2018
H-7 Hari Raya Kemerdekaan Indonesia, semoga setelah ulang tahunnya Negara kita g gini-gini aja. Amin


Tinggal satu kegiatan kami hari ini, berkunjung ke Kece Café untuk meminta izin kepada pemiliknya agar gig tour kami bisa diadakan di sana. Pemiliknya adalah Bang Berry, namun saat jam 10 pagi kami kesana beliau masih ada kerjaan di dalam hutan. Sekedar info Bang Berry adalah seorang aparat kepolisian dan yang kami dengar beliau sedang mengejar buron yang kabur ke hutan. Sayangnya kami tak sempat menanyakan kasusnya, yang pasti bukan tindak pidana korupsi. Lagipula di dalam penjara pun para terpidana korupsi tetap hidup nyaman seperti di luar penjara. Ngapain mereka harus kabur ke hutan? Hahahaha

“Korupsi adalah kejahatan luar biasa, tindak keji merampok hak-hak warga Negara. Menghina akal sehat jika penjara malah amat mewah”, kutipan dari Pura-Pura Penjara oleh Najwa Shihab.

Di sana, kami bertemu dengan Eki bassist band V-five, dia yang menjadi orang kepercayaan bang Berry untuk mengurus Kece Café. Obrolan tidak berlangsung lama karena memang sebelumnya Pieter telah menghubungi bang Berry via telpon. Dan akhirnya deal acara akan diadakan di Kece Café besok malam.

Setelah itu, kami semua ngopi di tempat kemarin. Di sana juga ada teman-teman KOMISI juga ada Faisal She’s Bro dan Bang Arif.

Sore hari menjelang malam kami habiskan di alun-alun kota. Alun – alun tersebut menghadap ke sebuah sungai yang tengah surut. Suasana diterpa hembusan angin yang menyenangkan dan berada di tempat asing di tengah teman baru, semua yang terjadi selama tur ini akan sulit diulang kemudian hari, semua ini adalah sejarah untuk kami pribadi dan kami sebagai Wai Rejected.

“Hidup adalah keindahan sesaat di dunia yang sesat”
  



11 Agustus 2018
Sebagai seorang anak band atau musisi, tak ada hal yang lebih menyenangkan daripada berdiri di atas panggung dan memainkan karya sendiri. Dan hari ini kami akan memperkenalkan semua lagu di album Terbitlah Terang kepada para penikmat musik di kota Sintang. Semoga apa yang direncanakan berjalan lancer, agar terbayar lunas semua kerja keras kami demi gig di sini.

Tepat jam 11 siang kami tiba di Kece Café dan disambut dengan kondisi listrik padam. Kami mulai memasang set keperluan panggung hingga jam 2 siang, dan sementara listrik belum juga menyala. Ketika kami sedang bosan-bosannya menunggu listrik nyala, datanglah bang Berry sang pemilik cafe. Kami semua berkenalan dan bercerita panjang lebar dengannya. Di balik wajahnya yang berkarakter keras bahkan bisa dibilang sangar, bang Berry adalah sosok yang sangat menyenangkan ketika berbicara dan sangat baik perlakuannya kepada kami. Kami pun tak segan untuk bercanda sembari membuang penat bersama Bang Berry.

Sekitar jam 5 listrik baru menyala. Kami pun berlomba dengan waktu yang sudah tak panjang lagi, agar secepatnya dapat menyelesaikan check sound. Check sound adalah sebuah ritual yang wajib dilakukan karena hal ini adalah salah satu faktor penting demi tercapainya klimaks ketika tampil. Maka dari itu kami masih heran bahwa banyak diantara teman-teman band lain yang menganggap hal tersebut tidaklah penting.

Sekelas band nasional saja masih tetap melakukan check sound waktu tampil di Pontianak, dan oleh karena itu kami yang hanya band “lokal” kerap kali menjadi korban oleh perlakuan diskriminatif dari pihak vendor soundsystem ketika check sound, hahaha. Menurut kami, acara akan berjalan dengan baik ketika terwujud kerjasama yang baik antar semua pihak, salah satunya pihak talent dan pihak vendor soundsystem.

Kami datang kembali ke venue pada jam 8 malam ketika acara baru saja dimulai. Penampil pertama adalah The Moon, kesan pertama ketika melihat mereka membuat kami teringat pada band dengan lagu-lagunya yang sangat digandrungi kaum hawa di Pontianak, Coffternoon. Ya kedua band tersebut berkonsep hampir sama, hanya saja The Moon tanpa pemain biola. Setelahnya menyusul penampilan band Tiberias, band asal Pontianak ini memang sengaja ikut bersama kami berkeliling tur di sekitar Kalimantan Barat. Band terakhir sebelum kami tampil adalah V-five. Band asal Sintang yang berhasil membuat semua penonton ikut bernyanyi.

Giliran kami Wai Rejected. Membawakan delapan lagu di album Terbitlah Terang dan lagu Take Me Now yang merupakan permintaan langsung dari pemilik tempat. Dan semua penonton pun berhasil kami buat geram dengan penampilan kami. Kami tampil habis-habisan seolah besok akan kiamat. Tepuk tangan dan teriakan muncul di setiap jeda lagu. Kami berhasil membayar lunas semua jerih payah dan kerja keras di sini. Seolah mengalami orgasme, kami dan semua yang hadir sudah kehabisan energi untuk pulang ke peraduan masing-masing. Sambil memulihkan tenaga, kami bersalaman dengan semua teman yang telah membantu terwujudnya gig ini. Dan terakhir sekali kami semua berfoto tepat di depan pintu masuk Kece Café.




Ditulis oleh : Theo
Diedit oleh : Aldiman Sinaga
Foto oleh : WR Management