Saturday, September 2, 2017

ZINETUSIAS Singkawang 2017

Ada banyak kejutan ketika kita tidak meletakkan harapan apapun terhadap sesuatu.

Long weekend adalah incaran orang-orang yang hidup dalam rutinitas. Ada yang menyiapkan rencana secara khusus untuk menjalaninya, ada pula yang secara spontan mencetuskan ide tanpa rencana tersusun. Kedua hal tersebut saya lakukan sebelum menghadapi long weekend minggu ini. Menyusun sebuah rencana yang cukup spontan.

Zinetusias adalah sebuah kegiatan yang saya dan teman-teman gagas, khususnya teman-teman Singkawang. Dimulai dari beberapa obrolan santai dan pertanyaan sederhana mengenai Zine. Secara tiba-tiba saya menawarkan untuk melaksanakan kegiatan ini kepada teman-teman Singkawang. Selain itu liburan akhir pekan adalah tujuan berikutnya. Obrolan sederhana saya mulai bersama Adit(PUNDAK LUTUT KAKI LUTUT KAKI Zine-PLKLK Zine), sekedar brain storming berbagai hal mengenai konten acara. Sepengalaman saya dalam membuat sebuah acara tentang zine, se-detail apapun rencana yang kita buat, selalu bersiap-siap untuk sebuah kejutan pada saat pelaksanaannya. Koordinasi bersama teman-teman Singkawang pun segera dilakukan segera sesudah rencana konten acara selesai kami susun. Teman-teman Singkawang menyiapkan tempat, publikasi, dan beberapa persiapan lainnya. Hal terpenting dari kegiatan ini adalah, segala hal yang berkaitan dengan zine harus dibicarakan dengan konteks yang dekat dengan teman-teman Singkawang.

Saya dan teman-teman berangkat satu hari sebelum hari pelaksanaan. Seperti biasa jika memang punya waktu yang cukup, perjalanan ke Singkawanga harus memperhatikan kecukupan waktu untuk menikmati liburan. Momen sunset di tepian laut Sungai Duri dan juga segarnya aliran air sungai di Eria sudah cukup mewakilinya.

Persiapan acara kami lakukan juga cukup spontan hanya beberapa menit sebelum waktu yang telah ditentukan untuk memulai pelaksanaan acara. Merespon berbagai properti kotak kayu yang tersedia di lantai dua Kedai Sesama(tempat pelaksanaan acara) ditambah dengan beberapa hiasan sederhana. Kira-kira 30 menit setelah semua selesai kami susun, para pengunjung mulai berdatangan. Satu hal yang cukup membuat terkejut adalah, pengunjungnya lumayan banyak dan beragam. Semua yang datang langsung menunjukkan ketertarikannya, melihat-lihat lalu memilih zine yang ingin dibaca. Semua langsung larut kedalam petualangan visual bersama zine yang dilihat, sesekali diselingi dengan obrolan santai mengenai hal tersebut. Ruangan tempat acara diadakan cukup panas, tapi hingga satu jam lebih berlalu, semua masih betah duduk dan menikmati zine masing-masing. Sesuai dengan apa yang dijanjikan di flyer acara, memang akan diadakan sesi ngobrol-ngobrol santai. Akhirnya kira-kira jam 3 sore, sesi ngobrol pun dimulai. Demi kenyamanan suasana ngobrol, kami semua pindah kebawah, ke teras depan Kedai Sesama. Suasananya cukup nyaman, sore menghantar senja, dengan mentari berwarna jingga muda.

Obrolan dibuka oleh Pedok Yubie sang moderator. Saya melanjutkan bercerita mengenai latar belakang kegiatan ini, lalu sedikit pendapat pribadi mengenai zine dan juga konteks pembicaraan sore itu. Setelah itu obrolan mulai hangat ketika Bang Bujang buka suara. Bang Bujang juga membuat sebuah zine bernama REVOLVER. Ada banyak poin-poin menarik yang dipaparkan Bang Bujang berkaitan dengan zine maupun kegiatan tulis-menulis dan penerbitan mandiri. Salah satu yang menurut saya menarik adalah menentukan goalsetting yang jelas. Perencanaan mengenai zine seperti apa, bagaimana mengelolanya, bagaimana melaksanakannya, dan bahkan mau sampai berapa edisi kita buat. Kebebasan dalam membuat zine sebaik-baiknya adalah kebebasan yang memiliki tanggung jawab. Tidak hanya tanggung jawab terhadap isi, tapi kita juga punya tanggung jawab kepada pihak yang membaca zine kita. Walaupun tidak ada keharusan bagi sebuah zine untuk rutin terbit, tapi kehadiran zine kita tidak menutup kemungkinan berdampak positif bagi pembaca dan menjadi sesuatu yang akan terus ditunggu. Maka kita juga harus cukup serius dalam mengurusi isi dari zine yang kita buat. Menurutnya, hal yang seringkali luput adalah melakukan kutipan yang bertanggung jawab. Bang Bujang juga banyak sekali memberi contoh-contoh tema yang menarik untuk dijadikan konten sebuah zine, tema yang menarik dan memiliki dampak sosial yang baik bagi yang membaca.

Pengunjung lain juga turut memberi suara. Salah satunya adalah Kak Asta, seorang mahasiswa FKIP Singkawang yang mengusahakan banyak kegiatan yang memacu minat baca-tulis pelajar dan mahasiswa. Salah satu karyanya adalah buletin kumpulan tulisan pelajar SMA yang dicetak pada tahun 2011. Usaha menggerakkan semangat menulis ini pun mengalami hambatan karena minat dan semangat pelajar seringkali terbentur dengan ketidakmampuan menyeimbangkan dengan kesibukan dan kegiatan lain, hal yang sama juga terjadi di kampusnya. 

Obrolan masih terus bergulir. Adit dari PLKLK zine juga bercerita mengenai zine yang dibuat bersama temannya. Dimulai dari tujuan sederhana untuk mengisi waktu dengan kegiatan yang produktif. Awalnya koten dari zine yang dibuatnya sangat random. Belum memiliki konsep dan ciri-ciri yang khas. Akan tetapi hal tersebut bukanlah sebuah hambatan. Dalam perjalanan terbit beberapa edisi berikutnya, Adit bersama teman-temannya mulai mendapatkan konsep yang baik untuk zine nya. Mendapatkan konsep ini salah satunya adalah dengan berusaha mempertahankan beberapa rubrik yang harus menjadi rubrik tetap.

Bang Bujang kembali menambahkan variasi ide yang bisa dilakukan berkaitan dengan membuat zine. Tidak hanya sekedar variasi isi, tapi juga bisa berusaha kreatif untuk membuat variasi medium cetak zine. Zine tidak harus dicetak diatas kertas. Sangat-sangat mungkin untuk membuat zine yang dicetak di medium seperti kulit kayu, kaca, plastik, ubin, dll. Setidaknya variasi medium cetak ini sudah dilakukan Bang Bujang melalui zine nya yang dicetak diatas kertas pembungkus nasi.

Membuat zine memang pada dasarnya adalah sesuatu yang suka-suka. Tidak dimulai dengan tujuan yang terlalu heroik. Karena pada perkembangannya, tujuan suka-suka inilah yang menjadi penjaga semangat dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi tidak semestinya semangat bebas dan suka-suka itu justru menjadi sesuatu yang memapankan kreasi ide dan cara berpikir. Alangkah lebih baik untuk memikirkan usaha yang dapat membuat produksi zine berkesinambungan. Bantuan dan kerjasama baik dalam hal ide maupun finansial tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan.

















No comments:

Post a Comment