Sunday, December 9, 2012

Tulisan ini diposting kembali disini...plus bonusnya




Net Label membawaku melihat kepada banyak alternative, dan kemungkinan akan masih lebih banyak lagi alternative lainnya + Bonus review :D
Sebagai seorang anak remaja, tentu juga sebagai seorang manusia biasa, aku selalu berada pada titik dimana aku ada ditengah – tengah antara keraguan, keingintahuan, ketakutan, kebingungan, dan lain – lain. Disitu ketika aku sudah mengenal sesuatu, lalu kemudian ingin berbuat sesuatu lagi, tapi tidak terlalu banyak referensi yang aku tahu. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita punya kecenderungan mencontoh, entahlah masih ada atau tidak orignalitas itu(dan aku pun tidak terlalu perduli). Bersuara memang sesuatu yang natural pada diri kita sebagai manusia, tapi untuk berbicara tentu itu adalah ketika kita sudah pernah melihat orang lain berbicara. Aku mulai bisa menulis, karena guruku menuliskan huruf di papan tulis dan akupun mengikutinya.

Netlabel adalah sebuah petualangan yang menarik dalam hidupku dan hubungannya dengan kegiatan bermusik. Seingatku yang pertama kali aku kenal adalah IN MY ROOM RECORDS, dan rilisan pertama yang kudownload adalah FARR(sebuah proyek elektronik, ambient). Visiku mengenai musik elektronik mulai berkembang pada saat itu, awalnya aku hanya mengerti bahwa Goodnight Electric itu memainkan elektronik yang nge-disco sementara Homogenic itu yang gelap/suram(waktu itu kata “galau” belum laris). Dan mengenai IN MY ROOM RECORDS, yah aku langsung mengerti dan memahami semua hubungannya :
-          IN MY ROOM RECORDS => Di dalam kamarku rekaman

-          Musisi kamar => Musisi yang memproduksi(menciptakan,merekam,mendistribusikan) karya didalam kamar
-          Musisi kamar, memproduksi karya didalam kamar, itu mungkin saja karena keterbatasan biaya. Karena keterbatasan biaya pula tidak dirilis secara fisik. Karena tidak dirilis secara fisik, maka dari itu dirilis di internet, dalam kasus ini melalui media IN MY ROOM RECORDS.
Walaupun istilah netlabel belum aku dapatkan waktu itu, tapi dari sini aku sudah melihat sebuah alternatif baru. Mengakali keterbatasan sumber daya agar tidak menghambat kreatifitas dan produktifitas.
Folder FARR itu pun langsung aku dengarkan kepada seorang temanku, begitu juga aku ceritakan mengenai IN MY ROOM RECORDS kepadanya. Pucuk di cinta ulam pun tiba, rupanya dia juga sedang menjalankan sebuah proyek pribadi yang berhubungan dengan musik. Dia adalah seorang keyboardist, dan aku akui dia mempunyai ide – ide brilian kalau berhubungan dengan penciptaan karya musik. Jadi ternyata dia lagi bikin – bikin lagu solo, isinya hanya instrumental dimana dia memainkan pianonya sendiri, gak ada pemain lain, hanya dia sendiri yang melakukan semuanya termasuk menciptakan lagu, membuat loop, mengisi sedikit vokal, dan memasukkan sampling.

Karena lagi terbawa semangat, aku langsung member saran kepadanya “Ya udah, dijadiin aja, dibikin rilisan, diproduksi, nanti dirilis via internet, aku coba masukin ke IN MY ROOM RECORDS itu”. Singkat cerita akhirnya dia telah menciptakan 5 lagu, dengan semangat aku membuatkan layout untuk artwork dan file cover/cd case nya, begitu juga aku kirimkan ke email submission nya IN MY ROOM RECORDS. Seingatku bukannya ditolak, email ku malah tidak berbalas. Tapi itu bukan akhir dari usaha. Alternatif baru yang sudah aku temukan semenjak pertama kali menemukan IN MY ROOM RECORDS membawaku pada cara berpikir yang lebih luas. Kenapa haru dirilisin mereka? Kenapa tidak kita upload saja sendiri, lalu kita sebarkan link nya.

Yap, file Rar berjudul IARK-TheSinner itu pun aku upload ke akun mediafire ku. Kusebarkan link nya, seingatku waktu itu masih zaman Friendster deh, juga tidak lupa aku kirimkan ke seorang teman yang memiliki blog(www.isubject.blogspot.com  / blog nya Ringgo editor Jalur Bebas zine). Dia memposting rilisan tersebut, dan juga memberi review. “Ah, ternyata bisa dilakukan sendiri, dan jaringan pertemanan bisa menjadi alat bantu yang cukup diandalkan”, begitu pikirku saat itu. Sementara temanku yang punya rilisan, si IARK itu, dia tidak berhenti sampai disini saja. Dengan kebulatan tekad dan semangat yang tinggi dia rilis sendiri versi CD dari rilisannya itu. Tidak dijual, tapi dititipkan dan dibagikan kepada beberapa orang secara gratis. Dan hal ini, pada saat itu, masih merupakan sebuah hal yang awam/aneh/jarang di kota ku. Berbagai macam pendapat datang dari teman – teman yang sudah mendengarkan IARK-The Sinner, baik yang mendapat versi fisiknya maupun yang mendownload nya.


Hingga kemudian aku bertemu dengan Yes No Wave. Pada saat itu baru aku tahu istilah Net Label. Selain itu ada banyak hal baru lainnya yang aku dapat setelah mengakses dan mendownload rilisan dari www.yesnowave.com, antara lain :
-          Net label ini pada dasarnya sama seperti record label. Mereka juga menyeleksi band/musisi yang akan dirilis, mereka juga punya penomoran pada tiap rilisan, mereka juga melakukan promo dan tentu saja distribusi.
-          Rupanya net label ataupun musik yang ada di situs file sharing tidak cuman berisi band/musisi yang belum terlalu dikenal/underrated, ternyata di Yes No Wave juga merilis White Shoes and The Couples Company, dan The Upstairs.
-          Ada loh yang namanya lisensi untuk karya yang dibagikan secara gratis, bernama Creative Common License.
-          Ada loh yang namanya gratis dan legal.
-          Net label yang notabene berada di dunia nyata, juga melakukan promo melalui dunia nyata, hehehehehe. Aku punya leaflet promo nya Yes No Wave.



-          Sama seperti record label, net label juga melakukan usaha sampingan untuk pendanaan kegiatan mereka, antara lain dengan menjual merchandise. Selain itu, net label juga terbuka untuk donasi.
-          Tidak hanya kegiatan upload dan download, net label juga melaksanakan kegiatan free sharing musik ini secara offline, antara lain melalui booth offline sharing di acara musik.

-          Ada loh yang namanya Lossless Audio Format. Jujur aku tertarik sekali dengan yang ini, tapi ukuran file nya keterlaluan gede nya, sementara waktu itu internet hanya aku dapatkan melalui rentarl warnet.

Lalu kemudian, ada banyak rilisan yang aku dapatkan melalui Yes No Wave dan juga saudara kandungnya Tseufela Records yang memberiku pengalaman dan pengetahuan baru mengenai musik. Antara lain rilisan dan band/musisi berikut ini : Nervous Breakdown-Nevergreen ; Coffin Cadillac – Off The Road & Nocturnal Madness ; Sungsang Lebam Telak – Sapuan Feses Waria Meledak ; Zoo – Trilogi Peradaban ; Delayed Desire – (aduh sori lupa nama albumnya,file nya begitu dicek juga udah gak ada di PC ku,tapi ini keren, wajib donlod) ; Frau – Starlit Carousel ; The Frankenstone – Don’t Be Sad Don’t Be Gloom The Frankenstone is Ugly. 

Tidak bisa kupungkiri, Yes No Wave adalah salah satu net label yang bagus kerjanya. Kebanyakan band/musisi yang dirilisnya adalah yang tidak mengecewakan; didalam setiap rilisannya selalu disertai dengan liner note yang cukup detail dan informatif; salah satu prinsipnya adalah “download lagu-lagunya secara gratis, kalau mau punya CD nya, bisa di print sendiri covernya & cd labelnya”, memang disetiap rilisan mereka selalu disertai dengan file yang berisi layout siap print dari rilisan tersebut; memberi hal – hal yang baru, antara lain mengenai lossless audio format, burn your idol, yes no single; XEROXED, lalu didalamnya ada Megamix Militia, aku susah ngejelasinnya cek sendiri deh melalui situsnya Yes No Wave; mereka juga punya gig rutin Yes No Klub.
Beberapa waktu kemudian, keberadaan netlabel di Indonesia berkembang. Hujan Rekords, Stone AgeRecords, Lemari Kota Records, Mindblasting, Pati Rasa Records(RIP), EARAlert Records. Tentu saja, masih ada banyak net label yang tidak aku kenal, dan mungkin saja mereka juga punya banyak hal – hal baru yang menarik dan juga berisi band – band yang menarik untuk disimak.
Semakin bertambah nya netlabel akhirnya membawaku  mengenal Internet Archive dengan lisensi Creative Common License. Awalnya aku tahu, tapi tidak begitu memahami (sampai sekarang juga masih begitu sih :D). Intinya melalui Internet Archive kita bisa membagikan karya kita seluas mungkin kepada halayak, untuk kemudian bisa digubah lagi ataupun di-distribusikan kembali dengan lisensi yang sama. Sekilas pikirku ini sih mirip aja dengan situs file sharing lainnya, dimana kita bisa mempunyai harddisk online, harddisk itu bisa bebas diakses bisa juga tidak. Memang sih menurutku inti dari Net Label itu bukan di memakai Internet Archive ataupun Creative Common License nya, tapi pada promo, publikasi, dan semua hal yang sejelas mungkin mengenai rilisan dan artist nya. Lebih lengkap nya silahkan kalian berkunjung ke situs www.primitifzine.net, mereka juga pernah membuat tulisan yang membahas Net Label. Namun aku jadi tertarik dengan Internet Archive semenjak aku baca interviewnya blog Noiseblast Records dengan Stone Age Records. Katanya si Stone Age Records, melalui Internet Archive, dokumen yang kita upload itu akan aman bertahan disana, tidak ada resiko terhapus, juga dengan lisensi Creative Common License file yang kita share itu akan lebih terjaga, dimana orang tidak bisa seenaknya saja menyalahgunakan file tersebut untuk hal – hal yang tidak semestinya.
Lagi – lagi pucuk di cinta ulam pun tiba, kebetulan sekali beberapa saat sebelumnya aku sedang terkena “musibah”. Betapa aku menyadari pendokumentasian yang aku lakukan juga orang – orang di sekelilingku lakukan sangatlah lemah, dalam hal ini pendokumentasian segala hal yang berhubungan dengan scene hc punk/underground di kotaku. Penyesalan itu baru terjadi ketika aku menyadari, bahwa beberapa zine lawas terbitan teman dari kotaku, juga beberapa rilisan lawas sudah entah kemana barang nya. Hilang dan tidak dapat diselamatkan, itu adalah dua kenyataan yang terlalu mengerikan yang harus aku terima. Sebenarnya mengenai hilang, kadang – kadang juga seuatu hal yang wajar, hilang bisa juga terjadi karena bencana, bencana yang tidak dapat diduga – duga kapan datangnya. Maka dari itu lantas aku hubungkan dengan Internet Archive, seandainya dokumentasi ini dapat diamankan di dua tempat dalam dua wujud, tentu jika suatu saat terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, maka masih ada peluang untuk menyelamatkan dokumentasi tersebut. Bukankah dengan adanya format digital, berarti itu adalah duplikasi dari format fisik, dimana format digital itu bisa diubah lagi ke dalam format fisik, aku piker begitu. Maka aku putuskan untuk melaksanakan sebuah proyek penyelamatan dokumentasi perjalanan scene underground kotaku ini. Misinya simpel, mengumpulkan file dokumentasi, baik itu berupa zine, foto – foto, video, flyer, dll, mengubahnya jadi format digital lalu mengupload nya ke Internet Archive. Kemudian melalui media blog(blogspot.com) file – file tersebut aku publikasikan, dan aku susun menurut kategori nya masing – masing. Misi kedepannya adalah, suatu saat tentu saja akan ada yang bertanya – tanya mengenai masa lalu, mengenai awal dari semua yang telah terjadi sampai sekarang ini, maka aku berharap projek ku ini bisa menjadi jawaban atau minimal membantu, tidak menutup kemungkinan juga melalui semua file yang telah tersimpan, bisa dilakukan proses kreasi lebih lanjut, mungkin saja remix, rilis ulang, riset/penelitian, ataupun projek documenter(film/buku). Biarlah masa depan yang menjawabnya, yang jelas menurutku masa lalu yang takkan bisa terulang tak boleh lekang oleh zaman. Ohh, alam semesta memberkatimu wahai Net Label.

*Bonus :


    



  Mungkin bisa jadi ini salah satu proyek paling tidak beradab dan tak bermoral untuk tahun ini, hahahahahaha, berlebihan mungkin. Kompilasi ini punya ide yang cukup boleh – bolehlah, mengumpulkan lagu – lagu yang berdurasi kurang dari 11 detik. Sebenarnya ini bukan hal yang aneh sih, lagu pendek itu sudah banyak kok. Tapi untuk mengumpulkannya dan merilisnya(kompilasi ini juga dirilis dalam format kaset), ini merupakan sebuah tindakan yang mulia. Melalui album kompilasi ini, mereka menunjukkan cara “bermain – main” yang menyenangkan dalam keterbatasan, hehehehehe. Bagaimana sebuah kreasi itu bisa dihasilkan didalam tempo yang sangat singkat. Mungkin jika kita berpikir menyepelekan, tentulah, kita cuman bisa ngasi komentar pesimis “halaaah, tinggal teriak Woaaa doang kan, beres deh jadi”. Tapi kenyataannya hal ini juga tidak dilakukan oleh banyak orang toh? Dan kenyataan lainnya di dalam album kompilasi ini, tidak hanya berisikan band grindcore/powerviolence/thrashcore yang memang sudah terkenal dengan lagu pendek nya itu. Lagu akustik juga ada kok disini, band pop punk juga menyumbangkan karya 11 detik haramnya didalam album kompilasi ini. Keragaman musik yang bisa kita dengar di album kompilasi ini, menunjukkan bahwa batasan – batasan itu sebenarnya bisa kita lewati. Jangan pernah menganggap sepele pada eksplorasi kreatifitas, seperti judul kompilasi nya Yes No Wave yaitu Music Beyond No Border. Kompilasi ini secara digital dirilis bareng oleh Mind Blasting, Pati Rasa, Lemari Kota, dan Stone Age Records.













Masih kurang puas dengan lagu yang durasinya dibawah 11 detik? Oke, sekarang kita punya durasi dibawah satu menit (lebih tepatnya 39 detik), tapi ini untuk satu album!!! Hahahahaha, emang ada ada aja deh, hehehehehehehe. Entahlah aku udah gak bisa ngomong apa – apa lagi untuk yang ini, kalian dengar sendiri aja yah. Tapi salah satu hal positif yang bisa kalian dapatkan melalui rilisan ini adalah, lagu – lagunya bisa kalian manfaatkan untuk sound effect kerjaan digital kalian, bisa untuk lagu, video, ataupun presentasi. Oiyah, rilisan ini dirilis oleh Net Label yang masih merah, Ear Alert Records.


*Tulisan ini adalah submission Aldiman Sinaga untuk Indonesian Net Audio Zine. Tulisan nya diposting kembali di blog ini, dalam versi lebih rame :) Oiyah, kalian bisa order copy dari Indonesian Net Audio zine dari PTK Distribution, silahkan hubungi 085652348339

No comments:

Post a Comment