Thursday, April 25, 2019

RECORD STORE DAY PONTIANAK 2019 SEGERA DATANG!



“Apakah kegiatan ini masih relevan untuk diselenggarakan?”, pertanyaan tersebut yang menjadi pembuka ketika kami mulai membahas Record Store Day Pontianak(RSD PTK) 2019 ini. Sejak awal RSD PTK memang hanya mengambil euforia penyelenggaraan Record Store Day yang mendunia, tapi kami membawa misi dan konten – konten yang sesuai dengan situasi di komunitas musik lokal Pontianak khususnya ataupun Kalimantan Barat pada umumnya. 
Lima tahun sudah berlalu, RSD PTK menjadi saksi atas dinamika perjalanan komunitas musik di Pontianak-Kalimantan Barat khususnya dalam konteks produktivitas rilisan fisik. Ada masa dimana muncul band – band yang keren dengan CD Demo/EP pertama yang jadi rilisan penting dalam daftar rilisan band Pontianak, ada masa juga dimana RSD PTK hampir saja tidak terselenggara karena berbagai kendala teknis.
Akhirnya kami memutuskan untuk hadir kembali di 2019 ini. Mungkin tidak banyak hal yang baru, mungkin juga tidak. Kami sangat butuh evaluasi, kritik, masukan dari teman – teman semua, kita bisa lakukan itu nanti pada sesi ngobrol mengenai dampak RSD khususnya RSD PTK. 

Album kompilasi juga akan menjadi tradisi yang berusaha kami jaga terus. Tahun ini volume kedua dari Album Kompilasi RSD PTK akan rilis dengan beberapa nama baru. 

Penjual rilisan fisik yang akan hadir sebagai pelapak juga tidak jauh berbeda dengan yang sudah pernah ada di RSD PTK tahun – tahun sebelumnya.

Lalu apa yang membuat kalian harus datang kembali pada RSD PTK di tahun 2019 ini? Mengingat pernyataan salah satu teman kami, bahwa event ini harus tetap ada sebagai bentuk perayaan dan pembuktian bahwa masih ada orang – orang yang memiliki kecintaan pada rilisan fisik dan juga band – band yang terus yakin untuk produktif menghasilkan rilisan fisik ditengah segala kemudahan untuk mengunggah karya lagu ke YouTube, Bandcamp, maupun Spotify.

Apakah kalian semua mau menjadi bagian dari perayaan dan pembuktian tersebut? Mari datang dan menjadi bagian dari Record Store Day Pontianak 2019 yang akan diselenggarakan pada Minggu, 28 April 2019 di Fuzz Cafe Pontianak.

Record Store Day Pontianak 2019
Fuzz Cafe Pontianak - Minggu, 28 April 2019
Mulai jam 2 siang

Pelapak :
Numerique Store
PTK Distribution
Kimi
Aneka koleksi Pontianak
Gator Merch
Bersandar Store
Fak.im 2nd 
Official booth RSD PTK
Sindikat Milenial official merchandise
Akashic Vinyl
Gutsvck.merch
Record Store Day Pontianak 2019 Special Release :
Manjakani – Asmaraweda | Sabda Rindu
Rubah Di Selatan – Anthera
FrontxSide – Self Titled
Tiberias – Live Studio Session
Bdq Penikmat Feedback NoisexHannngs - 2 Ways Of Shit Sounds

Penampilan band :
TIBERIAS
BLOODSTONE
MANANGKATA
JUSTMINE
INFECTED
JHON.S


Friday, March 15, 2019

Band Kalimantan Barat Turut BERSAMA BERSUARA Menolak RUU Permusikan


Mulai dari kualitas audio paling mumpuni sampai ke pejuang suara – suara lo-fi, mulai dari para nama besar di festival musik sampai ke pasukan pemburu studio gigs. Begitulah album kompilasi BERSAMA BERSUARA menjadi sebuah gebrakan baru dalam sejarah dunia musik Indonesia. Dirilis pada 13 Maret 2019 sebagai subdivisi kerja dari KNTLRUUP yang digerakkan secara sukarela untuk melantangkan tujuan mengawal dibatalkannya RUU Permusikan. Album kompilasi ini dipublikasikan dengan bebas unduh/bebas streaming dan bersifat non profit menggunakan platform Bandcamp. Diorganisir secara DIY dan kolektif melibatkan pelaku komunitas musik lokal di seluruh Indonesia sebagai simpul jejaring yang mensosialisasikan dan mengajak rekan-rekan pemusik di kotanya untuk terlibat secara aktif dan partisipatoris. Teman – teman perwakilan lintas kota itu antara lain berasal dari Makassar, Padang, Salatiga, Sungguminasa, Manado, Aceh, Pekanbaru, Medan, Yogyakarta, Palopo, Pekalongan, Palangka Raya, Bandung, Bogor, Pontianak, Ambarawa, Jambi, Medan, Semarang, Jakarta, Garut, Solo, Sintang, Pematang Siantar, Batang, Malang, Kendal, Kudus, Pangkalan Brandan, Binjai, Bandar Lampung, Banjarmasin, Tanjung Pinang, Palembang, Sanggau, Boyolali, Singkawang, Sukabumi, Bali, dan Olympia (US). Sesuatu yang belum pernah kami temukan sebelumnya partisipasi secara setara seluruh Indonesia tanpa perduli kota besar maupun kota kecil, band nasional maupun band kecamatan, dan tentu tanpa perduli genre musik.

Bekerjasama dan berbicara dengan karya, merebut peran, dan menyatukan suara untuk memperkuat jejaring nasional dari gerakan pendesak pembatalan Rancangan Undang-Undang Permusikan. Album kompilasi BERSAMA BERSUARA direncanakan akan berkelanjutan berseri dengan lebih dari 100 partisipan grup/solo/duo dalam tiap volume yang dirilis mengikuti rentak irama pengawalan proses pembatalan RUU Permusikan sampai dicabut dari Prolegnas di Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.










Band – band yang berasal dari Kalimantan Barat juga turut berpartisipasi untuk bersama bersuara dalam album kompilasi ini. Mereka ada yang berasal dari Pontianak (LAS!, Merah Jingga, ROTA), Singkawang (Huru Hara), Sanggau (Sound Sampah, Booster, Korban Mutilasi, Bocor 13), dan Sintang (SNUFFNOKIA). Masing – masing band memberikan satu buah lagu karya asli mereka sendiri dan juga turut bersuara memberikan pernyataan mengapa sangat penting untuk menolak dan mendesak pembatalan RUU Permusikan ini.

Berbagai pendapat disampaikan, ada yang bernada kemarahan, ada yang penuh dengan kekesalan, ada pula yang mengaitkannya dengan penindasan dan eksploitasi yang lebih besar lagi. Segala suara tak ada yang sia – sia, segala tenaga yang telah tercurahkan tak ada yang tak berguna. Teman – teman yang turut memberikan partisipasi dalam album kompilasi ini sudah membuktikan betapa kuatnya musik sebagai alat pemersatu. Perubahan mungkin tidak akan terjadi secepat membalikkan telapak tangan, tapi album kompilasi BERSAMA BERSUARA ini adalah sebuah usaha yang kuat dan menyenangkan untuk terus mendesak pembatalan RUU Permusikan. Lebih dari itu, mulai dari sekarang pun sudah saatnya kita sadar bahwa kendali dan penentu hidup kita bukan di ujung pena penguasa, tapi pada kesadaran dan kekuatan kita bersama.



*Album kompilasi BERSAMA BERSUARA akan terus dirilis secara berkala (dengan jumlah sekitar 100 partisipan pada setiap volume-nya) sampai misi pembatalan RUU Permusikan berhasil. Pantau terus infonya di twitter @kntlruup ataupun website https://tolakruupermusikan.com/

Thursday, March 14, 2019

BERMUSIK ASIK TANPA DIUSIK RUU PERMUSIKAN


Design oleh : Dana

Bermusik sejatinya harus asik jangan diusik. Begitulah yang terjadi pada hari Jumat(8 Maret) kemarin dalam acara Bermusik Asik Tanpa Diusik RUU Permusikan yang diselenggarakan oleh Kongsi Musik Pontianak. Acara ini diadakan di halaman samping Djagad Karja, sebuah space yang berisi sanggar seni, studio rehearsal dan recording, toko clothing, dan juga warung makanan dan minuman. Acara ini diadakan sebagai tindak lanjut dari sesi ngobrol santai dua hari sebelumnya oleh teman – teman Pontianak yang membahas mengenai isu RUU Permusikan dari sudut pandang masing – masing. Diujung obrolan mereka sepakat untuk berusaha menyuarakan isu ini dengan berbagai cara yang sederhana mulai dari kepada komunitas musik di Pontianak bahkan jika memungkinkan sampai kepada masyarakat yang lebih luas. Sebagai usaha paling pertama maka acara ini diadakan. Dengan rencana yang mendadak dan waktu persiapan yang sedikit, teman – teman dengan segera membagi kerja untuk memastikan acara ini dapat diselenggarakan. Akhirnya publikasi pun terbit H-1 dengan memanfaatkan segala platform digital yang bisa membantu penyebaran informasi dengan cepat, seperti What’sApp, Instagram, Twitter, dan Facebook.

 



Foto oleh : Harian

Tantangan utama dalam penyelenggaraan acara ini adalah cuaca yang tidak menentu di Pontianak, karena acara ini diadakan di tempat terbuka. Segala sesuatunya terlihat begitu cerah dan berbahagia pada sore hari ketika teman – teman sedang melakukan persiapan teknis untuk penyelenggaraan acara. Namun hujan dengan skala kecil menuju sedang akhirnya turun beberapa saat setelah seluruh alat musik tersusun dan siap dibunyikan. Terpaksa semua harus diamankan ke tempat teduh, sementara diatas panggung diberi pengaman terpal untuk melindungi dari hujan. Akhirnya acara dimulai dengan penampilan dari band folk kearifan lokal dengan semangat perjuangan, Merah Jingga. Band ini melalui akun Instagram dan juga blog mereka sudah bersuara mengenai berbagai isu sosial dan lingkungan, termasuk penolakannya terhadap RUU Permusikan. “Layaknya sampah, maka harus dibuang ketempat sampah, bukan untuk dikonsumsi. Jika memaksakan diri memakan sampah, maka hanya akan menggerogoti tubuhmu kedalam sebuah atau banyak penyakit yang dihasilkan”, begitu pendapat mereka dalam postingan blog yang secara khusus menjadi sikap mereka atas RUU Permusikan.

 

 

 
Foto oleh : Harian

Mandau sebagai penampil berikutnya tetap memberikan performa yang tajam layaknya ujung mata mandau yang siap terhadap konsekuensi darah atas setiap perjuangan melawan ketidakadilan. Deden sang vokalis adalah seorang seniman yang juga berkecimpung dalam seni visual selain bermain musik. Dengan adanya ancaman pengekangan yang sudah nampak melalui RUU Permusikan, bukan hal yang mustahil ancaman yang sama akan terjadi pada lini kesenian yang lainnnya.

Tak lama kemudian intensitas tetesan air hujan meningkat, pengunjung yang tadinya duduk – duduk santai mesra di beberapa kursiyang tersedia di halaman terpaksa harus menepi mencari atap tempat berteduh. Beruntung sekali persiapan pengamanan panggung dan alat musik sudah dilakukan oleh teman – teman penyelenggara. Ditengah – tengah berjalannya acara Ilham selaku MC sempat memantik agar terjadi diskusi dua arah dengan pengunjung yang hadir, namun situasi hujan membatasi. Tama selaku manajer Merah Jingga yang juga kerap kali aktif dalam beberapa aktivitas pergerakan bersama organisasi diluar musik sempat naik ke panggung memberikan beberapa pernyataan mengapa penting untuk menolak RUU Permusikan.

 

 

 
Foto oleh : Harian

Rifqi Lutfian tampil melengkapi suasana malam yang semakin romantis dibawah rintik hujan gerimis. Penyanyi solo akustik ini sudah lama tak terlihat di panggung – panggung musik di Pontianak. Diujung penampilannya, Rifqi sempat menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada urusan pada genre musik dalam menolak RUU Permusikan bahkan dirinya sendiri pun yang membawakan musik pop dan lirik yang cenderung aman tak lepas dari ancaman diskriminasi melalui keharusan sertifikasi yang tertuang dalam draft RUU Permusikan. Penampilan berikutnya adalah dari gerombolan MC yang tergabung dalam kolektif WCB RAP. Joe Da Flash, Otweezta, dan MC Taik Palat kembali memanaskan malam itu dengan rapalan kata – kata. Kolektif WCB RAP sendiri sangat aktif dalam berkarya, sejauh ini memanfaatkan media digital seperti YouTube untuk mendistribusikan karya mereka baik secara kolektif maupun dari masing – masing MC. Penampilan penutup adalah kolaborasi yang kontemporer dari MU7AN. Tampil dengan alat musik yang dibuat sendiri, memadukan alat musik tradisional dayak Sape’ sebagai alat petik dan gesek dengan alat musik tiup dayak Keledi. Dengan bantuan efek looper dan dilengkapi dengan pembacaan mantra menghasilkan suasana yang cukup mencekam. Davy sang pembaca mantra menyatakan ketidaksetujuannya terhadap RUU Permusikan karna musik tidak bisa dipaksakan untuk satu tafsir/interpretasi. Maka sejatinya tidak boleh seorang musisi merasa tidak senang jika ada yang mengkritik ataupun menyatakan tidak suka terhadap karya yang sudah dibuatnya.

Foto oleh : Harian

Seperti yang sudah disebutkan diawal bahwa tujuan dari acara ini adalah untuk terus berupaya menyuarakan isu pembatalan RUU Permusikan. Maka acara ini bisa dibilang tercapai misi nya namun belum cukup. Pernyataan – pernyataan ketidaksetujuan yang telah disampaikan dari atas panggung tentu sudah tercapai sebagai upaya untuk terus menghangatkan obrolan mengenai kebebasan berekspresi dan ancaman terhadapnya diantara teman – teman pelaku dan penikmat musik. Namun perlu ada upaya – upaya lanjutan, kalau perlu bersama pelaku dari lintas bidang kesenian lainnya, untuk membuat usaha – usaha lain yang lebih variatif dalam menyuarakan isu ini. Mungkin bersama teman – teman seniman visual, videografer, ataupun penulis. Semua harus bersama – sama berbuat dan bersuara, karena ini bukan hanya ancaman untuk para musisi saja, tapi juga kebebasan berekspresi dan berpendapat bagi kita semua.



Thursday, March 7, 2019

CERITE BUDA' BALEK KAMPONG LALU SHARING MANAJERIAL BAND

Anom Sugiswoto(Anom) buda asli tembunik Pontianak. Untuk penikmat musik skala nasional mungkin mengetahuinya sebagai seorang manajer band Shaggy Dog/Dubyouth ataupun penggerak We Need More Stage/We Are The Fans. Untuk jemaat hardcore punk mungkin juga mengenalinya sebagai yang aktif di scene YKHC dan sebagai tukang teriak di band hardcore First Time. Sebagai apapun kalian mengenal Anom, dia adalah sosok yang aktif, supel, berdedikasi, dan tentu saja mau terus belajar. Dan untuk tujuan berbagi dan sama - sama belajar itulah maka pada Senin, 4 Maret 2019 diadakan sharing session bersama Anom yang juga kebetulan sedang balek kampong. Kegiatan ini dilaksanakan di Kedai Bawah dan diinisiasi oleh Atas Bawah Ltd.


Sesi sharing berlangsung dengan sangat santai dimana Anom sendiri pun menekankan bahwa apa yang dibagikannya adalah segala sesuatu yang didapatkan dari pengalaman yang masih sedikit. Tampak hadir teman - teman manajer band Pontianak, personil band, dan juga teman - teman lain yang selalu memiliki ketertarikan pada musik di Pontianak. Anom membuka pembicaraan dengan bercerita bagaimana sejarah masa lalu bersama teman - teman di Pontianak saat itu, hijrah ke Yogyakarta untuk tujuan main skateboard, masuk kuliah, lalu hingga terlibat dalam Kongsi Jahat Syndicate. Anom juga memiliki ketertarikan pada fotografi, sesuatu yang didapatnya dari mata kuliah fotografi dasar di kampus. Berkat perkenalannya dengan Gufi, minatnya pada fotografi itu tersalurkan sebagai fotografer gigs khususnya saat itu gigs - gigs yang diorganisir oleh Kongsi Jahat Syndicate. Ketertarikannya pada fotografi ini membawanya pada sebuah movement pengarsipan fotografi. Aksi nyata dari movement tersebut adalah platform pengarsipan foto bernama WE NEED MORE STAGE dan WE ARE THE FANS.

Aktivitasnya di komunitas musik Yogyakarta itulah yang rupanya turut membawanya masuk kedalam tubuh manajemen Shaggy Dog. Awalnya pun memang masih sebatas aktivitas yang terkait dengan fotografi, namun mungkin karena kesungguhan dan tanggung jawab yang baik Anom akhirnya merambah pada pekerjaan - pekerjaan lainnya. Rasa was - was diakui Anom sering muncul ketika menghadapi kenyataan banyak pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Yang jelas semua itu membawa pengalaman yang berharga buat Anom sendiri. Selanjutnya Anom menjabarkan secara rinci dari hulu ke hilir mengenai manajerial band sesuai kapasitas dan pengalaman yang dia punya di Shaggy Dog. Personal manager, bussiness manager, road manager, head crew, chief crew, crew, sound operator, dokumentasi semua itu adalah jabatan - jabatan standar yang diperlukan oleh band baik dalam lingkup kegiatan tata kelola dan pengembangan maupun untuk urusan manggung dan tur. Anom juga berbagi bahwa seorang manager juga perlu memiliki kebijaksanaan jika band yang diurusi adalah band yang berbasis komunitas. Tentu saja bahaya ketersinggungan karena ada gap itu ada. Manager perlu memiliki komunikasi yang baik dengan para personil band, karena biasanya dan seharusnya personil band adalah yang paling memahami medan yang dihadapi. Teman - teman Pontianak yang hadir juga turut berbagi dan bertanya satu sama lain dalam diskusi kemarin. Contohnya Arbian yang menceritakan pengalaman manajerial bersama Manjakani. Manjakani walaupun sistem kerja dengan jumlah orang yang lebih sedikit cenderung lebih ringkas, tapi perlu memiliki effort yang lebih untuk mempertahankan nilai tawar band demi tercapainya misi - misi band yang sudah ditentukan.



Diskusi terus berlanjut bahkan hingga mendekati tengah malam. Teman - teman yang lain juga terus berdatangan sekedar untuk bertemu dengan Anom. Ada banyak reuni di malam itu. Diskusi pun terus menghangat ketika teman - teman saling bertanya jawab mengenai pengalaman - pengalaman mengenai kendala teknis di lapangan. Seperti Ridho dari Balaan Tumaan yang bercerita mengenai kendala dihadapi ketika harus mengedepankan kualitas yang ingin dicapai walaupun seringkali pihak penyelenggara acara tidak menyanggupi. Yudi sebagai operator sound Manjakani dan beberapa band lainnya di Pontianak juga menyayangkan koordinasi yang sulit dibangun lancar antara talent dan event organizer. Menurut Anom, walaupun satu kasus tidak bisa disamakan dengan band lainnya, tapi memang perlu bagi band untuk memiliki ketetapan dan kekuatan mengenai apa nilai dan kualitas yang akan mereka tampilkan sebagai nilai tawar kepada pihak penyelenggara acara. Jika memang masih ditemukan kebuntuan, perlu proses penyesuaian kembali ataupun taktik lainnya agar tidak ada yang dirugikan.

Pertemuan malam itu akhirnya ditutup setelah kepulan asap rokok didalam ruangan pun tak mampu memberikan solusi yang paling tepat. Yang pasti kegiatan diskusi seperti ini adalah jalan yang baik sebagai salah satu cara untuk membentuk hubungan yang cair antar pihak maupun tongkrongan didalam komunitas musik. "Intinya adalah Semua Bisa Diobrolkan", celetuk Anom dengan logat melayu Pontianak yang kental.

   
Foto oleh : Atas Bawah Ltd



Catatan sederhana dari Ngobrol Santai RUU Permusikan di Pontianak

Selamat pagi menuju siang teman2....hasil obrolan santai mengenai RUU Permusikan di Parklife, 6 Maret 2019 kemarin, dihadiri oleh delapan orang.
Teman2 yang hadir bersuara sama dalam posisi tidak sejalan/menolak dengan RUU permusikan ini.
Berbagai pendapat dikemukakan teman – teman yang hadir, antara lain :
1.    Banyak pergerakan teman – teman komunitas musik/kesenian sesungguhnya sudah sangat berjalan baik dengan pola kerja berbasis kemandirian. Menurut pengalaman beberapa teman – teman memang ada saja beberapa kali kolaborasi ataupun turut campur tangan pemerintah dalam pergerakan teman – teman komunitas musik/kesenian, tapi pola nya selalu sama, intervensi/campur tangan/”bantuan” pemerintah datang setelah semua yang dilakukan komunitas musik/kesenian sudah berjalan baik secara mandiri.
2.    Memang betul, tanpa RUU Permusikan pun banyak yang dilakukan teman – teman komunitas musik/kesenian sudah mendapatkan tekanan yang negatif dalam bentuk pelarangan misalnya oleh pemerintah melalui instrumen mereka Polisi maupun Satpol PP(aparat). Sebagai contoh acara musik mandiri yang dibuat oleh teman – teman komunitas musik metal/hardcore/punk yang dikelola secara kolektifan. Intervensi aparat hadir dalam bentuk pelarangan misalnya. Atau intervensi lainnya hadir dalam bentuk keharusan mengurus izin keramaian ataupun proses pengurusan izin keramaian yang diperumit. Padahal seringkali jumlah orang yang hadir di acara musik tersebut dibawah 100 orang. Memang betul, teman – teman yang sudah menjalankan kegiatan bermusik secara underground/DIY selama ini tidak pernah terpengaruh dan ambil pusing dengan birokrasi/aparat/pemerintah. Mau seperti apapun pengekangan ataupun larangan dari mereka, teman – teman di komunitas akan tetap aktif bergerak. Tapi satu hal yang perlu diingat jika selama ini pengekangan dan pelarangan oleh mereka itu dilakukan dengan serampangan, maka jika RUU Permusikan sampai disahkan aparat/pemerintah punya legitimasi yang sah dan lebih kuat untuk melakukan pengekangan tersebut.
3.    Sesungguhnya ekosistem musik itu berjalan dengan alamiah. Kita bisa lihat segala perubahan terjadi sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan dari analog ke digital adalah salah satu contohnya. Perubahan ini jika kita mau lihat sesungguhnya justru sudah menghancurkan industri pembajakan itu sendiri. Maka alasan – alasan melawan pembajakan misalnya tidak tepat untuk membuat sebuah peraturan yang isinya justru mengekang kebebasan berekspresi para musisi/seniman.
4.    Standarisasi yang tidak jelas dalam banyak pembatasan – pembatasan yang dibuat dalam RUU Permusikan akan menjadi masalah kedepannya.
5.    Pembatasan – pembatasan yang dibuat oleh RUU Permusikan adalah usaha untuk mematikan teman – teman komunitas musik yang selama ini sudah berkegiatan dengan pola kerja kolektif. Teman – teman komunitas dengan pola kerja kolektif melakukan kegiatannya dari bawah dan dengan spontanitas. Hal ini tidak menjadi masalah dan pola seperti ini juga dilakukan oleh masyarakat bangsa kita, misalnya acara musik ditengah pemukiman warga dalam bentuk pentas dangdut, lomba karoke, maupun disko darurat di depan gang.
6.    Isu RUU Permusikan ini belum terlalu luas gaungnya terlebih lagi belum terlalu dianggap serius oleh beberapa teman dalam lingkar musik/kesenian terlebih lagi oleh masyarakat umum.
7.    Kita perlu mengapresiasi dan terus mendukung kerja kawan – kawan di Komisi Nasional Tolak RUU Permusikan(KNTL RUUP) dengan berbagai macam cara dan sesuai bagian kita.

Setelah melalui mengemukakan pendapat masing – masing dan sesi diskusi santai berjalan dengan baik, teman – teman menyepakati untuk melakukan beberapa usaha sederhana :
1.    Perlu usaha spontanitas dari teman – teman untuk membawa isu ini menjadi konsumsi publik yang lebih luas. Sederhananya jika memang isu ini berbicara mengenai musik, maka perlu disuarakan juga melalui media musik. Aksi – aksi sederhana bisa dilakukan misalnya dengan panggung musik sederhana di ruang publik, Taman Untan dan Car free day misalnya. Atau melakukan acara musik kecil-kecilan di lingkar masing – masing sebagai media berkumpul dan saling ngobrol mengenai isu ini, bisa panggung musik di cafe ataupun Studio Gigs misalnya.
2.    Yang pasti apapun aksi melalui media musik tersebut, teman – teman perlu melakukan pendokumentasian agar aksi tersebut bisa dikabarkan kepada teman – teman lain diluar sana yang mungkin sedang/akan melakukan aksi serupa. Fitur – fitur sosial media kekinian seperti live broadcast bisa menjadi pilihan yang baik.
3.    Teman – teman lintas disiplin kesenian lainnya juga perlu aware dan beraksi dalam menyikapi isu RUU Permusikan ini. Karena misi pengekangan kebebasan berekspresi yang dibawanya sesungguhnya juga akan berdampak kepada teman – teman lintas disiplin seni lainnya.
4.    Melalui diskusi kemarin terlintas ide untuk melibatkan teman – teman seniman visual misalnya dengan membuat artwork/mural/grafitty/tag yang membawa isu penolakan RUU Permusikan. Atau opsi lain sekaligus sebagai upaya membawa isu ini ke publik adalah dengan membuat sebuah template Tolak RUU Permusikan yang bisa diunduh gratis, diedit, dan dipakai oleh siapapun untuk menyuarakan aspirasinya mengapa harus Tolak RUU Permusikan.

Sekian notulen sederhana ini dibuat dengan harapan bisa dibaca oleh teman – teman seluas – luasnya. Lebih dari itu, semoga melalui notulen ini bisa memantik usaha – usaha sederhana dengan semangat kemandirian sebesar – besarnya oleh teman – teman komunitas musik/kesenian/masyarakat umum dimanapun berada.

Salam hangat,
PTK Distribution